
Raka menatap Farah sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Melihat Raka membuang muka membuat dada Farah berdenyut nyeri dan dari ini saja sudah bisa dia simpulkan bahwa Raka tidak mau balik lagi menjalin atau memperbaiki hubungan pernikahan mereka.
Apa lagi sejak tadi laki-laki menjaga jarak dan tidak mau bersentuhan sama dia.
**Aku begitu jahat dan membuat abang terluka begitu dalam, tapi apakah benar-benar ngga ada kesempatan lagi?**
Farah hanya bisa tersenyum masam.
Menyadari kesalahannya selama Ini dan memahami suasana hati Raka yang tentu saja tidak baik-baik saja selama ini.
"Apakah hubungan kita nggak bisa di perbaiki lagi?" Farah masih menatap Raka dengan tatapan penuh harap.
Masih sangat berharap jika hubungan mereka masih bisa diperbaiki dan dia akan menjadi istri yang lebih baik lagi serta melayani suaminya bukan seperti di awal pernikahan dan tidak pernah menghargai sama sekali.
Tok....
Tok....
Raka bangkit dari duduknya dan berpindah ke kursi kerjanya dan menyuruh seseorang yang mengetuk pintu itu masuk.
"Maaf pak sebentar lagi kita akan meeting," sekretaris itu menunduk atau merasa telah mengganggu waktu bosnya apalagi sekilas dia melihat wajah Farah yang begitu sendu dan dia berpikir sudah terjadi sesuatu yang dia sendiri tidak tahu.
"Baiklah sebentar lagi saya ke sana," lalu sekretaris itu keluar meninggalkan dua orang itu yang masih terdiam di tempatnya masing-masing.
Setelah diam beberapa saat lalu Raka bangkit dari duduknya merapikan jas yang dia gunakan.
"Abang harus meeting, kamu bawa mobil atau sama taksi tadi?" Raka menghampiri Farah terapi masih dalam jarak yang wajar.
"Abang belum jawab pertanyaan ku," Farah tidak ingin pergi sebelum mendapatkan jawaban dari Raka.
"Abang meeting dulu, kamu hati-hati baliknya," setelah mengucapkan kalimat itu Raka keluar dari ruangannya meninggalkan Farah sendirian.
Farah menatap punggung kekar itu dengan tatapan nanar.
Perjuangannya untuk datang ke kantor ini belum membuahkan hasil tetapi dia tidak akan menyerah begitu saja sebab untuk mengembalikan sesuatu yang sudah dia hancurkan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
"Masih marah kayak nya, tapi wajar si," karena tidak ada lagi yang mau dia lakukan Farah memilih pergi dan dia berencana untuk mengunjungi mertuanya terutama mertua perempuannya.
Dia harus tahu dan meminta saran walaupun nanti dia pasti akan mendapatkan perkataan yang membuat dia semakin merasa bersalah tetapi Farah tidak akan mundur karena dia melakukan ini bukan hanya karena rasa bersalahnya tetapi karena rasa dulu yang tidak pernah pergi dari hatinya.
Tiba di rumah mewah kediaman Arka dan Khira.
"Assalamu'alaikum," Farah memasuki rumah itu saat seorang asisten rumah tangga membukakan pintu dan berjalan menuju ruangan keluarga.
"Wa'alaikumsalam, ayo sini duduk. Mommy kangen tau. Kamu udah jarang menginap di sini di tambah abang sibuk ke luar kota dan luar negeri," sekarang Farah tahu apa kegiatan suaminya selama satu bulan belakangan ini dan tentu itu sangat sibuk mengingat harus bekerja keras untuk memajukan perusahaannya karena banyak kepala keluarga yang bergantung hidup di sana tetapi laki-laki itu tidak mendapatkan dukungan dari istri yang sangat dicintainya.
"Makasih mom," Farah meletakkan bingkisan yang sengaja dia beli tadi dan duduk di sebelah mertuanya Setelah menyalami.
"Mommy sehat?" Farah melihat wajah cantik mertuanya walaupun usia sudah tidak bisa dibohongi lagi apalagi mertua perempuannya lebih tua daripada mertua laki-lakinya.
Tetapi gurat kecantikannya masih tampak apalagi ditunjang dengan perawatan yang tidaklah murah tentu saja penuaan itu lambat terjadi.
"Mommy sehat, kamu kenapa kurusan gini?" Khira melihat tubuh Farah yang lebih kurus dari biasanya.
__ADS_1
Ternyata bukan cuma Raka yang menyadari tetapi sangat tua juga.
"Cuma kurang istirahat aja mom, tapi aku nggak apa?" Bagaimana bisa dia tidak kehilangan berat badannya karena dua minggu belakangan ini Farah menyadari kesalahannya dan menyesalinya hingga berpengaruh terhadap berat badan yang berkurang.
"Jangan capek-capek, kalau nggak sanggup mending di rumah aja dan habiskan uang suami," memberikan saran yang sangat disukai oleh para perempuan yaitu menghabiskan uang suami.
