BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Ada Apa??


__ADS_3

Sedangkan Farah tidak tau kemana dia sekarang.


Sejak sudah tidak bekerja lagi gadis itu bingung mau kemana di tambah sahabatnya yang sibuk bekerja.


"Yang penting aku harus sembuh dulu, baru memikirkan nasib pernikahan kami," untuk saat ini Farah memang harus memikirkan kondisi kesehatannya dulu meminta jawaban kembali atas keputusan Raka terhadap nasib pernikahan mereka.


"Ke kantor abang aja sambil bawa bekal makan siang," setidaknya Farah harus berjuang dulu dan apapun keputusan Raka akan diterima dengan lapang dada.


Farah memberikan makanan kesukaan Raka lalu melajukan mobilnya menuju kantor.


Tidak perlu heran kenapa dia bisa mengetahui makanan kesukaan suaminya karena mereka sudah bersama sejak kecil jadi sudah mengetahui apa yang disukai oleh Raka tetapi tidak mengetahui siapa yang dicintai oleh laki-laki itu.


Farah memasuki kantor Arby group tanpa kendala sama sekali.


"Selamat siang, pak Raka nya ada?" Farah menghampiri sekretaris Raka yang sedang fokus sama layar datar menyala di depannya.


"Ada buk, tapi pak Raka lagi ada tamu, mungkin sebentar lagi selesai," Farah menghela nafas pelan lalu memilih duduk menunggu urusan Raka selesai.


Tapi setelah setengah jam menunggu tapi belum ada tanda-tanda pintu besar itu akan terbuka, bahkan sekretaris Raka mencuri-curi pandang ke arah Farah, bukan menyukai tapi penasaran siapa perempuan yang akhir-akhir ini sering mengunjungi bosnya.


Apa lagi dia sekretaris baru di kantor ini setelah keluarnya Farah dari Arby group.


Karena penasaran dengan apa yang terjadi di dalam.


Farah menghampiri pintu itu dan membuka nya dengan pelan, namun.


"Kamu jangan lupa sama pernikahan kita ya Ka,"


"Kamu tenang aja,"


Deg...


Dada Farah berdenyut nyeri terhadap apa yang dia dengar barusan hingga mata gadis itu berkaca-kaca sebab dia tidak menyangka akan mendengar berita sebesar ini.


Dia tidak menyangka bahwa suaminya akan menikah lagi di saat hubungan pernikahan mereka masih terombang-ambing dalam ada kejelasan.


Bukankah beberapa waktu yang lalu Farah sudah pernah meminta untuk memperbaiki hubungan mereka lagi namun Raka belum menjawab sampai sekarang tapi hari ini dia mendapati bahwa laki-laki itu akan menikah lagi di saat statusnya masih digantung seperti ini.


"Abang mau nikah lagi," Farah tersenyum miris terhadap kenyataan yang dia terima barusan.


Dadanya sangat sakit sekali dan ingin dia berteriak bahwa tidak ingin diduakan tetapi Farah tidak memiliki keberanian sebesar itu.


"Titip makan siang ini untuk pak Raka ya," Farah mencoba menguasai diri agar tidak terlihat kacau lalu membalikkan diri dan menitipkan makanan yang sebenarnya ingin dia berikan langsung kepada Raka tetapi dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melangkah memasuki ruangan ini.


"Baik buk," sekretaris itu menerima paper bag yang berisi makanan untuk Raka dan dia memandang Farah yang melangkah menuju lift apalagi dia melihat wajah kusut dari gadis itu.


Walaupun Farah berusaha untuk menyembunyikannya tetapi tetap saja gagal apalagi wajah gadis itu yang memerah-menahan tangis.


Ceklek,,,,


Beberapa menit setelah kepergian Farah ruangan Raka terbuka dan menampilkan laki-laki itu dan seorang perempuan cantik menggunakan gamis keluar bersama dari ruangan itu.

__ADS_1


"Aku tunggu ya Ka, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam," perempuan itu berpamit kepada Raka lalu.


"Pak ada titipan untuk bapak dari perempuan yang akhir-akhir ini sering datang ke sini," sekretaris itu menyerahkan paper bag kepada Raka dan setelah mengucapkan terima kasih Raka memasuki ruangannya lagi.


