
"Emangnya papi mau ke mana hingga harus menitipkan perusahaan kepada Abang dan juga bukannya papi sudah pensiun juga?" Jika anaknya pergi ke luar negeri maka Arga bisa menggantikan posisi anaknya untuk sementara waktu bukan malah meminta Raka untuk menghandle.
"Mami kamu harus kontrol dan kebetulan jadwal nya bentrok," nampak wajah sendu di wajah Arga apalagi mengingat kondisi istrinya yang belakangan ini menurun dan butuh perhatian ekstra dan juga pengobatan yang intensif agar segera pulih dari penyakitnya, maka dari itu dia tidak bisa menghandle perusahaan selama anaknya berada di luar negeri.
Memang sejak dulu para laki-laki paruh baya yang masih tampan di usianya yang tidak muda lagi memang saling bantu jika ada kesulitan atau butuh bantuan seperti sekarang.
"Semoga mami cepat sembuh Pi," Raka juga tau bagaimana perempuan yang di panggil mami itu mengalami sakit beberapa tahun belakangan ini dan harus rutin kontrol.
Apa lagi dia memiliki cucu yang masih kecil jadi jiwa ingin sembuh nya begitu besar dan ingin main bersama cucunya dan melihat tumbuh kembang sang cucu.
"Iya makasih bang," Arga lega karena ada yang akan menghandle perusahaan selama dia dan Abi tidak ada di Indonesia.
Mereka memang saling bantu sejak dulu dan kini menurun ke sifat anak mereka yang membantu saudara yang butuh bantuan.
Apa lagi penyakit yang di derita Nafisa istri Arga butuh perhatian khusus dan juga cukup sang opa yang meninggalkan mereka semua dan mereka belum siap harus kehilangan anggota keluarga lagi.
"Kalau papa ada apa? Papa ngga lagi puasa bicara kan," Perhatian Raka teralih pada Abra, karena sejak datang dia banyak diam.
Padahal dulu para unclenya memang aneh jika diam justru sering menjahili Raka saat masih kecil.
"Papa cuma mau minta tolong untuk menghadiri meeting dengan perubahan dari Amerika yang mana anaknya sebagai perwakilan," hah sudah bisa Raka tebak sejak awal jika kedatangan mereka memang sudah ada niat tersendiri dan pasti hanya akan menambah kerjaan Raka saja.
Tapi untuk menolak juga tidak bisa, dia orang tua Raka.
Dan mereka paling bisa memanfaatkan situasi dan tau Raka tidak akan menolak.
"Papa mau jadiin abang umpan para perempuan genit itu? Papa tau kan kalau abang udah punya bidadari," yang benar saja di suruh bertemu perempuan genit yang akan menggoda kliennya, belum lagi pakaian yang di gunakan membuat zina mata dan menambah list dosa.
Deg...
Jantung Dean berdetak kencang saat mendengar Raka berucap sudah memiliki bidadari sedangkan yang di anggap bidadari hanya bisa menyakiti perasaannya.
Dean tidak bisa membiarkan hubungan anak dan menantunya terus berlarut seperti ini.
"Kali ini aja bang," Abra memasang wajah memelas dan membuat Raka tidak bisa menolaknya.
Kenapa para lelaki tua ini pintar sekali memanfaatkan Raka yang tidak enakkan orang nya.
"Besok kalau cari menantu jangan terlalu posesif pa, bikin susah aja," Raka tau kenapa Abra sampai turun tangan seperti ini.
Sudah pasti jawabannya adalah menantunya yang tidak ingin suaminya berinteraksi dengan lawan jenis apa lagi sejenis ulat bulu.
Tapi, Kenapa Raka yang jadi korban?.
"Mau bagaimana lagi namanya juga cinta, jangankan yang posesif yang udah menyakiti aja masih mau bertahan," entah Abra sadar atau tidak? Bahwa secara tidak langsung sudah menyinggung Raka yang masih bertahan walau sudah di sakiti berulang kali.
"Sekarang Daddy mau apa datang ke kantor? Mau pimpin perusahaan lagi? kalau iya abang senang sekali biar bisa melanjutkan kuliah lagi," Raka senang jika itu memang kejadian tapi rasanya tidak mungkin karena Arka memang sudah berniat untuk pensiun dini.
"Mimpi itu malam bang, bukan siang," nah kan mana mau Arka kembali memimpin perusahaan jika santai dan menikmati waktu bersama istri itu jauh lebih bahagia daripada berjibaku sama tumpukan berkas yang tidak pernah habisnya.
"Udah abang duga," memang tidak bisa diharapkan lagi jika meminta Arka kembali ke perusahaan karena laki-laki itu tidak akan pernah mau kecuali kondisinya sangat mendasar.