Tetapi tidak untuk Farah mendengar kata suami justru dia semakin menyesali perbuatannya.
Tetapi bukan salah Khira membahas ini, karena dia tidak mengetahui permasalahan yang terjadi di antara anak dan menantunya.
"Iya mom,"
**Jika nanti kami sudah baikan, itu pun jika bang Raka mau berbaikan**
Bagaimana bisa dia menikmati uang suaminya jika hubungan mereka saja untuk saat ini sudah berada di ujung tanduk dan tidak tahu kapan akan jatuhnya dan itu semua tergantung pada keputusan Raka yang belum diberikan kepada Farah.
"Kemarin waktu abang ke Paris kamu ikut kan? Karena kata Abang saat ke Jepang kamu nggak bisa meninggalkan kantor," ingin rasanya Farah menangis untuk saat ini.
Bahkan setelah banyak kesalahan yang dilakukan kepada Raka justru laki-laki itu menutupi semuanya dan masih menceritakan tentang kebaikannya kepada orang tuanya padahal jika dia mau bisa saja menceritakan semua kejelekan Farah dan dibenci oleh mereka.
"Iya mom kemarin itu sibuk," Farah terpaksa berbohong daripada dicap sebagai istri yang tidak baik karena tidak pernah sekalipun memperlakukan baik suaminya sejak menikah.
"Mommy tau pernikahan kalian terkesan mendadak tapi percayalah bahwa abang itu laki-laki baik, mommy memuji bukan karena dia anak mommy tapi kita semua tau bagaimana sikap abang selama ini.
Mommy hanya berharap bahwa pernikahan kalian ini langgeng apalagi menikah dengan orang yang sudah kita kenal berbeda dengan mommy yang menikah dengan laki-laki yang enggak mommy dikenali sama sekali bahkan baru bertemu dan saling mengenali setelah akad nikah karena dulu menjelang akad nikah calon suami mommy ngga datang dan di gantikan sama Daddy yang saat itu sebagai tamu.
Jadi pernikahan mendadak itu bukanlah sesuatu yang membuat kita tidak bisa menerima sebab kami yang gak saling kenal pun bisa hidup bahagia asalkan mau ikhlas menerima dan mau menjalani biduk rumah tangga tanpa ada keterpaksaan sama sekali," Khira hanya tidak ingin jika menantunya belum bisa menerima sepenuhnya pernikahan yang mereka jalani padahal sejak awal memang Farah tidak pernah menerima hingga dia dan Raka pisah rumah.
Apalagi mereka menikah yang sudah saling kenal sejak kecil jadi tidak akan sulit untuk bersama serta menerima satu sama lain.
Beberapa hari telah berlalu setelah pertemuan Farah di kantor Raka dan sampai sekarang dia belum bisa menemui suaminya, setiap datang ke kantor tetapi Raka tidak berada di sana dan sedang menghadiri meeting di luar kantor.
"Kemana aku harus mencari abang ya?" Farah melajukan mobilnya meninggalkan kantor Raka karena dia tidak akan berputus asa dan menyerah begitu saja.
"Mampir makan siang dulu lah," Farah singgah di sebuah restoran untuk mengisi perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
Baru saja dia duduk di dalam restoran itu dia melihat Raka duduk bersama seorang perempuan yang jaraknya lumayan dekat dari tempat dia duduk.
"Itu kan abang," Farah pura-pura tidak melihat dan dia curi-curi mendengar karena penasaran apa yang sedang mereka bahas?.
"Ka lo tau kan gue udah lama suka sama lo?"
Deg...
Udah ada Farah berdenyut nyeri saat mendengar ada perempuan yang mengungkapkan perasaan kepada suaminya dan otak Farah berpikir apakah seperti ini rasanya yang Raka rasakan saat mendengar dan melihat dulu dia bersama atasannya.
Rasanya memang sangat menyakitkan sekali.
"Lo tau kan gue udah lama menunggu momen ini setelah perpisahan kita yang cukup lama?" Perempuan itu terus berbicara saya dengan Raka hanya dia mendengar tetapi dengan diamnya laki-laki itu membuat Farah ketar-ketir karena dia juga penasaran tentang tangkapan yang akan diberikan oleh Raka.
"Lo udah tau kan siapa yang gue cintai!" Raka membalas dengan santai tetapi jawaban Raka itu membuat Farah semakin merasakan sakit di dadanya karena dia menganggap bahwa laki-laki itu masih mencintai Sarah hingga saat ini.
Farah tersenyum masam sambil meremas kedua tangannya di bawah meja sebab tidak seharusnya dia mengutip pembicaraan orang walaupun itu suami sendiri dan sekarang berakhir dengan sakit hati.
"Seharusnya aku sudah bisa nebak sejak awal," karena Raka yang tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada Farah sehingga gadis itu menyimpulkan bahwa suaminya masih mencintai adiknya.
