
Kebahagiaan adalah titik tertinggi dalam hidup, kebahagiaan di mana orang merasa hidupnya begitu sempurna.
Kebahagiaan juga bisa di bagi pada orang sekitar namun kita jangan terlalu terlena dengan kebahagiaan sekarang sebab di balik kebahagiaan ada rasa sedih yang menunggu.
Pada dasarnya kita di harus kan untuk mensyukuri dalam segala yang kita miliki.
Tidak semua kebahagiaan kita orang senang dan tidak juga kesedihan kita orang bahagia.
Kan penilaian seseorang terhadap orang lain berbeda.
Setelah setuju mengundang keluarga masing-masing, baik Raka dan Farah menghubungi tanpa mengatakan tujuan mereka diminta datang akan mengasih tau saat sudah berkumpul.
Mereka semua setuju datang, jarang juga berkumpul bersama seperti sekarang.
"By aku boleh bantu di bawah untuk acara nanti malam?" Meminta izin agar bisa ikut membantu menyiapkan kebutuhan nanti malam.
"Boleh sayang," Balas Raka singkat.
"Beneran sayang tapi setelah ini jangan harap bisa kerja lagi," Ancam Raka lalu duduk di sebelah istrinya.
Apa dia lupa kalau Raka melarang untuk memasak atau dia sengaja ingin berhenti kerja.
"Ah hubby mulai nggak asik," Mengerucutkan bibir candu itu, apa Farah lupa jika dia melakukan itu sama saja mengundang Raka untuk menciumnya.
Lalu dengan gerakan cepat namun lebih lembut Raka melabuhkan ciuman di bibir itu tidak lupa ******* daging tak bertulang dengan lembut.
Menyesap rasa manis itu dengan pelan tidak kasar namun terasa menuntut.
"Hhmm by," Lenguh Farah di sela ******* itu, merasa kaget dengan serangan dadakan dari suaminya.
Walau sudah sering berciuman namun jika dadakan dia juga kaget.
Lalu Raka melepaskan bibir kenyal itu.
"Manis, bikin candu cup," Wajah Farah bersemu merah mendengar kalimat pujian yang di lontarkan, padahal ini bukan pertama kali di puji tapi masih saja bersemu.
Hatinya kenapa selemah ini.
Meninggalkan satu kecupan lagi lalu tersenyum melihat wajah cantik itu.
Kenapa semakin menggemaskan dengan wajah memerah ini.
__ADS_1
"By boleh ya sekali ini aja," Rengek Farah agar di izin kan memasak untuk keluarga nanti malam.
"Pilih sekarang masak namun berhenti masak selama nya atau nurut dengan tetap bisa masak nantinya?" Menatap Farah dengan lembut lalu membelai lembut pipi itu dan meninggalkan kecupan di sudut bibir Farah..
"Jadilah istri penurut sebelum kebebasan mu aku renggut sayang," Raka yang tidak main-main dengan ucapannya kali ini, dia melakukan ini demi kebaikan istri dan anaknya namun jika di bantah terus jangan salahkan dia kalau Farah di larang keluar rumah.
Perempuan itu menelan salivanya dengan susah payah mendengar ancaman suaminya di tambah dengan wajah serius, kali ini dia yakin ucapan suaminya bukan main-main.
"Maaf by," Sudahlah dia tidak bisa membantah dari pada di rumah saja dan tidak di izinkan melihat dunia luar, jangan sampai dia seperti Rapunzel.
raka menghubungi kepala pelayan untuk menyiapkan menu makan malam bersama untuk mereka bersama.
Juga menghubungi para sahabat untuk ikut dapat merasakan kebahagiaan mereka dan termotivasi untuk segera menyusul.
"Udah sini istirahat aja," Mereka sudah shalat tadi dan sekarang masih siang menjelang sore belum masuk waktu asar jadi masih ada waktu istirahat sebentar.
"Iya by, Berbaring dengan berbantal lengan suaminya.
Membawa wanita yang sudah mau mengandung benihnya itu ke dalam pelukan.
Kini tanggung jawabnya bertambah dengan kehadiran malaikat kecil di rahim sang istri, harus ektra menjaga agar buah cinta mereka baik-baik saja.
Kenapa Raka tidak balik ke kantor karena semua pekerjaan sudah dilimpahkan pada sahabatnya, saat ingin protes dengan enteng Arka bilang 'biasanya juga gini kan jadi jangan merasa terbebani'.
Jika ada hak bawahan memecat bos maka dengan senang hati Dean lakukan.
Di kantor.
Jam pulang kantor sudah tiba, Dean lebih dulu datang ke ruangan Via agar bisa datang bersama ke rumah Raka dan ini pertama kali bagi Via datang kesana selama Farah menikah.
