Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
Sebuah Rencana


__ADS_3

Bramanthy Group adalah sebuah perusahaan yang bergerak dibidang tekstil. Berpusat di Kota Surabaya namun memiliki cabang di beberapa kota di Indonesia seperti di Bandung, Yogyakarta, Denpasar dan bahkan di luar negeri seperti Singapura.


Sebuah usaha pasti akan ada pasang surutnya. Begitupun dengan Bramanthy Group, pernah mengalami kemrosotan harga saham ketika sang CEO meninggal, Bimo Bramanthy. Terjadi gonjang-ganjing dan perebutan posisi yang menduduki jabatan tersebut. Namun pada akhirnya sang putra lah yang menjadi CEO menggantikan sang ayah.


Kini Bramanthy Group berada pada titik keemasan ketika berada dibawah pimpinan CEO muda berusia 30tahunan ini. Memiliki basic pendidikan yang bagus dan talenta luar biasa yang menjadikan sang CEO muda ini menjadi 10 besar pebisnis yang sukses di negeri ini. Sang CEO saat ini lebih sering mengurus perusahaannya yang berada di Singapura daripada di tanah air. Hal tersbeut dikarenakan ia ingin melebarkan sayapnya lagi untuk membuka cabang di negara lain.


Acara Festival kemarin dalam rangka rangkaian ulang tahun anak perusahaan yang bercabang di Bandung yang ke sepuluh tahun berdiri. Bertujuan untuk ikut melahirkan designer muda yang siap tampil di industri fashion di Indonesia.


***


Menjadi pemenang juara satu dalam acara festival designer kemarin manambah rasa percaya diri bagi Himeka. Ia berencana untuk membuka sebuah butik sebagai langkah awal menapakkan kakinya masuk ke dunia bisnis fashion. Dukungan dari mertua dan para sahabatnya menjadikan sebuah motivasi untuk Himeka.


Niatnya untuk membuka butik pun juga ia sampaikan kepada Devano. Sejak mereka bertemu di Bandung beberapa hari yang lalu, mereka menjadi sering berkomunikasi. Devano menyambut baik rencana Himeka untuk membuka butik. Devano sangat percaya akan kemampuan Himeka.


Devano menawarkan bantuan kepada Himeka untuk mencarikan tempat yang cocok untuk membuka butik. Himeka pun menyetujuinya.Salah satu Pusat perbelanjaan di Kota Surabaya menjadi tempat yang dipilih Devano.


"Iya, Me. InsyaAllah besok pagi saya perjalanan ke Surabaya sekalian ada meeting dengan para direksi." kata Devano. Kini mereka sedang mengobrol di sambungan telepon.


"Iya, Dev. Aku tunggu." jawab Himeka


"Hati-hati ya, jangan ngebut lho." sambung Himeka


Mendapat sedikit perhatian dari Himeka, Devano merasa senang.


"Besok, setelah selesai meeting kita survey lokasi ya, Me." ajak Devano


"Iya, Dev. Kalau misalkan cocok sekalian saja kita tawar harga sewanya."


"Iya, kalau masalah itu gampang, Me." jawab Devano


"Ya sudah, Dev. Udah dulu ya, aku mau nina bobokan Navya dulu. Udah waktunya dia tidur."


" Sekarang Navyanya sedang apa, Me?"


"Itu masih belajar mewarnai sama Mbak Rina dan Mak Tum dari tadi."

__ADS_1


"Ya sudah, ajak bobok gih! Udah malam."


"Iya, Dev. Aku tutup ya telponnya. Assalamu'alaikum"


" Wa'alaikumsalam"


Setelah usai berbicara dengan Devano, ia pun segera ke ruang tengah, tempat di mana Navya sedang asyik mewarnai dengan ditemani dua asisten rumah tangganya.


"Wah, hebat sekali anak bunda mewarnanya." puji Himeka


Mendapat pujian dari sang Bunda, mata Navya pun berbinar.


"Makasih ya Bunda. Navya dibantuin tadi sama Mbak Rina." jawab Navya


"Itu gambar apa sih, Nak?"


"Ini gambarnya ayah, ini Bunda dan ini Vya sambil memegang balon. Balonnya kuberi warna pink. Cantik kan?" Navya dengan semangat menjelaskan kepada bundanya.