"Ada apa Farah datang? Tapi nggak masuk ya!" Mengeluarkan isi bag itu lalu Raka memulai memakan makanan yang sengaja dikirim oleh istrinya dengan senyuman yang mengembang tanpa dia ketahui keadaannya berbanding terbalik dengan Farah yang pergi dengan beruraian air mata.


Setelah menghabiskan makanan itu Raka melanjutkan kerajaannya yang masih menumpuk apalagi untuk minggu depan dia harus mengambil cuti karena ada urusan yang tidak bisa dia tinggalkan.


Di tempat Farah.


"Ternyata dia mau nikah padahal masih punya istri, walau di agama di bolehkan tapi aku nggak mau di madu," Farah menepikan mobilnya di jalanan sepi lalu menumpahkan tangisnya sebab rasa sesak di dada membuat dia kesulitan bernafas.


Farah menggenggam baju di depan dadanya dan merasakan amat sakit saat mengetahui suaminya akan menikah lagi dan jika pun ia seharusnya laki-laki itu memperjelas dulu tentang kelanjutan hubungan mereka atau justru di akhiri sebelum dia memulai hubungan baru bersama orang lain.


"Jika pun nggak mau melanjutkan pernikahan ini lagi setidaknya selesaikan secara baik-baik," walaupun terasa berat jika pada akhirnya Raka mengakhiri pernikahan mereka tetapi setidaknya tidak menyakiti dia separah ini.


Di saat Farah ingin memperbaiki hubungan mereka justru Raka ingin menjalin hubungan baru bersama orang lain sungguh sangat berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan oleh gadis ini.


Apalagi tadi dia tidak melihat Siapa perempuan itu karena membelakangi ke arah pintu.


"Apakah memang benar nggak ada kesempatan kedua?" Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam Farah masih mengharapkan ada kesempatan kedua dan dia ingin merajut kembali hubungan yang sempat diabaikan dulu.


Drt...


Drt...


**Halo dok**


"Baik dok, terima kasih**


Setelah sambungan telepon itu berakhir Farah mengembangkan senyum bahagianya karena dia sudah mendapatkan donor ginjal yang sudah sangat dia nantikan apalagi akhir-akhir ini kondisi kesehatannya semakin menurun walaupun dia berusaha tegar dan tampak kuat di depan keluarganya.


"Alhamdulillah, semoga semuanya berjalan dengan lancar," setidaknya di saat dia mengetahui berita buruk Farah juga mendapatkan berita bahagia jadi dia tidak perlu terlalu bersedih karena saya tidaknya sebentar lagi dia akan sembuh.


Farah melajukan mobilnya untuk pulang dan dia ingin segera beristirahat karena tiba-tiba dia mengalami pusing dan tidak ingin terjadi sesuatu kepada dirinya jika terlalu lama berada di jalan.


Sampai di rumah Farah memasukkan mobilnya langsung ke dalam garasi dan sebelum memasuki kamar dia menyapa sang mama dulu.


Sudah banyak hal yang dia lalui selama tinggal di rumah orang tuanya apalagi tanpa keberadaan sang suami justru membuat Farah kewalahan menghadapi pertanyaan demi mempertanyaan yang dilontarkan kepada dia.


Farah juga pernah ditanya kenapa Raka tidak pernah lagi datang ke tempat mereka walaupun berkunjung sebentar dan tentu saja membuat Farah memutar otak untuk memberikan alasan agar orang tuanya tidak mengetahui permasalahan yang terjadi di antara mereka.


💞💞💞💞💞


"Kamu boleh pulang dan kerjaan di lanjut besok saja," Raka keluar dari ruangannya dan masih mendapati sekretarisnya fokus bekerja.


Raka bukan Bos otoriter yang memaksa karyawan harus menyelesaikan pekerjaan hari ini juga kecuali pekerjaan itu begitu penting.


"Baik pak, ini tinggal sedikit lagi," karena karyawannya bicara seperti itu Raka memilih pulang duluan setelah berpamitan.

__ADS_1


Mobil yang Raka kendarai melaju dengan kecepatan sedang dan tujuannya sekarang adalah apartemen tempat dia tinggal bersama Farah dulu.


"Hah capeknya," sampai di apartemen Raka langsung memasuki kamarnya untuk membersihkan diri dan juga dia perlu mendinginkan kepala karena satu hari ini kerjaannya begitu banyak.


Raka merasa pekerjaannya hari ini sangatlah banyak tetapi tidak membuat laki-laki itu sampai lembut namun tetap saja pekerjaan itu mengurus tenaga serta pikirannya bekerja ekstra.


