BUKAN CINTA PENGGANTI

BUKAN CINTA PENGGANTI
Chapter 121


__ADS_3

Sebelum Farah ngambek manja dengan Raka.


Pagi itu bumil masih sama sulit di bangunkan dan selesai shalat langsung tidur setelah melepas mukena dan di taruh atas sofa.


Raka hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah menggemaskan istrinya itu, tidak ada niat untuk menegur atau melarang.


Calon papa membiarkan saja, dia tau ini mungkin kemauan anaknya jadi biar aja selama ini istrinya tidak pernah seperti ini.


Setiap suami pasti ingin istrinya manja kepada dirinya agar seperti merasa bergantung dan membutuhkan sosok suami di samping


"Kamu kenapa suka bermanja saat masih dalam perut sih nak," Duduk di samping bumil yang sudah masuk ke alam mimpi tanpa menunggu waktu lama.


Padahal kalau sudah bangun dan mencuci wajah ngantuk akan hilang namun untuk Farah saat melihat bantal saja rasa kantuk itu lebih dominan.


"Sehat-sehat ya nak," Bisik calon papa pelan pada perut Farah agar tidak terganggu.


Senyum tampannya terus mengembang seperti ada pengawet di sana, awet tidak mau luntur.


Tidak menyangka di usia yang dua puluh lima dia sudah di karunia seorang malaikat kecil dan menunggu beberapa bulan lagi akan hadir di antara mereka.


Membayangkan seorang anak kecil nan menggemaskan memanggil dirinya papa lalu mengajak bermain, apalagi menunggu dia pulang kerja.


Ini saja belum tau jenis kelaminnya Raka sudah sangat bahagia.


Mana langsung di kasih dua lagi.


"Buat sarapan dulu untuk bumil," Melabuhkan kecupan di jidat dan bibir lalu di ***** sebentar dan Raka keluar kamar menuju dapur.


"Bik untuk sarapan bumil biar aku yang buat," Saat Raka sudah sampai di dapur.


Berita kehamilan Farah sudah tersebar di seluruh penjuru rumah dan asisten rumah tangga.


Mereka menyambut dengan semangat dan tidak sabar juga apakah akan jadi Raka atau Farah junior tapi satu yang pasti rumah ini akan ramai dengan suara tangisan dan tawa anak kecil.


"Baik den," Membiarkan calon papa itu memasak untuk sarapan bumil, mungkin ini salah satu wujud syukur Raka akan kehamilan istrinya yang tidak dia duga.


Kehamilan ini merupakan sebuah berita besar yang tidak di sangka karena mereka sudah menanti kan kehadiran malaikat kecil itu di antara mereka.


"Selesai juga," Sarapan sehat ala chef Raka yang di buat penuh cinta serta kasih sayang untuk tiga orang terkasih.


Membawakan ke atas karena tidak mau Farah turun naik tangga hanya untuk sarapan.


Dan Raka sudah menghubungi orang untuk memasang lift agar istrinya tidak capek menggunakan tangga lagi, untuk jaga-jaga juga takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.

__ADS_1


"Sayang sarapan dulu yuk," Meletakkan nampan di meja sofa dan membangunkan Farah yang masih betah menutup mata.


"Sayang," Mengelus pelan pipi yang kian cabi itu sejak hamil.


Beruntung istrinya belum ada dalam fase muntah dan pusing hanya saja lebih manja dan suka tidur.


Tapi ini lebih baik dari pada mengalami itu dan menguras tenaga.


Namun belum menunjukkan reaksi juga terpaksa melakukan jurus terakhir.


"Bangun," Bisik Raka sambil menciumi seluruh wajah itu dengan lembut dan paling lama di bibir candunya.


"Hm by udah pagi?" Bumil membuka mata saat di lihatnya jarak wajah mereka sangat dekat dan bisa merasakan deru nafas satu sama lainnya.


"Udah sayang, sarapan dulu ya baru lanjut tidur lagi," Membantu istrinya duduk dan bersandar pada ranjang.


Mengambil nampan yang berisi sarapan.


