
Cerita berikut ini adalah mengenai Sandra yang lemah karena sakit. Ia baru saja ditinggal mati oleh kekasihnya. Di hari yang sama ia bertemu seorang pria yang hendak mengakhiri hidupnya.
Bagaimana kisahnya?
Selamat membaca.
...***...
Di sebuah kamar rawat inap di rumah sakit.
Seorang pasien pria sedang berada dalam masa kritisnya.
“Kak ... Kak ...” Sandra yang berkursi roda berupaya agar Jonathan, kekasihnya bisa menyadari keberadaannya.
“Tit ...” Terlihat garis lurus di layar monitor pembaca detak jantung. Jonathan dinyatakan meninggal dunia. Suster menutup kepala Jonathan dengan sehelai kain putih lalu membawa mayat Jonathan ke kamar mayat.
Sandra menjerit. Ia tidak rela jika Jonathan meninggal terlebih dahulu dari dirinya. Mereka berdua bertemu di rumah sakit saat sama-sama menjadi pasien. Jonathan sakit jantung sedangkan Sandra terkena tumor yang menyebabkan kakinya menjadi lemah.
__ADS_1
Walaupun Sandra tahu ia harus merelakan Jonathan tetapi ia tidak bisa.
“Lupakan aku. Berbahagialah dengan pria lain. Kamu pasti akan bisa menjadi ibu yang baik,” pesan terakhir Jonathan terngiang di kepanya.
Kak, bagaimana aku bisa hidup jika Kakak tidak berada di sampingku. Bukankah Kakak diperkirakan akan hidup lebih lama dariku tetapi kenapa Kakak yang malah pergi meninggalkan diriku.
Sandra ingin pergi ke atap rumah sakit, tempat dirinya dan Jonathan menghabiskan waktu di rumah sakit selain di kamar. Ia menuju ke tangga darurat.
Ia meninggalkan kursi rodanya dan berjalan pelan menaiki satu persatu anak tangga menuju atap rumah sakit. Ia ingin melihat langit biru. Pemandangan yang sering ia lihat bersama Jonathan.
Kakak sekarang berada di mana? Apakah Kakak sudah di atas sana? Sandra merindukan Jonathan.
Ia baru saja ditipu. Usaha yang ia bangun selama bertahun-tahun hancur karena teman yang sangat ia percayai. Belum sampai disitu saja. Kekasihnya juga memutuskan hubungan dengannya saat mengetahui jika Jamie sudah jatuh miskin.
Sekarang ia berada di rumah sakit karena tertabrak motor. Untunglah ia tidak terluka parah dan pengendara motor mau bertanggung jawab dan membiayai pengobatannya.
“Sekali lagi maafkan saya.” Pengendara motor itu meminta maaf. Pengendara itu lalu pamit karena ada suatu keperluan setelah membayar biaya rumah sakit Jamie.
__ADS_1
Buat apa aku hidup. Jamie melangkahkan kakinya menuju atap rumah sakit. Ia putus asa. Dan melihat tidak ada gunanya lagi ia berada di dunia ini. Dalam perjalanannya ia melihat ada kursi roda di bawah tangga.
Kursi roda ini milik siapa? Tetapi Jamie tidak peduli. Ia tetap menaiki anak tangga menuju atap. Ia sudah berada di atap. Ia melihat ke bawah. Ketinggian atap tak menciutkan nyali.
Ini tempat yang bagus. Aku bisa langsung mati. Nggak lucu kalau aku masih bisa hidup setelah jatuh di ketinggian ini.
Jamie ingin meninggalkan dunia ini. Ia sudah benar-benar terpuruk.
“Brukkk ...” Jamie mendengar suara benda berat terjatuh di belakangnya. Ia melihat seorang wanita muda yang terjatuh. Jamie buru-buru membantunya.
“Kamu tidak apa-apa?” Jamie melihat wajah pucat sang wanita. Dari pakaian yang wanita itu kenakan Jamie tahu jika wanita muda ini adalah pasien rumah sakit.
“Aku baik-baik saja.” Sandra tersenyum.
“Apa kau bisa membantuku kembali ke kamarku?” pinta Sandra.
Jamie membantu Sandra kembali ke kamarnya. Jamie menuntun Sandra yang berjalan pelan. Mereka tiba di bawah tangga.
__ADS_1
Sandra duduk di kursi rodanya. Ia memberitahu Jamie di mana letak kamarnya.