"Ayo guys kita go to home," Ruangan itu seketika ramai karena sudah waktunya pulang, dan ini waktu yang di tunggu sejak tadi sama seperti anak sekolah waktu pulang adalah waktu kesukaan.
"Via kita bareng ya?" Ajak Dean saat melihat Via baru keluar dari dalam sana hingga dia terlonjak kaget sampai mengusap dada.
"Kalian duluan aja," Pinta Via pada temannya karena dia tidak mungkin menolak Dean di depan orang banyak takut Dean malu dan Via masih punya perasaan akan hal itu.
Tapi apakah perasaan seperti wanita ke lelaki sudah ada pada wanita cantik ini.
"Kenapa pak?" Tanya Via saat hanya tinggal mereka berdua, jujur sejak Via sudah tau tentang Dean hatinya mulai ketar ketir saat lagi berduaan seperti sekarang.
"Kita bareng aja ke rumah Raka, kamu juga di undang sama Farah kan,"
__ADS_1
Tidak mungkin tidak mengundang sahabat sendiri datang ke rumah saat bilang ada acara.
"Maaf pak saya sendiri aja, saya mau ke rumah ganti baju dulu," Tolong mengerti sekarang kalau jantung Via sudah mulai tidak aman.
Berdebat seperti ada gempa lokal.
"Biar saya antar ke rumah mu, baru setelah itu kita ke rumah Raka," Jangan harap bisa Dean lepaskan saat sudah berada di depan mata.
Tidak semudah itu Dean berkata iya.
"Maaf saya nggak mau merepotkan," Tolak Via lagi, kalau terus berduaan dengan Dean yang ada bukan sampai tujuan malah mampir ke rumah sakit karena degupan jantung yang berlebihan.
"Kasih saya satu alasan untuk membiarkan mu pergi sendiri," Via tertegun karena sebenarnya dia sudah tidak punya alasan untuk menolak ajakan Dean, namun dia hanya ingin melihat sejauh apa perjuangan Dean dalam meluluhkan hatinya.
"Satu alasan aja," Desak Dean sambil terus menatap wajah cantik yang suka berterbangan di kepalanya saat menjelang tidur atau suka gentayangan saat lagi bekerja.
"Nggak ada kan jadi ayo," Memberanikan diri menggenggam tangan itu, namun sekuat tenaga Via mencoba melepaskan namun tidak bisa tenaga Dean jauh lebih kuat dari dirinya.
Akhirnya hanya bisa pasrah dan berdoa semoga tidak ada yang melihat sehingga tidak perlu menimbulkan gosip yang membuat telinga panas.
Membawa Via turun menaiki lift petinggi hingga sampai parkiran.
"Silahkan," Lagi Via tidak kuasa menolak karena dia tidak punya alasan lagi entah mengapa otaknya tiba-tiba tidak bisa di ajak kompromi.
"Saya tau kenapa selama ini kamu menghindari saya dan saya juga tau kamu pasti udah mendengar tentang saya dari sahabat mu, sekarang saya tanya kenapa kamu masih berusaha menjauhi saya? Apa kehadiran saya membuat kamu nggak nyaman atau kamu memang lagi menjaga hati yang lain?" Dean tidak ingin memendam ini lebih lama lagi, sudah cukup dia bersabar selama ini, berusaha mendekati di saat Via menjaga jarak.
Sudah cukup kesabarannya di uji, dia bukan tipe orang terlalu sabar dalam berusaha jika bisa cepat kenapa harus menunggu lama.
"Jawab Via, agar saya tau diri," Via diam karena semua ucapan Dean benar dan dia juga tidak ada dekat atau suka dengan seseorang hanya saja dia hanya mencoba menjaga hati agar tidak salah pilih.
"Kenapa? apa saya benar kalau kamu menjauhi saya karena candaan saya buat Farah waktu itu," Via menunduk tidak mau mengangkat kepala atau menjawab satu kata dari ucapan Dean seolah mengatakan itu benar alasannya.
Dia diam bukan takut atau lemah hanya saja tebakan Dean benar adanya.
"Mulai sekarang jangan pernah menjauhi saya lagi karena saya nggak akan pernah melepaskan kamu, liat saya," Menarik dagu Via pelan hingga pandangan mereka bertemu dalam satu titik yang sama yaitu menyelami mata masing-masing.
Dapat Via lihat dengan jelas keseriusan di mata Dean.
Hingga detak jantung bekerja lebih cepat, kenapa tiba-tiba wajah Dean terlihat lebih tampan saat bicara serius.
**Sadar Via** menyadarkan diri akan pesona Dean yang secara perlahan tidak bisa Via hindari.
__ADS_1