BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Mau Lanjut Atau Tidak?


__ADS_3

"Assalamu'alaikum," Riska pulang dari kampus dan langsung menuju toko.


Rasya memang tidak menjemput dia tadi karena laki-laki itu mengunjungi salah satu cabang tokonya yang bertepatan dengan jam pulang istrinya jadi tidak bisa menjemput dan juga jarak kampus dan toko juga dekat bisa ditempuh dengan perjalanan kaki.


"Wa'alaikumsalam, maaf ya sayang tadi abang ada kunjungan ke toko," Rasya merasa menyesal tidak bisa menjemput istrinya itu padahal bukanlah suatu yang besar hanya lelaki posesif itu saja yang tidak mengizinkan istrinya pulang sendiri.


Memang seperti itu sebagai bentuk ungkapan rasa cintanya kepada sang istri dan tidak ingin istrinya pergi kemana-mana sendirian dan ini selalu berada dalam pantauannya.


"Nggak apa suami ku tersayang, lagian ini juga dekat," Riska tidak masalah sama sekali bahkan dia senang karena bisa pulang bersama teman-temannya walaupun dia juga tidak marah jika dijemput setiap hari oleh suaminya.


Tetapi sebagai remaja yang baru beranjak menuju dewasa pasti menginginkan jalan bersama teman-temannya untuk sekedar menghabiskan waktu bersama namun adik dari Raka itu tidak keberatan sama sekali jika dijemput oleh sang suami.


Walaupun kadang sesekali dia pulang sendiri maka dia sudah senang sekali bisa jalan bersama teman-temannya walaupun hanya sampai halte atau gerbang ke kampus saja.


"Tadi ada barang baru masuk dan harus di cek biar nggak ada kesalahan," bukannya tidak mempercayai karyawannya yang di sana tetapi kebetulan tadi Rasya juga bertemu dengan pemilik supplier pakaian yang di tempat biasa dia mengambil.


Dan juga jika sang istri tidak berkuliah mungkin dia akan mengajak daripada meninggalkan yang membuat dia risau padahal istrinya itu baik-baik saja.


"Ih suamiku, aku udah besar sesekali pulang sendiri ngga apa kok, ok," Riska meyakinkan suaminya jika dia baik-baik saja pulang sendiri dan tidak lupa melakukan kecupan hangat di permukaan yang tak bertulang namun kenyal.


"Jangan menggoda sayang, ini masih pagi," sejak melakukan malam pertamanya di hotel waktu itu Rasya tidak pernah mengambil jatahnya setiap malam tetapi tiga kali dalam seminggu karena dia tidak ingin membuat istrinya kelelahan walaupun sebenarnya dia ingin namun sebisa mungkin dia harus bisa mengontrol diri.


"Pagi sama malam beda ya?" Riska mengedipkan sebelah matanya dengan genit lalu mengambil minuman dingin dalam lemari dan duduk di tepi jendela mengabaikan suaminya Setelah dia goda.


"Ck dasar penggoda kecil," Rasya menghampiri istrinya lalu duduk di sebelah dan merangkul tubuh mungil itu dan dibawa ke dalam pelukannya.


"Sayang!" Panggil Rasya dengan lembut dan dari nada suaranya ada sesuatu serius yang ingin disampaikan.


"Apa suamiku?" Riska meletakkan minuman kaleng lalu menatap suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Setelah malam pertama kita," baru mengucapkan kata malam pertama saja wajah Riska sudah bersemu merah karena memang dia yang pertama kali menawarkan diri untuk dinikmati oleh suaminya.


"Setelah malam itu pun kita sering melakukannya, abang cuma ingin tahu apakah saya menggunakan alat kontrasepsi atau tidak?" Sungguh pertanyaan itu sudah beberapa hari ini terlintas di pikiran Rasya sebab dia memiliki kecemasan tertentu tentang hubungan yang sering mereka lakukan maka tidak menutup kemungkinan akan membuahkan hasil karena mereka sedang berada di fase menggebu-gebu.


