
Ke esokkan harinya, Raka ke kantor seperti biasa.
"Bang kangen," saat baru memasuki lobby kantor tubuh Raka tiba-tiba dipeluk dengan erat bahkan sepasang tangan dan kaki memeluk erat tubuhnya dan bergelantungan di badan kekar itu.
"Ya ampun monyet dari mana yang lepas ini?" Walaupun demikian Raka tetap menumpu tubuh yang bergelayut manja memeluknya dengan erat.
"Enak aja monyet, cantik gini di katain monyet. Kalau cantik ini di katain monyet lalu abang yang pas-pasan ini apa? Taik monyet," balas dia tak kalah sini seenaknya saja mengatakan memiliki kecantikan paripurna malah disamakan dengan monyet.
"Turun ngga, Lo berat tau. Makan apa sih? Bisa seberat ini? Makan batu ya," memang berat badannya sangat berbeda dari biasa dari Raka gendong waktu itu.
"Makan cinta dong, emang lo makan hati, ayo jalan," cibir dia lalu meminta Raka untuk berjalan dengan dia masih dalam gendongan Raka eh lebih tepatnya dia yang bergelayut di badan Raka.
Bahkan karyawannya melihat interaksi keduanya hanya bisa geleng-geleng kepala serta melontarkan kata iri di dalam hati.
Bagaimana tidak interaksi keduanya terlihat sangat manis apalagi Raka tidak menolak sama sekali saat mendapat beban mendadak begitu saja.
"Dasar manja, udah punya suami juga kenapa nggak minta gendong saja dia aja," tapi walaupun dia begitu mereka tidak ada yang lain untuk menurunkan tubuh yang bergelayut seperti monyet di badannya.
Bahkan sampai memasuki lift dan sampai di lantai di mana ruang Raka berada.
"Sama suami mah nggak usah di tanya lagi, tiap ada kesempatan malah. Abang kangen," harapan menurunkan tubuh itu dan diletakkan di atas sofa lalu duduk di sebelahnya.
Siapa lagi orang yang berani bergelayut di badan Raka dan tanpa mendapatkan penolakan tidak lain dan tidak melakukan dia adalah Riska sang adik tercinta.
"Ck pamer, mana Rasya kok nggak ikut? Biasanya udah seperti anak ayam ngintilin Mulu," Raka merasa heran melihat kedatangan adiknya sendiri tanpa suaminya.
Biasanya di mana Riska pergi sudah pasti Rasya mengikuti tapi sekarang cuma ada adiknya tanpa ada kehadiran iparnya itu.
"Huaaaaa hiks,," bukannya menjawab pertanyaan Raka justru Riska menangis.
"Kamu kenapa? Rasya apain kamu? Bilang sama abang biar abang kasih pelajaran!" Raka tentu saja kaget melihat adiknya yang tiba-tiba menangis tanpa tahu letak permasalahannya.
Bahkan tangis Riska semakin keras mendengar pertanyaan dari Raka tentu saja laki-laki itu sudah memikirkan segala kemungkinan terburuk yang terjadi yang menimpa adiknya.
"Abang hiks,,,hiks,,," Riska masih sesegukan menangis di dada Raka bahkan kemeja laki-laki itu sudah basah, entah itu air mata atau ingus sudah bercampur jadi satu.
Karena belum mendapatkan jawaban dari Riska jadi yang bisa Raka lakukan sekarang adalah mengelus punggung adiknya hingga tenang baru nanti di tanya.
Perasaan Raka sudah cemas dan memikirkan segala kemungkinan buruk terjadi dan fikirannya tertuju pada Rasya.
__ADS_1
Siapa lagi pelakunya yang harus di tuduh jika bukan Rasya, kerena cuma dia tau dekat dan tau.
Mengingat adiknya tidak ada dekat sama orang lain bahkan ke kampus di antar dan di jemput.
"Bang hiks bang Rasya," baru mendengar namanya saja Raka sudah menghafalkan tangannya kuat dan memikirkan bahwa Rasya telah menyakiti adik kesayangannya.
