
Bhre dan Himeka beriringan menuju ke salah satu kursi di sudut kiri butik tersebut.
Sebelumnya, ia meminta Navya untuk menunggu di ruangan Himeka bersama salah satu asisten Himeka.
Awalnya Navya menolak pergi karena sedari tadi tangan Navya tidak mau lepas dari genggaman Bhre. Navya tidak rela lelaki yang ia yakini sebagai ayahnya itu harus menjauh darinya.
Berkat nasihat dari ibundanya dengan dalih ini pembicaraan orang dewasa dan Navya belum cukup umur untuk terlibat pembiacaraan, Navya akhirnya menuruti keinginan Himeka.
Namun ia pun mengajukan syarat, “Baiklah, Vya akan nunggu di ruangan Bunda. Tapi kalau bunda dan ayah sudah selesai berbicara, Vya mau dibelikan es krim ayah.” Pinta Navya dengan tangan dilipat di depan dada dengan bibir mungilnya yang mengerucut.
Reflek kepala Bhre mengangguk tanda ia menyetujui permintaan gadis kecil nan imut di depannya. Himeka menatap terpana melihat Bhre yang seolah sudah mendapat chemistry dengan putrinya, mengingat baru beberapa menit saja mereka berjumpa.
“Silakan duduk Mas.” Himeka mempersilakan Bhre untuk duduk.
Kursi itu berbentuk sofa sudut. Bhre duduk diujung kanan sedangkan Himeka duduk di ujung kursi yang lain.
“Aku meminta maaf jika putri saya berbuat seperti tadi.” Himeka membuka obrolan. Bhre hanya menanggapinya dengan senyum simpul.
“Navya, putri kecilku yang malang. Ia kehilangan ayahnya saat ayahnya bertugas.” Dengan wajah tertunduk dan dengan memainkan kuku-kuku jari tangannya. Ia mulai bercerita.
“Ayahnya seorang pilot, ia meninggal dalam kecelakaan pesawat. Navya masih mengira ayahnya pergi bekerja.” Himeka melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
Tenggorokannya terasa tercekat saat ia mencoba menceritakan sosok yang sampai saat ini masih memenuhi hati dan pikirannya.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”
“Saya salah. Seharusnya saya harus menceritakan kepada Navya kalau ayahnya telah tiada. Namun ak masih belum punya keberanian.” Buliran bening kembali netes di pipinya.
“Sabar ya, Mbak.” Bhre bingung harus berbuat apa untuk menanggapi cerita perempuan yang terlihat lemah di hadapannya.
“Nanti saya akan memberi pengertian kepada Navya kalau Anda bukanlah ayahnya.”
“Tidak apa-apa, Mbak.”
“Iya maksudnya, eeum..hanya sebuah panggilan saja kan, Mbak. Jangan langsung mematahkan keceriaan Navya.” Bhre menjawab apa yang ada dipikiran Himeka
“Seraya perlahan nanti Mbak memberi tahu putri Mbak keadaan yang sebenarnya.” tambahnya.
Himeka mengangguk. “Terima kasih, Mas Bhre."
Pandangan mereka bertemu. Saling terpaku dalam tatapan. Hingga Himeka lebih dulu menyudahinya karena terdengar derit pintu terbuka.
“Bunda, udah belum?” Suara Navya terdengar lantang. Ia sedikit berteriak dengan posisi kepala yang menyembul di balik pintu.
__ADS_1
“Sini.” Himeka melambaikan tangan kepada Navya.
Seketika Navya berlari kearah bundanya.
“Bunda, Vya mau es krim. Tapi belinya sama ayah.” Kata Navya dengan nada meminta
“Vya, belinya sama bunda saja ya. Om repot ada urusan.”
“Kok Om sih, Bun. Itu ayah bunda, ayah bukan om om.”
“Sini, Vya!” Bhre menyuruh Navya untuk mendekat. Dan tanpa menunggu lama, Vya sudah duduk di sebelah Bhre.
“Vya, mau es krim apa?”
“Apa aja, Ayah. Yang penting es krim.” Navya menjawab dengan mata berbinar.
“Ya sudah, kita ke mini market di ujung jalan situ ya.”ajak Bhre. Navya melompat girang dan beberapa kali mengucapkan kata hore.
Bhre pun mengajak Navya pergi untuk membeli es krim di minimarket di ujung jalan setelah mendapatkan izin dan Himeka. Dan anehnya, Himeka dengan mudahnya memberikan izin. Seakan ia percaya dengan sosok pria yang begitu mirip dengan almarhum suaminya.
Himeka berdiri di depan pintu butik sambil menatap putrinya digandeng oleh Bhre, menjauh dari pandangannya.
__ADS_1