"Maksud suami ku, menunda kehamilan?" Riska harus memperjelas dulu pertanyaan dari suaminya karena dia tidak ingin salah tanggap walaupun masalah alat kontrasepsi memang sangat rawan sekali dibahas dalam suatu hubungan apalagi di usia yang masih muda.


"Iya, kalau sayang mau menunda kehamilan juga nggak apa dan fokus sama kuliah dulu," walaupun Rasya sudah sangat menginginkan buah hati hadir di antara mereka tetapi dia tidak ingin egois dan membiarkan istrinya menyelesaikan kuliahnya dulu baru setelah itu fokus membahas tentang anak.


"Apalagi setiap kali kita bermain abang nggak pernah membuangnya di luar pasti selalu di dalam," karena memang lebih enak jika dibuang di dalam tetapi ya itu tadi pasti akan membuahkan hasil kecuali berada di siklus tidak subur.


"Ya ampun Riris kira apa? Riris nggak masalah bang jika hamil saat berkuliah dan juga anak itu anugerah tidak perlu kita cegah kehadirannya apalagi kita ini pasangan suami istri dan juga memiliki anak cepat lebih baik agar saat mereka besar nanti kita masih tampak muda dan bisa saja kita dianggap sebagai kakak mereka bukan sebagai orang tua," Riska tidak masalah sama sekali jika dia hamil saat masih berkuliah justru dia senang berarti Tuhan begitu cepat mempercayakan malaikat kecil hadir di antara mereka.


Dan juga Riska sedang membayangkan di saat umur dia masih muda tetapi sudah memiliki anak yang beranjak remaja pasti akan sangat menyenangkan sekali dan juga mereka akan dikira pasangan adik dan kakak bukan pasangan anak dan orang tua.


"Makasih ya sayang, berarti kita harus sering-sering membuatnya biar cepat jadi," Rasya bisa bernafas dengan lega karena istrinya tidak ada niat untuk menunda kehamilannya justru ingin cepat-cepat memiliki momongan padahal tadi dia sudah cemas tetapi kecemasannya itu sangat tidak beralasan sama sekali.


"Itu sih maunya suamiku yang tampan ini," Riska mandelik lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela lagi.


"Kamu kan juga menikmati bahkan sering minta tambah," Riska menutup wajahnya lantaran karena malu sebab ucapan suaminya tidaklah bohong karena dia sering meminta tambah lantaran rasa yang dinikmati bersama itu membuat dia lupa diri dan tanpa sadar meminta tambah walaupun badannya sudah remuk.

__ADS_1


Drt,,,,


Drt,,,,,


Hp Riska bergetar tanda ada pesan masuk.


"Bentar ya," Riska bangun dari duduknya untuk mengambil hp yang terletak di meja kerja suaminya.


"Dari siapa?" Bukan tidak percaya hanya saja penasaran


"Mommy katanya nanti malam ngajak makan malam bersama sekalian di suruh nginap. Katanya rumah sepi sejak kami menikah,". Melihat kan pesan dari mommynya yang meminta dia datang nanti malam.


"Iya kita sekalian nginap, maaf ya abang jarang ngajak sayang nginap," Rasya merasa bersalah jarang mengajak istrinya nginap di rumah orang tuanya, mengingat mereka sama-sama sibuk jadi hanya di kesempatan senggang mereka datang tapi jarang menginap.


"Nggak apa, mommy juga ngerti kok," Riska juga paham kesibukan suaminya, apa lagi bulan depan sudah mau buka cabang baru lagi jadi harus ada persiapan matang.


Di kantor RakaπŸ’œ


Laki-laki itu kaget melihat Farah yang bersimpuh di kakinya.


"Far kenapa?" Tentu saja Raka kaget karena tidak mengetahui alasan kenapa Farah bersyukur di kakinya.


Hiks,,,hikss,,,


Alih-alih menjawab pertanyaan Raka, justru gadis itu malah menangis dengan keadaan menunduk tidak mau menunjukkan wajahnya yang sudah pasti beruraian air mata.