"Aaa,,, buka mulutnya," Menyendok sarapan ke arah mulut Farah, memang mau total dalam memanjakan sang istri tercinta.


Dia ingin memanjakan istrinya yang memang sudah manja sejak tau dirinya hamil.


"Aku bisa sendiri by," Tolak Farah mencoba mengambil sendok namun di hindari Raka.


"Tangan aja by," Mengalah dengan Raka dari pada panjang urusannya.


Tidak apa dia di manjakan kapan lagi, hanya saat hamil kalau sebelumnya makan sendiri walaupun di selingi suapan juga.


"Istri pintar," Menyuapi Farah dengan telaten sambil sesekali melabuhkan kecupan di pipi saat satu sendok masuk mulut.


"Kok seperti minta bayaran ya by?" Tidak menolak juga cuma isi sendok itu sedikit tapi di kasih kecupan juga.


Apa sengaja mengambil keuntungan.


"Nggak kok, cuma kecupan aja gratis kok yang," Menghela nafas pelan, gimana mau membantah kalau sudah di jawab gitu.


Sejak kapan juga mengecup pipi istri harus di bayar juga.


Sepertinya ini sudah di rencanakan sejak awal.


"Akhirnya habis juga, jadi makin cinta kalau gini, ini bonus cup," Mengecup bibir yang masih mengunyah suapan terakhir itu.


Bumil mendelik kesal entah sudah berapa banyak dia di kasih kecupan selama makan.

__ADS_1


"Hubby udah sarapan," Dari tadi cuma sibuk menyuapi dirinya makan.


"Nanti yang di bawah aja, yang penting sekarang kamu dan anak kita udah kenyang.


Sekarang minum vitamin ya," Mengambil vitamin yang harus di minum pagi hari.


Raka benar-benar memperlakukan istrinya seperti ratu.


"Makasih by," Menerima vitamin itu lalu di minum.


"Hubby jangan lupa sarapan juga ya," ujar Farah yang masih menyenderkan diri sambil menunggu makanan turun lalu baru merebahkan diri lagi.


"Iya sayang ini abang mau antar ini ke bawah sambil sarapan. Kamu istirahat ya," Mengecup jidat itu pelan lalu pergi dari kamar sambil membawa piring kotor sarapan istrinya.


Memandang langkah tegap itu hingga hilang di balik pintu.


"Makasih tuhan udah mengirimkan suami yang begitu perhatian dan sayang sama aku, semoga hubungan kami hanya engkau yang memisahkan amin," Merasa senang di perlakukan baik selama ini dan semoga selanjutnya juga tetap begitu.


Saat di rasa makanan sudah turun Farah merebahkan badan dan menarik selimut.


Setengah jam pintu terbuka menampilkan Raka membawa piring berisi buah di tangannya.


"Sayang," suaminya membelai kepala itu lembut.


"Apa by?" Melihat Raka dari bawah adalah salah satu momen yang Farah suka.


"Nanti sore abang ada perjalanan bisnis ke Jepang untuk melihat cabang yang di sana," Memberi tau Farah sebelum berangkat.


"Berapa hari?" Lirih Farah merasa sesak saat mendengar akan di tinggal.


"Seminggu paling lama," Jawab Raka memandang wajah cantik itu yang sudah berubah ekspresi menjadi murung.


"Jadi kamu mau ninggalin aku gitu?" Sesak itu kian mendera dadanya.


Saat kata itu keluar dari mulut suaminya.


"Bukan meninggalkan hanya aja keadaan yang nggak bisa membuat abang nggak bisa membawa sayang ikut kesana," Jelas Raka karena anaknya belum kuat di dalam perut jadi tidak bisa membawa istrinya.


Padahal benar kata Dean mereka bisa kesana bersama istri anggap honeymoon kedua namun sang anak sudah hadir lebih dulu.


"Yang pasti intinya kamu udah nggak sayang aku lagi," Rajuk Farah memilih membelakangi Raka lalu menutup badan hingga kepala.


Dia merasa Arka sudah tidak sayang lagi sehingga ingin pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Dasar bumil suka sekali menyimpulkan sendiri segala sesuatu hingga sakit hati sendiri.


__ADS_2