
Bhre Bramanty. Lelaki berusia 30th. Seorang CEO perusahaan di bidang tekstil bertajuk Bramanty Group. Usia yang matang dan karier yang cemerlang tidak serta merta membuat sang CEO ingin segera melepas masa lajang. Dengan dalih masih ingin fokus di bidang kariernya menjadikan ia sosok lelaki yang enggan untuk memikirkan sebuah pernikahan. Hingga kini ia telah berhasil menjadi 10 pebisnis muda yang terbilang sangat sukses. Tidak dipungkiri bahwa banyak koleganya yang ingin menjadikannya menantu atau bahkan pasangan. Namun ia merasa belum ada yang klik di hatinya.
Pov Bhre Bramanty
Sore ini aku ingin sekedar melepas lelah setelah seharian berada di balik meja kerja. Jalanan lumayan cukup lenggang. Tak seperti biasanya. Segera aku hidupkan mesin kuda besiku. Aku mengikuti kemana hatiku tertuju. Sampai aku melihat papan nama HK Boutique yang berada di sebelah kiri jalan. Aku belokkan setirku ke halaman HK Boutique. Bangunan Ruko yang didominasi oleh warna putih abu-abu ini sukses menarik perhatianku. Aku segera melangkahkan kakiku masuk ke boutique tersebut. Aku dikagetkan dengan suara anak kecil yang tiba-tiba memanggilku dengan sebutan ayah.
"Ayaaaaaaaaah." teriak anak kecil berjenis kelamin perempuan itu dan lansung memelukku. Aku bingung, siapa anak kecil ini. Kenapa langsung memanggilku ayah.
Aku hanya diam menatap anak kecil yang masih memelukku erat.
Pov End
Teriakan dari Navya membawa langkah Himeka menuju ke asal suara. Baru beberapa langkah, Himeka dibuat terpaku pada sosok pria yang berada tidak jauh dari jangkauannya.
Pria itu nyaris mirip dengan almarhum suaminya. Postur tubuhnya persis almarhum suaminya. Hanya pada tatanan rambutnya saja yang terlihat agak berbeda. Jika almarhum suaminya lebih suka menata rambutnya dengan model sisiran ke belakang tanpa belahan, beda dengan sosok pria di depannya. Ia menata rambutnya yang rapi dengan belahan di sisi kirinya.
"Ayah, Vya kangen sama ayah." kata Navya yang enggan melepas pelukan dari Bhre, nama pria itu.
Bhre hanya diam, tanpa balasan pelukan dan tanpa jawaban. Ia bingung dalam bersikap. Ia hanya menatap Navya.
__ADS_1
Sejurus kemudian ia mendapati kalau Himeka juga masih menatapnya. Sejenak pandangan mereka bertemu.
Sama-sama terpaku. Himeka masih tampak syok dengan pemandangan di depannya, sedangkan Bhre masih bingung dengan perlakuan anak kecil yang memeluknya.
Bhre menyakini bahwa perempuan di hadapannya adalah ibu dari gadis kecil yang memeluknya.
"Itu tidak mungkin Mas Dana. Mas Dana telah tiada. Ia telah bahagia di dunianya. Ia pasti orang lain yang hanya sekedar mirip dengan almarhum Mas Dana."
Himeka mencoba berdiskusi dengan pikirannya dan berdamai dengan perasaannya. Setetes buliran kecil metetes di pipinya. Jarinya terulur menyeka buliran itu.
Himeka pun memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya. Memangkas jarak antara dirinya dengan putrinya yang sedang memeluk sosok pria yang mirip dengan almarhum suaminya.
"Maaf, putri Saya mengira bahwa Anda adalah ayahnya." ujar Himeka
Ada penolakan dari Navya yang masih ingin memeluk sosok pria yang ia anggap adalah ayahnya.
"Gak mau, Vya masih mau sama ayah, Bunda." rengek Navya
Reflek tangan Bhre pun terulur membelai rambut Navya.
__ADS_1
"Ya sudah sini sama, Om."
"Aku manggilnya ayah, bukan Om." Navya membenarkan panggilan, ia tidak Terima jika harus memanggilnya dengan sebutan Om.
"Maaf, Mas..... "
"Bhre, nama Saya Bhre." jawab Bhre seraya mengulurkan tangannya dengan maksud memperkenalkan dirinya
"Saya Himeka, dan ini anak Saya Navya Orianthy. Mas Bhre, mari kita duduk. Ada yang perlu saya sampaikan kepada Mas Bhre." ajak Himeka.
Mereka pun duduk di kursi pelanggan butik yang di berada di salah satu sisi butik tersebut.
.
.
.
-tbc-
__ADS_1