"Maaf bang maaf," cuma kata itu yang bisa dialontarkan untuk saat ini mengingat betapa banyaknya salah yang dia lakukan selama usia pernikahan mereka.


"Ayo bangun, duduk di sofa ya," Raka mana tega melihat posisi Farah yang seperti ini dan menuntun gadis itu untuk berdiri.


"Maafin aku bang," Farah menolak untuk diajak duduk dan dia harus mendapatkan maaf dari suaminya.


"Kamu nggak salah apa-apa, jadi nggak ada yang perlu di maafkan," mendengar ucapan Raka ini bukannya Farah merasa lega justru tangisnya semakin kuat karena laki-laki itu tidak merasa disakiti selama ini.


"Aku selama ini udah jahat sama abang dan mengabaikan abang," Farah masih betah bersempuh di posisinya karena rasanya dia sudah tidak memiliki wajah lagi untuk ditunjukkan kepada suaminya.


"Siapa yang bilang kamu jahat? Nggak ada yang bilang kamu jahat. Ayo bangun duduk di sini," Raka membantu Farah berdiri dan duduk di sofa lalu laki-laki itu memilih duduk di sofa yang lain.


Melihat Raka yang berpindah posisi duduk membuat hati Farah tersenyum getir.


**Bahkan untuk duduk di sebelah ku aja abang takut, segitu jahatnya aku dulu**


Farah tahu kena Raka menghindari duduk di dekatnya dan tentu saja semua itu untuk menghargai perasaannya mengingat hubungan mereka selama ini sangat jauh dari kata baik.


Tapi dia memaklumi tindakan Raka ini sebab bukan salah laki-laki itu yang tidak mau berdekatan dengan dia namun sejak memang Farah yang tidak mau dia dekati.


"Bang," Farah bangun dari duduknya dan berpindah ke sebelah Raka bahkan dia memberanikan diri untuk memegang lengan laki-laki itu.


"Maaf kan aku bang, aku tau banyak kesalahan dan dosa yang aku lakukan selama kita menikah," Farah tidak malu mengakui semua kesalahannya sebab dia tidak ingin terlambat dan rasa penyesalan itu tidak akan berguna lagi.

__ADS_1


Jadi lebih cepat lebih baik dan hubungan mereka masih bisa dipertahankan.


Memang inilah tujuan Farah mendatangi Raka bahwa dia memang ingin memperbaiki hubungan pernikahan yang sejak awal tidak pernah diharapkan dan perlahan dia hancurkan.


Kini dia datang kembali dengan harapan dan berharap hubungan mereka masih bisa diperbaiki walaupun harapannya cuma lima puluh persen.


"Abang udah maafin kamu kok, bahkan sebelum kamu minta maaf. Jadi nggak usah sedih lagi dan perjalanan masih panjang," Raka mengambil tisu dan membantu mengusap air mata Farah yang masih mengalir di pipinya.


Jika boleh jujur memang di awal pernikahan mereka saja Raka merasakan sakit hati, tapi seiring berjalannya waktu dia sudah bisa menerima dengan ikhlas dan memaklumi sikap istrinya itu


"Aku udah jadi istri yang berdosa dan durhaka sama suami," mendapat kata maaf dari Raka tidak bisa membuat Farah bernafas dengan lega sepenuhnya karena dengan kata maaf yang dia dapatkan semudah itu malah membuat rasa penyesalan itu semakin besar.


"Apa abang masih membenci ku?" Mengingat kesalahannya di masa lalu membuat Farah menyimpulkan bahwa Raka membenci dia hingga satu bulan belakangan ini pun laki-laki itu tidak ada mengunjunginya.


"Abang gak pernah membencimu hanya di awal pernikahan saja rasa kecewa itu dan sakit hati ada namun seiring berjalannya waktu Abang memakan bahwa di masa lalu Abang pernah mencuekin kamu jadi menganggap mungkin ini balasan dan abang terima dengan lapang dada," Farah berpikir kenapa bisa ada laki-laki sebaik ini yang sudah diperlakukan dengan jahat justru memaafkan sangat mudah.


