
Vincent memang buta tetapi ada satu hal yang belum diketahui Ariel. Sewaktu-waktu Vincent bisa melihat dengan jelas walau hanya sesaat. Vincent bisa melihat tubuh polos Ariel yang menggiurkan dan menggerakkan sesuatu di bawah sana.
“Segera pakai pakaianmu.” Vincent tak ingin birahinya naik dan membuatnya berbuat yang tidak-tidak ke Ariel.
“Baik, Tuan.” Ariel segera memakai piyamanya.
Vincent segera menuju ke kamar mandi untuk menuntaskan apa yang tidak bisa ia lakukan kepada Ariel. Ia juga laki-laki normal.
Perlahan hasrat Vincent mulai reda. Ia keluar dari kamar mandi dan mendapati Ariel yang sudah tertidur dengan pulas. Tetapi pemandangan itu terulang lagi. Ariel tidak memakai bra dan baju yang ia pakai terangkat ke atas.
Vincent balik lagi ke kamar mandi. Ia berjalan mundur dan mendekati Ariel lalu menyelimuti Ariel.
Ariel. Ariel. Kamu itu. Jadi wanita kenapa selengah ini. Kamu beruntung aku bukan pria brengsek yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Vincent menatap wajah Ariel. Ariel mendorong selimut yang baru dipakaikan oleh Vincent. Pemandangan itu tampak lagi. Vincent terpaksa ke kamar mandi lagi.
__ADS_1
Sudah berapa kali aku ke kamar mandi malam ini. Apa sebaiknya aku pisah kamar dari Ariel. Tapi nanti berita hoax yang disebar Abu jadi sia-sia.
Vincent menutupi Ariel lagi dengan selimut. Ariel tanpa sengaja mendekatkan kepala Vincent dan mereka berciuman. Ariel tiba-tiba terbangun. “AAAAAKH ...” Ariel berteriak.
Pelayan yang masih bangun langsung menuju ke kamar. “Nona, ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
“Tidak ada apa-apa. Kalian bisa beristirahat,” jawab Vincent dari dalam kamar.
“Ariel tadi menjerit karena melihat kecoa,” alasan Vincent.
Ariel mencoba mengingat-ingat lagi. Ia tadi terburu-buru berpakaian dan lupa memakainya.
Ariel berbaring dalam posisi membelakangi kasur Vincent. Kenapa aku merasa jika Tuan Vincent itu bisa melihat? Ariel merasa sedikit aneh. Dan ciuman tadi, apa Tuan Vincent kesandung atau bagaimana?
Ariel pusing dan bingung. Tetapi ia memutuskan untuk segera tidur. Ia harus bekerja besok.
__ADS_1
Keesokkan harinya.
Vincent pergi ke gedung untuk gladi resik. Vincent mulai bermain piano. Gladi resik berjalan cukup baik. Tinggal menunggu hari pertunjukkan besok.
Keesokkan harinya.
Para penonton mulai berdatangan. Mereka tidak boleh terlambat karena setelah pintu ditutup mereka tidak diperbolehkan untuk masuk guna menjaga konsentrasi Vincent.
Mereka yang terlambat diperbolehkan untuk masuk saat sesi kedua dimulai. Mereka berupaya datang lebih awal karena sudah bersusah payah untuk mendapatkan tiket pertunjukkan piano Vincent. Bahkan ada yang membeli lima kali lipat dari harga seharusnya.
Para tamu telah duduk dengan tertib. Vincent dituntun oleh Ariel untuk berada di depan piano. Vincent memberi hormat dengan menundukkan kepalanya lalu ia duduk di kursi. Vincent mulai memainkan satu tuts lalu diikuti dengan tuts yang lain. Awalnya begitu tenang tapi di tengah-tengah permainan pianonya menjadi lebih cepat.
Tak terasa sesi pertama telah berakhir. Para penonton diperbolehkan untuk beristirahat selama dua puluh menit. Begitu juga dengan Vincent, ia mengistirahatkan jari-jarinya untuk pertunjukkan sesi kedua.
Sesi kedua dimulai.
__ADS_1
Vincent bermain begitu apiknya. Ia berhasil membius penonton dengan permainan pianonya.