**Sialan kamu Rasya, apa yang sudah kamu lakukan sama adikku hingga menangis begini? Bukankah kamu udah berjanji ngga akan menyakiti bahkan sampai menangis seperti ini**
Raka berjanji kepada dirinya akan memberi perhitungan kepada Rasya yang telah membuat adik tersayangnya menangis sesagukan seperti ini.
Walaupun dulu hingga sekarang Raka sering membuat adiknya kesal tetapi tidak pernah membuat menangis bahkan sulit meredakan tangisnya.
Sebagai seorang kakak tentu dia tidak ingin adik yang disayanginya disakiti oleh orang lain walaupun suaminya sendiri.
"Sudah tenang?" Raka merasa adiknya sudah tenang lalu melonggarkan pelukan mereka dan melihat wajah cantik itu yang masih berlinangan air mata.
Raka mengambil tisu lalu dia usap air mata yang begitu berharga menetes membasahi wajah cantik ini.
"Sekarang cerita sama abang, apa yang sudah terjadi? Apa yang udah Rasya lakukan sama Riris?" Raka berbicara dengan lembut supaya adiknya bisa bercerita karena dia sudah sangat penasaran sekali.
Dan jika benar tuduhannya jika Rasya telah menyakiti Riska maka tunggu saja balasan yang akan diberikan oleh laki-laki tampan ini.
"Abang kok jahat sekali,"
BBUUGG...
Bukannya menjawab pertanyaan dari Raka justru Riska memukul dada bidang abangnya itu bahkan mengatakan Raka itu jahat.
"Aduh kenapa abang di pukul si?" Mereka memegang kedua tangan mungil itu agar tidak dipukul lagi.
"Kenapa abang menuduh bang Rasya telah berbuat jahat kepada Riris?" Riska tidak terima atas tuduhan yang diberikan kepada suaminya.
"Makanya cerita kenapa kamu datang-datang nangis kayak orang abis kena marah?" Raka bingung jika bukan Rasya yang membuat adiknya menangis lalu siapa lagi?.
"Aku nggak mau bercerita, niatnya datang ke sini cuma mau nangis kok," Riska menghapus sisa air mata di wajahnya lalu meminum Aqua dingin yang sempat Raka ambil tadi.
", Mana ada hal seperti itu masa datang datang cuma untuk menangis bukan untuk berkeluh kesah, agak lain memang punya adik," Raka pikir adiknya akan bercerita tentang apa yang dia rasakan dan apa penyebab dia menangis datang ke kantornya hingga menghambat pekerjaan Raka.
Beruntung saja pagi Ini Raka tidak ada meeting jadi bisa mengikuti kekonyolan adiknya yang sudah jarang mereka lakukan berdua.
__ADS_1
"Riris ngga mau cerita, Abang kan belum malam pertama nanti kalau ke pengen gimana. Kan belum baikan sama kak Farah," Raka melongo mendengar ucapan dari adiknya dan berpikir apa hubungan cerita Riska, malam pertama sama dia berbaikan dengan Farah?.
Raka merasa tidak ada hubungannya dan sangat tidak masuk di akal kedengarannya.
Lagi pula jika ingin bercerita tidak perlu membawa-bawa kisah dia yang sampai sekarang belum jelas kedudukannya.
"Apa hubungannya coba? Kalau mau cerita Abang dengar tapi kalau nggak balik sana ganggu aja," Raka jadi kesal sepertinya dia diledek tentu saja dia tidak terima apalagi sampai-sampai membawa kata malam pertama tentu saja setiap orang yang sudah menikah mengimpikan malam indah itu tetapi tidak untuk Raka yang sampai sekarang masih perjaka di usia pernikahannya yang berumur satu tahun.
"Abang usir Riris? Asal abang lupa kantor ini juga ada hak Riris ya jadi abang ngga bisa usir Riris dari sini," Raka geram sendiri.
Merasa sangat tidak nyambung sekali dan malah mengatakan bahwa kantor ini dia juga memiliki hak lantaran tidak terima disuruh pergi dari sini.
