
“Aku Steven. Aku aktor yang main di film ... Kakak mungkin pernah lihat wajahku di TV. Bukan pernah tapi sering. Sekarang dramaku lagi tayang di TV.” Steven mengambil remote TV dan menyalakan TV.
Ia mencari channel TV yang mengudarakan drama yang ia mainkan. “Aku main di FTV ini. Kakak tonton.”
Violet melihat Steven di TV dan Steven di sampingnya.
“Lebih ganteng aku di dunia nyata, kan?” Steven berkata dengan narsisnya. “TV bikin badanku kelihatan gemuk 5 kg.”
“Jangan dekat-dekat.” Agus duduk di antara Violet dan Steven yang sudah duduk bersebelahan dan membuatnya cemburu.
“Kak Agus harus cepat-cepat nikahin Kak Violet. Nanti ia direbut pria lain.”
“Kami sudah menikah.”
“Kapan? Aku kok nggak diundang. Aku kan sudah bilang ke Kakak kalau aku mau jadi MC pernikahan Kakak.”
“Biar kamu difotoin orang-orang?" Agus tahu jika adik tirinya ini menyukai perhatian dari orang-orang. Berbeda dengan dirinya yang low profile.
Violet berbisik ke Agus. “Mas, Steven itu adiknya Mas Agus?”
Steven langsung menjawab. “Iya. Aku adikknya Mas Agus.”
“Adik kandung?”
“Bukan. Adik tiri. Kami punya papa yang sama.” jawab Steven.
__ADS_1
Pantes. Steven lebih kelihatan bulenya.
Steven mengambil selembar kertas dan menandatanganinya. Ia memberikannya ke Violet tanpa diminta. “Suatu saat nanti tanda tangan ini akan bernilai sangat tinggi. Kak Violet bisa jual kalau Kakak lagi nggak punya uang.”
Steven lalu beralih ke Agus. “Kak, aku lapar.”
“Beli aja di resto. Kamu punya banyak uang.”
“Tapi nggak ada yang seenak masakan Kakak.”
“Bilang aja mau makan gratis.”
“He ... he ...”
Agus menuju ke dapur. Ia membuka lemari es dan melihat bahan-bahan apa yang bisa ia gunakan untuk memasak. Ia mengeluarkan wortel, jagung, sosis, bawang bombay.
Violet dan Steven menuju ke dapur. Mereka melihat cara Agus memasak. Terpesona bersama saat Agus membalikkan bahan-bahan di fry pan tanpa spatula seperti layaknya koki profesional.
Steven mengambil tiga piring kosong di lemari dapur. Nasi goreng sosis yang hangat dengan cepat tersaji. Steven memakan dengan lahap. Violet juga. Masakan yang hangat ikut menghangatkan hatinya.
“Kakak nggak makan?” Violet melihat Agus belum menyentuh nasi gorengnya.
“Aku sudah kenyang lihat kamu makan.”
Steven hendak mengambil piring Agus. “Kalau Kakak kenyang buat aku aja nasi gorengnya.”
__ADS_1
Agus berhasil mempertahankan piringnya. “Istriku minta aku naikin berat badan.” Agus mulai makan.
“Jangan makan-makan banyak-banyak, Kak. Nanti Kakak ipar kabur kalau Kakak gemuk,” goda Steven.
Ponsel Steven berbunyi. Telepon dari sang manajer yang mengingatkan jika sudah waktunya ia untuk syuting. Steven mengubah mode telepon menjadi panggilan video. “Kak Manajer, lihat istri Kak Agus. Cantik, kan?”
Agus langsung mengambil ponsel milik Steven dan memutuskan panggilan video. Ia tak ingin menunjukkan wajah Violet ke manajer adiknya.
“Kak, jangan over protective gitu sama kakak ipar.” Steven lalu berpamitan setelah menghabiskan nasi goreng di piringnya. “Nanti malam aku makan lagi di sini.”
Setelah Steven pergi.
Violet mencuci piring dan peralatan memasak yang kotor. “Steven itu tinggal di mana?”
“Di unit sebelah,” jawab Agus.
“Apa benar ia adik tiri Mas?”
“Nggak mirip, ya?”
“Iya.”
“Lebih ganteng dia?”
“Iya,” jawab Violet jujur.
__ADS_1
Agus diam. Ia tahu adiknya itu supel dan sering menjadi pencair suasana yang kaku tidak seperti dirinya yang bisa dibilang sedikit kaku.
Suasana menjadi kikuk di antara mereka berdua. Violet jadi bingung mau bicara apa lagi.