__ADS_1
Farah kehilangan selera makannya lalu pergi dari sana dan menyelipkan beberapa lembar uang merah karena tadi dia sudah sempat memesan makanan tetapi selera makannya keburu hilang mendengar jawaban dari Raka.
"Pantas dia nggak mau memperbaiki hubungan kami ternyata masih mencintai Sarah," Farah melajukan mobilnya meninggalkan restoran itu dengan membawa sakit di hatinya tetapi dia tidak bisa marah kepada adiknya sendiri sebab tidak mungkin menghancurkan hubungan persaudaraan mereka hanya karena kesimpulan yang Farah ambil sendiri.
Farah bener-bener berada di posisi yang sangat sulit disaat dia ingin memperbaiki hubungan pernikahannya tetapi sang suami masih mencintai adiknya.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Memperbaiki untuk mempertahankan atau melepaskan dengan imbalan sakit hati.
Di rumah sakit, Farah pergi untuk memeriksa kondisi kesehatannya.
"Bagaimana dok kondisi saya?" Farah sangat berharap kondisi kesehatannya lebih baik lagi sebelum mendapatkan donor ginjal dan dia selalu menuruti semua saran dokter serta mengkonsumsi obat yang sudah diresepkan.
"Seperti ucapan saya waktu itu, ibu Farah memang harus secepatnya dapat donor ginjal,"
(Maaf kalau kurang nyambung kalau bahas penyakit ya, author juga kurang paham 😩)
Farah menghila nafasnya dengan berat karena ternyata hanya dengan donor ginjal bisa untuk menyelamatkan dia tetapi sampai sekarang dari pihak rumah sakit pun belum mendapatkan pendonor yang pas.
"Apakah belum ada pendonor dok?" Farah juga ikut mengupayakan mencari donor ginjal tetapi memang sampai sekarang dia belum menemukan yang cocok juga padahal untuk membayar orang yang mau dia harus menguras tabungannya tetapi memang belum menemukan jalan yang terang.
"Makasih dok, jika ada informasi kenari saya, saya juga akan mencari pendonor,"
Setelah itu Farah berpamitan kepada dokter dan berjalan menuju apotek untuk menebus obat yang akan dikonsumsi selanjutnya karena setidaknya obat ini bisa mengatasi rasa sakit yang dia alami walaupun tidak bisa sepenuhnya.
Bahkan sampai sekarang pun dia belum memberi tahu kedua orang tuanya tentang dia yang sedang sakit sekarang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Farah semakin kebingungan karena kondisi dia yang sudah sangat membutuhkan pendonor tapi belum di dapatkan juga.
Sedangkan di rumah sakit setelah kepergian Farah tadi masuk seseorang ke dalam ruangan dokter tadi.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" Melihat orang yang tidak dikenali masuk ke dalam ruangan nya.
"Tadi saya tidak sengaja mendengar obrolan kalian dan kebetulan saya sedang butuh uang jadi saya ingin mendonorkan ginjal saya," ucap dia dengan to the point tanpa basa basi.
"Benar, dan jika bapak benar ingin mendonorkan ginjal bapak mari kita lakukan pemeriksaan terlebih dulu," membawa orang itu ke dalam ruangan pemeriksaan untuk melakukan pengecekan apakah ginjal orang itu cocok atau tidak.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan ternyata hasilnya cocok sehingga Farah bisa melakukan operasi secepatnya.
"Hasilnya cocok dan bapak akan saya kabari jika orang ini sudah berada di rumah sakit," sebagai seorang dokter tentu saja hal ini sangat membahagiakan di saat pasiennya mendapatkan pertolongan.
Dan dia akan mengabari Farah karena ginjal yang dibutuhkan sudah ada dan tinggal mengatur jadwal operasi saja.
Orang itu berpamitan dan hanya menunggu kabar dari dokter saja.
Sedangkan Farah tidak tau kemana dia sekarang.
Sejak sudah tidak bekerja lagi gadis itu bingung mau kemana di tambah sahabatnya yang sibuk bekerja.
"Yang penting aku harus sembuh dulu, baru memikirkan nasib pernikahan kami," untuk saat ini Farah memang harus memikirkan kondisi kesehatannya dulu meminta jawaban kembali atas keputusan Raka terhadap nasib pernikahan mereka.
"Ke kantor abang aja sambil bawa bekal makan siang," setidaknya Farah harus berjuang dulu dan apapun keputusan Raka akan diterima dengan lapang dada.
Farah memberikan makanan kesukaan Raka lalu melajukan mobilnya menuju kantor.
Tidak perlu heran kenapa dia bisa mengetahui makanan kesukaan suaminya karena mereka sudah bersama sejak kecil jadi sudah mengetahui apa yang disukai oleh Raka tetapi tidak mengetahui siapa yang dicintai oleh laki-laki itu.
__ADS_1
Tbc,,,,,