Padahal Raka tidak ada membahas tentang hak serta kekuasaan tetapi perempuan cantik itu malah ngelantur kemana-mana.
"Makanya cerita biar nggak abang usir," lagi pula setelah membuat dia semakin penasaran tetapi tidak ingin bercerita menjadi buat apa datang dan membuang waktu saja.
"Tapi janji jangan ke pengen ya," Riska mengacungkan jari kelingkingnya kepada Raka untuk berjanji bahwa apa yang akan dia ucapkan nanti tidak membuat laki-laki itu iri.
Karena Riska yakin bahwa apa yang akan dia ceritakan ini pasti akan membuat Raka iri dan ketar-ketir sendiri jadi harus dipastikan dulu bahwa hati Raka bisa menerima terhadap cerita apa yang akan dia sampaikan.
"Kenapa harus ada janji segala?" Jika tidak ingat jika perempuan cantik yang duduk di sebelahnya ini adalah saudara kandungnya mungkin sudahlah kau lempar keluar kantor ini lewat jendela ruangannya.
Mau bercerita saja harus berbelit-belit seperti ini padahal tinggal ngomong saja lalu selesai tetapi Riska justru membuat dia naik darah.
"Pokoknya harus janji dulu dan nggak boleh iri," Riska masih mengacungkan jari kelingkingnya agar Raka mau berjanji dan dengan terpaksa laki-laki yang sudah menikah tapi masih perjaka itu menautkan jari kelingking mereka berdua sebagai janji bahwa dia tidak akan iri.
"Ribet banget sih, sekarang cerita," terpaksa sekali tampaknya Raka berjanji apalagi jika sudah mendengar kata iri yang dilontarkan oleh adiknya maka cerita itu pasti akan membuat dia merasa kepingin juga.
Raka sudah bisa menyimpulkan dari ucapan adiknya apalagi sampai berjanji seperti ini maka kata iri tadi pasti akan Raka rasakan.
"Waktu ulang tahun Bang Rasya itu kan kami malam pertama di hotel," baru mendengar awal cerita saja Raka sudah merasa panas apalagi mendengar kata malam pertama tentu saja dia menginginkan juga momen itu.
"Bahkan setelah malam itu pun Bang Rasya tidak pernah libur untuk meminta jatahnya dan kami sepakat untuk nggak menunda untuk memiliki momongan walaupun Riris masih kuliah, tapi sampai sekarang baby itu belum ada dalam perut Riris padahal kami sudah membuatnya setiap malam. Menurut abang kenapa sampai sekarang Riris belum hamil? Apakah salah gayanya atau kurang sering melakukannya,"
Benar kata Riska tadi bahwa apa yang akan dia ceritakan pasti akan membuat Raka iri dan terbukti saja laki-laki itu ketar-ketir sendiri apalagi mendengar kata membuat setiap hari.
Sekarang dia menyesal sendiri memaksa adiknya untuk bercerita dan seharusnya dia mengikuti saja untuk tidak mendengar serta tidak memaksa Riska untuk membagi kegelisahannya.
Dan juga dia gemas sendiri hanya lantaran dirinya belum hamil sampai sekarang membuat dia menangis ke kantor yang membuat Raka sangat khawatir tapi cuma tadi berbeda dengan sekarang ingin sekali menenggelamkan adiknya ke dalam kolam berenang yang ada di rumah orang tuanya.
__ADS_1
Benar juga kata Riska jika Raka kepengen tetapi dia belum berbaikan bersama Farah lalu Siapa yang bisa diajaknya untuk melakukan malam pertama dan malam-malam indah berikutnya.
"Nah kan abang mupeng kan, tapi bukan salah Riris tapi salah Abang yang memaksa Riris untuk bercerita," Riska memang tidak merasa bersalah telah membuat abangnya kepingin karena tadi dia sudah mewanti tapi salah Riska juga yang datang dalam keadaan menangis tentu saja laki-laki Ini penasaran terhadap apa yang telah dia alami.