
“Dari sini lurus.” Sandra mengarahkan. “Belok kiri. Belok kanan. Stop.” Mereka berhenti di kantin.
Sandra mengambil dompetnya dan memberi uang ke Jamie. “Bisa bantu aku membeli donat. Kursi rodaku tidak bisa masuk. Terima kasih sebelumnya.”
Kantin yang menjual donat ini mempunyai jarak yang sempit antara rak yang satu dengan rak lainnya. Kursi roda yang dipakai Sandra tidak muat.
Jamie membeli sekotak donat.
“Terima kasih sudah membantuku.” Sandra menaruh kotak donat itu di atas pangkuannya. Ia menunjukkan arah jalan ke kamar tempat ia dirawat. Mereka tiba di kamar no 33. Jamie hendak meninggalkan Sandra.
“Maafkan aku sekali lagi. Apa kau bisa menemaniku sampai ibuku datang? Di sini terlalu sepi.” Sandra dirawat di kamar yang hanya berisi satu pasien.
Biasanya Sandra akan pergi ke kamar Jonathan dan menghabiskan waktunya di sana. Tetapi kamar itu telah kosong dan akan terisi pasien baru.
Jamie menemani Sandra. Sandra menawarkan donat yang mereka beli tadi. “Kakak boleh ambil yang mana saja kecuali yang rasa keju." Sandra menutupi donat dengan topping keju supaya tidak diambil Jamie.
“Kamu suka keju?”
“Suka. Sangat suka. Keju itu makanan paling enak sedunia.”
Jamie mengambil donat rasa coklat. Sandra mengambil remote dan menyalakan TV. Ia berusaha naik ke kasurnya. Sandra memakan donat keju favoritnya. “Kakak tidak bekerja?”
__ADS_1
“Aku pengangguran.”
“Laki-laki itu harus bekerja. Nanti istri dan anak Kakak makan apa?”
“Aku belum menikah.”
“Jadi Kakak itu jomblo? Kasihan. Kasihan. (nada upin dan ipin).”
“Kamu sendiri sudah punya pacar?”
“Sampai tadi pagi. Sekarang aku sudah available lagi.”
“Dia dipanggil Tuhan tadi pagi. Hati-hati, Kak. Arwahnya mungkin ada di dekat Kakak. Dia itu cinta banget sama aku.”
Entah kenapa Joshua merasa merinding. Apa yang dikatakan Sandra itu benar? Ada arwah kekasihnya di sini. Tapi ia terlihat begitu ceria. Apa ia berbohong tentang kematian kekasihnya itu?
Sandra tertawa melihat raut wajah Jamie.
“Kakak itu menggemaskan sekali. Aku pengen cubit pipi Kakak. Boleh cubit?” Sandra menjulurkan kedua tangannya. Tetapi Jamie malah menutupi kedua pipinya.
“Tuh, kan. Kakak itu imut.” Sandra tersenyum lebar.
__ADS_1
Sandra menawarkan donat lagi. Sekotak minus dua donat terasa terlalu banyak untuk dirinya sendiri. “Kakak makan lagi donatnya. Tapi jangan yang rasa tiramisu.”
“Aku sudah kenyang.” Tetapi terdengar suara perut Jamie.
“Kakak nggak usah malu-malu. Donatnya masih banyak. Kalau nggak habis hari ini, besok donatnya sudah mengeras.”
Jamie mengambil satu donat lagi.
Sandra sibuk dengan ponselnya. Beberapa saat kemudian. “Kak, bisa tolong ambilin makanan di bawah. Atas nama Sandra.”
Jamie membantu Sandra lagi. Entah kenapa Jamie merasa Sandra itu selalu membuatnya dirinya sibuk. Jamie turun ke bawah dan mengambil pesanan Sandra. Sandra tidak hanya memesan satu porsi tetapi empat porsi.
Sandra meletakkan meja kasurnya di hadapannya. Ia mulai membuka kemasan makanan dibantu oleh Jamie.
“Kakak makan juga. Aku nggak mungkin habis makan ini sendirian.” Ada fuyunghai, ifumie, sup asparagus kepiting terhidang di hadapan mereka. Jangan ditanya soal aroma masakannya. Sangat menggugah selera.
Jamie mengambil nasi dan lauk lalu memakannya. “Bukannya di rumah sakit sudah disediakan makan?”
“Tapi masakan rumah sakit itu nggak enak. Lebih enak masakan di luar karena banyak micinnya. He .. he ....”
“Tapi MSG yang berlebihan itu tidak baik untuk kita.”
__ADS_1