Karena dia sudah terlalu menikmati waktu kebersamaannya yang lebih banyak bersama istrinya jadi tidak mau pusing-pusing memikirkan masalah pekerjaan.
"Papa ada apa ikut Daddy ke kantor? Nggak mungkin di paksakan?" Raka sudah seperti hakim saja menanyai mereka satu persatu tetapi semua jawaban itu belum ada yang membuat Raka merasa senang.
"Farah Minggu depan operasi," walaupun Farah tidak pernah menceritakan tentang penyakitnya tetapi sebagai orang tua tidak akan pernah luput memantau pergerakan serta aktivitas anaknya tanpa sepengetahuan mereka.
Tetapi Dean tidak pernah menunjukkan gelagat jika dia mengetahui tentang Farah.
"Tapi abang ada kerjaan saat itu pa, jadi nggak bisa datang maaf pa," Raka menunjukkan wajah menyesal karena tidak bisa ada di saat Farah menjalani operasi apalagi gadis itu juga tidak ada memberitahu ataupun sekedar mengirim pesan padahal mereka sama-sama memiliki nomor ponsel masing-masing.
"Nggak apa, doakan saja semua berjalan lancar," Dean juga tidak bisa memaksa menantunya ini apalagi dia tahu bagaimana sikap anaknya selama ini terhadap Raka jadi dia tidak ingin egois untuk meminta Raka berada di negara ini dan menemani Farah saat operasi.
__ADS_1
"Makasih pa atas pengertiannya," mereka cukup lama berbincang di sana bahkan sempat makan siang bersama yang dipesan oleh Raka kepada sekretarisnya.
Banyak hal yang mereka bahas hingga masalah perusahaan yang dititipkan kepada Raka selama pimpinannya tidak berada di tempat dan juga Raka harus memikirkan kesiapan mental serta membagi waktu karena tidak mudah memantau tiga perusahaan sekaligus.
Setelah tidak ada lagi yang mau dibahas mereka berempat berpamitan dan meninggalkan Raka untuk melanjutkan pekerjaannya.
Di kediaman Dean pada malam hari...
"Kakak baik-baik aja?" Saat makan malam bersama Dean melihat kondisi anaknya yang tidak baik-baik saja dan juga wajah parah sedikit pucat dari biasanya.
"Nggak apa pa, cuma pengin istirahat aja," Farah tidak mungkin menceritakan tentang kondisi tubuhnya yang semakin menurun dan juga tentang penyakit yang sedang dia alami.
"Baiklah setelah makan kakak langsung istirahat," padahal dia sangat berharap jika Farah mau berbagi keluh kesah kepada kedua orang tuanya, tetapi gadis itu lebih memilih memendam sendiri dan itu membuat Dean merasa kecewa terhadap sikap anaknya.
Sebagai orang tua dia merasa tidak dianggap dan tidak dibutuhkan saat berada di kondisi situasi tertentu.
Padahal sebagai orang tua dia ingin menjadi tempat satu-satu bagi anaknya untuk mencurahkan segala apa yang dirasakan bukanlah merahasiakannya.
Keesokan harinya, Farah sudah bangun pagi sekali bahkan sebelum subuh gadis itu sudah keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.
Saat melewati ruang keluarga, samar-samar Farah mendengar suara orang tuanya padahal ini masih sangat pagi tapi kedua orang tuanya sudah bangun.
"Kenapa kakak tega menyembunyikan penyakitnya sama kita pa?"
Deg...
Langkah kaki Farah terhenti mendengar ucapan dari mamanya dan dia berdiri di balik dinding untuk memastikan bahwa apa yang dia dengar tidaklah salah.
"Mungkin kakak cuma nggak ingin kita cemas mam," Dean menenangkan istrinya yang sedang menangis berada di dalam pelukannya dan tidak lupa mengusap punggung yang bergetar lantaran belum bisa menghentikan suara tangisnya walaupun tidak sampai kedengaran oleh para yang berdiri di balik dinding menguping obrolan orang tuanya walaupun dia tidak sengaja.
"Lalu dengan dia menyembunyikan kenyataan ini dan kita mengetahui apakah dia nggak berpikir bahwa kita sangat mencemaskan kondisinya apalagi ini anak sendiri," mana mungkin sebagai seorang mama dan perempuan yang telah melahirkannya ke dunia tentu merasa sakit bahwa Putri kecil mereka mengidap penyakit tetapi malah menahan sendiri tanpa mau berbagi.
"Apakah mama ini mama yang nggak baik sampai anak sendiri lebih memilih memendam sendiri apa yang di rasakan dari pada berbagi?"
Deg...
**Mama adalah mama terbaik di dunia ini**
Farah terduduk di balik dinding itu dengan membekap mulutnya agar suara tangisannya tidak didengar oleh kedua orang tuanya.