Tetapi seiring bertambah usianya Farah menyadari bahwa rasa cinta yang dia miliki dulu tidak sepatutnya dia menaruh dendam serta sakit hati kepada Raka apalagi di usia mereka yang masih remaja rasa suka kepada lawan jenis itu lebih cepat dirasakan karena pencarian jati diri itu membuat kita membutuhkan perhatian serta perhatian itu khusus diberikan untuk kita.


"Maafin aku abang," bahkan sekarang Farah sudah menggenggam kedua tangan kekar itu tanpa keraguan sama sekali dan Raka dapat melihat ucapan tulus yang diucapkan oleh istrinya itu.


"Abang udah maafin kok, sekarang jangan sedih lagi ya," setelah mengucapkan kalimat itu Raka menarik tangannya dari genggaman Farah.


Bukan karena tidak menyukai tetapi dia tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri tanpa mendengar langsung dari yang bersangkutan.


Bukannya Raka tidak ingin berharap namun dia hanya tidak ingin dikecewakan terhadap sesuatu yang belum pasti yang mana dia simpulkan sendiri.


"Apakah hubungan kita masih bisa di perbaiki?" Farah ingin menuntaskan hari ini juga tentang nasib pernikahan mereka.


Sudah cukup lama dia mendiami pernikahan yang seharusnya hangat justru menjadi dingin bahkan nyaris membeku.


"Hubungan kita selama ini baik-baik aja," justru Raka tidak pernah menganggap jika hubungan pernikahan mereka sudah hancur dan dia tidak pernah menghancurkan pernikahan itu hanya jarak yang diciptakan oleh Farah membuat hubungan mereka seolah tidak baik-baik saja.


"Tapi perlakuan ku selama ini sama abang sangat jahat sekali," mengakui kesalahannya selama ini dan tidak malu sama sekali.


Karena jika mengadakan ego maka semua masalah tidak akan pernah terselesaikan justru hanya akan mementingkan diri sendiri.


"Semua orang tidak pernah luput dalam melakukan kesalahan dan mereka juga berhak mendapatkan kata maaf," lagi pula Raka hanya menganggap bahwa yang terjadi di masa depan adalah timbal balik dengan kejadian di masa lalu hingga dia menganggap impas semua ini.


Raka tau bagaimana Farah dan bagaimana juga watak dari gadis itu jadi Raka memberikan waktu hingga Farah benar-benar menyadari sesuatu mana yang patut dipertahankan dan mana yang seharusnya tidak perlu dimasukkan dalam hubungan mereka.


"Lalu bagaimana dengan hubungan kita? Apakah masih bisa di perbaiki dan di mulai dari awal lagi?" Tentu saja Ini tujuan utama Farah mendatangi Raka untuk menanyakan kelanjutan hubungan pernikahan mereka yang akan dibawa kemana dan butuh kejelasan saat ini juga.


Sudah cukup selama ini dia seperti mempermainkan ikatan suci pernikahan dan sudah cukup juga dia menyesali semua kesalahan yang selama ini dia lakukan dan sudah tiba saatnya dia memperbaiki semuanya termasuk hubungan yang sempat renggang dan juga sikap dia yang tidak mencerminkan sebagai istri yang baik.


Farah menunggu jawaban dari Raka dengan harap-harap semua karena dalam hati kecilnya sangat berharap mereka masih mau menjalin hubungan yang sempat dihancurkan tetapi apapun keputusan laki-laki itu akan Farah terima dengan lapang dada karena mengakui kesalahan dia selama ini sangatlah besar.


Baik dan buruknya keputusan Raka tetap Garah terima dan jika Raka menolak melanjutkan hubungan mereka maka Farah tidak bisa memaksa untuk mempertahankan sesuatu yang sejak awal tidak pernah dia harapkan.


πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ

__ADS_1


Ayo dong dukung biar aku rajin up, huuffttπŸ˜”πŸ˜” like, komen and vote juga rate oceh😘


Tbc...


__ADS_2