Selesai mandi laki-laki itu memilih untuk memasak sendiri walaupun dia memiliki uang yang berlimpah tetapi hanya di waktu saja dia akan membeli makanan cepat saji.


"Seperti lagu angka satu ya," walaupun Raka merasa miris dengan kondisinya saat ini tetapi tidak membuat laki-laki itu bersedih apalagi meratapi nasib.


Bukan dia tidak mengharapkan kehadiran istrinya kembali tetapi meratjut sesuatu yang sudah dihancurkan itu bukanlah hal mudah dan membutuhkan waktu yang lama atau mungkin saja perpisahanlah jalan terbaik diantara mereka berdua.


Selesai makan dengan bereskan peralatan yang digunakan tadi Raka memasuki kamar untuk melanjutkan beberapa pekerjaan.


Beberapa jam berlalu,,,


"Akhirnya selesai dan istirahat," akhirnya pekerjaan Raka selesai dan laki-laki itu membereskan berkas pemberantakan di atas mejanya.


Walaupun tinggal sendirian di apartemen ini harapan tidak ada niat untuk pindah ke kamar utama yang sempat dihuni Farah satu tahun selama mereka bersama.


Bahkan sesekali dia memasuki kamar itu jika dia merindukan istri yang sangat dicintainya.


Ke esokkan harinya, Raka ke kantor seperti biasa.


"Bang kangen," saat baru memasuki lobby kantor tubuh Raka tiba-tiba dipeluk dengan erat bahkan sepasang tangan dan kaki memeluk erat tubuhnya dan bergelantungan di badan kekar itu.


"Ya ampun monyet dari mana yang lepas ini?" Walaupun demikian Raka tetap menumpu tubuh yang bergelayut manja memeluknya dengan erat.


"Enak aja monyet, cantik gini di katain monyet. Kalau cantik ini di katain monyet lalu abang yang pas-pasan ini apa? Taik monyet," balas dia tak kalah sini seenaknya saja mengatakan memiliki kecantikan paripurna malah disamakan dengan monyet.


"Turun ngga, Lo berat tau. Makan apa sih? Bisa seberat ini? Makan batu ya," memang berat badannya sangat berbeda dari biasa dari Raka gendong waktu itu.


"Makan cinta dong, emang lo makan hati, ayo jalan," cibir dia lalu meminta Raka untuk berjalan dengan dia masih dalam gendongan Raka eh lebih tepatnya dia yang bergelayut di badan Raka.


Bahkan karyawannya melihat interaksi keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala serta melontarkan kata iri di dalam hati.


Bagaimana tidak interaksi keduanya terlihat sangat manis apalagi Raka tidak menolak sama sekali saat mendapat beban mendadak begitu saja.


"Dasar manja, udah punya suami juga kenapa nggak minta gendong saja dia aja," tapi walaupun dia begitu mereka tidak ada yang lain untuk menurunkan tubuh yang bergelayut seperti monyet di badannya.


Bahkan sampai memasuki lift dan sampai di lantai di mana ruang Raka berada.


"Sama suami mah nggak usah di tanya lagi, tiap ada kesempatan malah. Abang kangen," harapan menurunkan tubuh itu dan diletakkan di atas sofa lalu duduk di sebelahnya.


Siapa lagi orang yang berani bergelayut di badan Raka dan tanpa mendapatkan penolakan tidak lain dan tidak melakukan dia adalah Riska sang adik tercinta.


"Ck pamer, mana Rasya kok nggak ikut? Biasanya udah seperti anak ayam ngintilin Mulu," Raka merasa heran melihat kedatangan adiknya sendiri tanpa suaminya.


Biasanya di mana Riska pergi sudah pasti Rasya mengikuti tapi sekarang cuma ada adiknya tanpa ada kehadiran iparnya itu.


"Huaaaaa hiks,," bukannya menjawab pertanyaan Raka justru Riska menangis.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Rasya apain kamu? Bilang sama abang biar abang kasih pelajaran!" Raka tentu saja kaget melihat adiknya yang tiba-tiba menangis tanpa tahu letak permasalahannya.


Bahkan kamu bisa semakin keras mendengar pertanyaan dari Raka tentu saja laki-laki itu sudah memikirkan segala kemungkinan terburuk yang terjadi yang menimpa adiknya.


__ADS_2