Maksud dia menyembunyikan penyakit ini agar tidak membuat orang tuanya cemas namun ternyata tindakannya salah justru dengan begini dia telah membuat kedua orang tuanya kecewa sebab menanggung penyakit sendiri dan tidak mau berbagi padahal keluarga adalah tempat pertama tempat kita berbagi keluh kesah.
"Mungkin mama memang nggak di anggap orang tau lagi pa,"
Deg...
Deg...
Deg....
Rasanya pasukan oksigen di dada Farah semakin menipis apalagi mendengar jika Farah menganggap tidak memiliki Mama lagi padahal selama sebulan lebih ini mereka selalu bertemu dan berinteraksi tetapi tidak pernah sekalipun Farah mengungkit tentang penyakit yang dia derita.
"Mama nggak boleh ngomong seperti itu sebab jika kita berada di posisi kakak pasti akan melakukan yang sama karena nggak ingin membuat orang tua kita cemas akan kondisi kita," walaupun Dean tidak membenarkan apa yang dilakukan oleh anaknya tetapi dia juga tidak bisa menyalahkan Farah sebenarnya sebab dia ingin menjaga perasaan orang tuanya agar tidak mencemaskan kondisinya walaupun dengan cara yang salah.
Memang sebagai orang tua sangat mengharapkan anaknya mau berbagi penderitaan serta kebahagiaan agar mereka merasa dianggap sebagai orang tua bukan seperti yang dilakukan oleh Farah yang mana lebih memilih sendiri menyimpan penderitaan yang dia rasakan belum lagi bahtera rumah tangganya yang belum jelas kedudukannya hingga sekarang apakah masih bisa dilanjutkan atau berujung di meja pengadilan.
Apalagi Raka yang belum memberikan jawaban tentang kelanjutan hubungan pernikahan mereka tetapi Farah memang sangat berharap bahwa pernikahan mereka masih bisa diperbaiki dan Raka mau memulai semuanya dari awal lagi dengan cerita yang baru serta penuh warna.
Setelah cukup lama mendengar obrolan orang tuanya Farah bangkit dari duduknya dan memilih kembali ke kamar karena tidak mungkin jika dia ketahuan menguping.
"Aku udah bikin semua orang kecewa," Farah duduk di tepi ranjangnya dan memikirkan sikap dia selama ini baik kepada orang tua maupun suaminya.
Rasa bersalah itu sama-sama besarnya merahasiakan penyakitnya dari kedua orang tuanya dan memperlakukan Raka tidak baik di awal pernikahan mereka lalu berakhir dengan penyesalan sekarang.
__ADS_1
"Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang?" Farah sangat besar sekali terhadap apa yang harus dia lakukan sekarang apalagi jadwal operasinya adalah lusa yang tidak bisa ditunda lagi mengingat pendonor ginjal itu yang meminta dimajukan jadwalnya sebab hanya hari itu dia memiliki waktu luang.
"Nanti setelah operasi aku akan menyelesaikan semua masalah yang telah aku lakukan dan juga menemui Abang untuk meminta kepastian hubungan kami," walaupun Farah mendengar jika Raka akan melangsungkan pernikahannya bersama perempuan lain tetapi dia masih ingin memastikan tentang hubungan pernikahan mereka yang akan dibawa ke mana.
Apalagi dia pernah melihat perempuan yang dianggap sebagai calon istri suaminya itu yang memang sangat cantik dengan balutan gamis serta penampilan yang anggun.
Farah melihat penampilan perempuan itu sangat cocok bersanding bersama Raka tetapi jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam dia tidak rela bahwa suaminya harus berakhir bersama perempuan lain, hatinya perih mendapati kenyataan itu.
Pagi hari....
"Pagi pa ma," Farah berpura-pura tidak tahu bahwa dia telah mendengar obrolan orang tuanya subuh tadi.
Tetapi dia dapat melihat wajah sang mama yang tampak sendu serta menatap dia dengan tatapan kecewa.
**Maafin aku ma**
Mereka memulai sarapan paginya dengan tenang dan setelah selesai Sarah adiknya meminta diantarkan ke kampus karena mobil yang digunakan sedang di servis di bengkel.
Farah tentu senang hati mengantarkan adiknya pergi ke kampus setidaknya dia bisa menghindar sementara waktu dari orang tuanya.
Jika dia berada di rumah terlalu lama maka rasa bersalah dan berdosanya semakin memasuki hatinya.
"Kakak gimana sama abang?" Farah terdiam di tempatnya mendengar pertanyaan dari adiknya dan beruntung mereka saat ini berhenti di lampu merah jadi tidak membahayakan mereka ataupun pengemudi lainnya seperti mengalami kecelakaan karena kaget mendengar pertanyaan dari adiknya.
"Maksud adek apa ngomong gitu?" Tentu saja Farah tidak paham dengan pertanyaan dari adiknya apalagi dia pernah mendengar jika Raka masih mencintai Sarah.