Seketika tiga orang dewasa di ruangan itu pun menjadi haru. Gambar yang diwarnai Navya adalah sebuah potret keluarga bahagia lengkap dengan keberadaan ayah dan bundanya. Namun mereka berusaha untuk menutupi air matanya yang lolos tanpa permisi dari hadapan Navya.


"Iya, Bunda." Navya patuh. Segera ia bersama dengan Mbak Rina melakukan ritualnya sebelum tidur malam.


"Mak, kenapa tadi Vya dikasih gambar itu untuk diwarnai?" tanya Himeka kepada Mak Tum yang kini sedang membereskan alat mewarnai Navya


"Maaf, Bu. Tadi Vya yang minta gambar itu. Katanya ada gambar ayah dan bundanya. Padahal tadi sama Rina sudah diberikan gambar hello kitty namun nduk Navya menolak." Mak Tum mencoba menjelaskan


"Ya sudah tidak apa-apa Mak." jawab Himeka dengan senyum sekilas


Himeka segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar Navya yang berada di lantai dua bersebelahan dengan kamarnya.


"Vya sudah siap tidur?" tanya Himeka ketika tiba di kamar Navya dan mendapati Navya sedang berganti baju tidur dengan dibantu Mbak Rina.


"Sudah siap, Bunda." jawab Navya


"Bu, saya permisi dulu." pamit Mbak Rina

__ADS_1


"Iya, Mbak. Makasih ya Mbak Rina." kata Himeka


"Makasih, Mbak Rina" Navya pun tidak mau ketinggalan untuk mengucapkan terimakasih kepada Mbak Rina


"Inggih, Bu. Iya Nduk Vya, Sayang." jawab Mbak Rina dengan menatap dua majikannya bergantian. Mbak Rina dengan perlahan keluar dari kamar Navya dan menutup pintunya.


"Vya, mau dibacakan cerita apa?" tanya Himeka kepada Navya yang sekarang sudah berada dibalik selimut gambar Frozen. Himeka membawa beberapa buku cerita yang ditunjukkan kepada putrinya.


"Mau yang ini aja, Bunda." jawab Navya dengan menunjuk salah satu judul buku.


Segera Himeka membacakan cerita untuk Navya. Sepuluh kemudian, Navya sudah terlelap. Himeka menutup buku ceritanya dan mencium kening buah hatinya.


"Selamat tidur, Sayang. Mimpi yang indah ya. Kasian kamu di usia kamu yang masih kecil kamu sudah harus kehilangan sosok ayah." Tak terasa buliran bening menetea mengenai kening Navya. Buku-buku Himeka mengelapnya, takut untuk membuat Navya terbangun.


Himeka bangkit dari tempat tidur dan merapikan letak selimut Navya. Sejenak ia menatap wajah tenang Navya. Dengan langkah kecil-kecil pelan tak bersuara ia keluar kamar Navya setelah mengganti penerangan kamar Navya menjadi lampu tidur.


Himeka menuju ke kamarnya. Kini saatnya ia mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Namun alih-alih mau mengistirahatkan pikirannya, tiba-tiba ada rasa rindu yang mendalam menyeruak di dada.


Segera dia meraih sebuah album foto yang tersimpan di nakas d sisi tempat tidurnya. Banyak senyuman dan tawa yang terlukis dalam album foto berwarna abu-abu itu. Seketika air matanya pun kembali luruh. Sekuat tenaga ia menahan untuk tidak jatuh ternyata sangat sulit ia lakukan.


Mungkin memang benar, yang lebih berat dari kehilangan adalah mencoba baik-baik saja di hadapan manusia meski hati dan perasaannya sedang merasa hancur. Dan selama ini itulah yang dilakukan oleh seorang Himeka Khumari. Menutupi sebuah luka dengan seberkas tawa.


"Mas, aku kangen.... " kata Himeka seraya mengusap sebuah foto pernikahannya dengan almarhum suaminya


"Tunggu aku di keabadian." sambungnya di tengah-tengah air matanya yang kian menetes membasahi pipi tirusnya


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes,, biar aku lebih semangat nulisnya 🤗


Terimakasih 🥳

__ADS_1


Salam ketjup basah💋


__ADS_2