Itu yang dia dengar dari ucapan Raka waktu itu dan mengambil kesimpulan jika Raka masih mencintai adiknya.
"Aku tau kak jika kakak berada di rumah karena sedang ada masalah sama bang Raka," Sarah bukan anak kecil lagi yang bisa dibohongi apalagi gadis yang masih kuliah itu sudah memiliki kekasih yang sampai sekarang belum dikenalkan kepada keluarganya.
"Kamu jangan sok tau dek," tidak mungkin Farah berkata jujur tentang apa yang sedang dia alami sekarang.
Orang tua yang kecewa kepadanya serta hubungan dia yang renggang bersama suaminya apalagi mendapati kenyataan Raka yang masih mencintai adiknya dan juga mengetahui suaminya sudah memiliki calon istri yang lain.
Kenapa begitu kompleks sekali yang Farah rasakan sekarang?.
"Kakak pasti merasa bahwa abang masih mencintai ku kan? Kakak salah besar sebab abang udah memiliki sendiri perempuan yang di cintai tapi orang itu bukan aku," walaupun umur Sarah masih terbilang kecil tetapi pengamatannya tentang laki-laki yang pernah mencintainya dulu tidaklah salah bahwa Raka memang sudah memiliki sendiri perempuan yang dicintainya walaupun Sarah belum mengetahui Siapa orangnya.
"Kan memang seperti itu kenyataannya dan juga jika bukan kamu yang dicintainya sekarang berarti perempuan itu," Farah sudah yakin jika perempuan itu yang dicintai oleh Raka sekarang dan sepertinya dia tidak memiliki kesempatan untuk bersama lagi dan memperbaiki hubungan pernikahan mereka.
"Kakak tahu kan jika berasumsi sendiri dan mengambil keputusan serta kesimpulan tanpa menanyakan pada orang yang bersangkutan hanya akan membuat kita kecewa dan merasa sakit hati tanpa alasan," Sarah merah saja kakaknya sudah salah paham tentang semua ini tetapi Sarah tidak ingin membantu dalam hal ini karena bukanlah ranahnya.
"Kamu anak kecil tahu apa mending lebih baik fokus kuliah lalu nikmati masa muda tanpa perlu memikirkan tentang percintaan apalagi harus memperbaiki hubungan yang rumit," Farah hanya tidak tahu saja jika adiknya sudah memiliki kekasih yang sangat bucin kepada Sarah.
"Aku cuma berharap jika kakak nggak menyimpulkan sesuatu tanpa mencari bukti sama sekali karena hanya akan menimbulkan kesalahpahaman serta penyesalan. Dan aku berharap dan aku sangat yakin bahwa kalian nggak akan pernah terpisahkan walaupun banyak cobaan yang datang termasuk orang ketiga dalam hubungan kalian," mobil yang dikendarai Farah berhenti di depan kampus lalu Sarah berpamitan kepada kakaknya dan turun dari mobil.
Farah meninggalkan area kampus adiknya dengan melaju mobil dengan pelan sambil memikirkan ucapan terakhir adiknya dan dia mengaminkan di dalam hati serta sangat berharap bahwa hubungannya bersama Raka tidak akan pernah berakhir justru dia berharap semakin yang baik dan mereka bersama lagi.
Jika Farah diberi kesempatan untuk bersama kembali dengan suaminya maka dia berjanji akan memperlakukan suaminya dengan baik dan melayani sepenuh hati.
Sebab dari kejadian serta kejadian yang pernah dia lalui membuat garis ini paham bahwa tidak perlu menyangkut pautkan masa depan dengan masa lalu yang hanya akan merusak masa depan jika masa lalu kita bawa bersama.
"Semoga saja kami masih di beri kesempatan untuk bersama," doa Farah di dalam hati dan sangat berharap jika dia masih bisa berada di sisi Raka.
"Itu kan!" Farah melihat mobil Raka dan juga laki-laki itu yang duduk di kursi kemudi mobilnya yang kebetulan bersisian dengannya di lampu merah apalagi kaca mobilnya terbuka.
Jadi tidak menyulitkan Farah untuk mendapati suaminya bersama seorang perempuan.
Lampu berubah menjadi warna hijau karena penasaran Farah mengikuti hingga mobil itu memasuki area bandara.
"Kenapa mereka pergi ke bandara? Apa mereka mau pergi honeymoon?" Pikiran Farah berkecamuk dan belalang buana entah ke mana serta dia memikirkan sesuatu membuat dadanya sesak.
Farah masih mengikuti langkah mereka berdua dalam jarak yang aman dan dapat parah liat bahwa perempuan itu berpegangan kepada lengan Raka tanpa mendapatkan penolakan sama sekali dari laki-laki itu.
__ADS_1