
Sebenarnya hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke ruko yang dimaksud Devano. Namun karena Devano mengendarai dengan kecepatan rendah, butuh waktu empat puluh menit untuk sampai.
Ternyata ruko yang dimaksud Devano yang memiliki lokasi cukup strategis adalah bertempat persis berseberangan dengan gedung kantor Bramanthy Group.
Hanya ada tiga ruko yang disewakan. Namun dua ruko sudah disewa, tinggal satu ruko yang masih kosong. Bangunan ruko memiliki konsep minimalis modern.
"Nah, ini Me, ruko yang aku maksud." kata Devano seraya membantu melepaskan safety belt milik Himeka. Himeka diam terpaku saat Devano membantunya melepaskan sabuk pengaman. Pasalnya jarak tubuh mereka cukup dekat. Canggung yang ia rasakan.
"Iya, Dev." jawab Himeka ketika jarak Devano sudah tak sedekat tadi.
"Yuk, turun." Devano segera keluar dari mobil dan berlari ke sebelah kiri mobil, membukakan pintu untuk Himeka. Padahal Himeka sebenarnya bisa melakukan itu semua. Namun, entah kenapa ia ingin memperlakukan Himeka layaknya seorang ratu.
"Terimakasih, Dev." Himeka mengayunkan kakinya keluar dari mobil.
"Sebentar ya, Me. Orangnya yang punya ruko aku hubungi lagi. Kita tunggu di kedai itu ya." ajak Devano seraya mengambil ponselnya dari dalam saku.
Himeka mengangguk setuju. Ia mensejajari langkah Devano menuju kedai makanan di sebelah kiri ruko yang akan disewa Himeka.
"Mau minum aja atau sekalian makan, Me?" tanya Devano sambil memandang Himeka
"Minum aja, Dev. Es lemon tea aja." jawab Himeka.
"Mbak, es lemon tea dua ya." kata Devano kepada pelayan kedai.
"Oh ya, kita duduk di bangku sana." sambung Devano sambil menunjuk bangku yang terletak di ujung depan menghadap ke jalan raya.
"Iya, Pak. Nanti pesanan saya antar." jawab pelayan
Devano menarik kursi untuk Himeka. Dan disambut dengan senyuman manis Himeka. Terlihat Devano sedang melakukan obrolan di balik telepon genggamnya.
"Me, pemilik rukonya bentar lagi sampai." kata Devano setelah mengakhiri panggilannya
"Iya, Dev." jawab Himeka bertepatan dengan pesanan mereka datang.
Seraya menunggu yang punya ruko datang, mereka mengobrol santai. Devano menawarkan bantuan untuk membantu menyiapkan keperluan membuka butik. Himeka ingin menolak karena Devano sudah banyak membantunya. Namun ia pun tak kuasa untuk menolaknya. Hanya jawaban iya yang lolos dari bibirnya.
"Selamat siang, Pak Devano ya?" sapa lelaki berpostur gemuk dengan kacamata minus tebal. Ia adalah si pemilik ruko.
"Pak Andre?" jawab Devano
"Mari Pak, kita ke ruko saja sekalian kita bisa lihat keadaan rukonya. Siapa tau istrinya Pak Devan cocok." ajak Andre yang mengira mereka adalah pasangan suami istri
"Maaf, Pak Andre. Kami bukan pasangan suami istri. Beliau adalah teman saya." kata Himeka mencoba meluruskan. Sedangkan Devano hanya tersenyum mendengar orang lain salah mengira tentang hubuhannya dengan Himeka.
"Oh, maaf, Bu." Pak Andre mengucapkan maaf
Mereka berjalan menuju ruko. Pak Andre segera membukakan rolling dor. Mereka masuk ke dalam dan melihat-lihat kondisi dalam ruko.
Himeka terlihat tertarik dengan ruko tersebut. Ia menanyakan harga sewa. Himeka menyetujui dengan harga sewa yang disebutkan Pak Andre. Pak Andre mengeluarkan map yang telah ia siapkan sebelumnya. Mereka membubuhkan tanda tangan diatas materai sebagai ijab qobul sewa menyewa ruko. Himeka mentransfer sejumlah uang kepada Pak Andre sebaga uang muka dan sisanya akan dibayar bulan depan. Pak Andre memberikan kunci ruko kepada Himeka.
__ADS_1
Himeka merasa lega karena kini ia sudah mempunyai tempat untuk memulai bisnisnya. Ia berterimakasih kepada Devano karena telah membantunya mencarikan ruko yang cocok.
"Kita makan siang di mana, Dev?"
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Devano kaget, ini kali pertama Himeka berinisiatif untuk mengajak Devano. Senyum mengembang di bibir Devano.
"Terserah kamu, Me. Aku nurut kamu aja."
"Ya sudah kita ke sini saja,ya." Himeka menunjukkan sebuah restoran dari ponselnya. Ia sudah menduga jika Devano pasti akan menjawab terserah. Sehingga ia sudah menyiapkan ide kemana mereka akan makan siang.
***
Setelah dua puluh menit perjalanan mereka sampai ke sebuah restoran yang bernuansa Jawa. Di depan pintu masuk terdapat dua patung sebagai patung selamat datang. Himeka segera memilih tempat duduk di gasebo bagian ke belakang dengan view sawah. Mereka duduk lesehan di gasebo tersebut.
Makanan yang disediakan dalam restoran tersebut lebih dominan ke masakan Jawa. Makanan datang sekitar dua puluh menit setelah memesannya.
Himeka sudah sering makan ke tempat ini. Ini merupakan tempat makan favorit dari almarhum suaminya. Restoran bertajuk Monggo Mampir ini tidak pernah sepi pengunjung.
"Masakannya lumayan sedap ya, Me" kata Devano setelah menyantap beberapa sendok makanan yang ia pesan.
"Iya disini masakannya sedap dan aku suka nuansanya."
"Kamu sering ke sini, Me?"
"Iya. Ini tempat makan favorit almarhum suamiku, jadi kadang setiap weekend ke sini." jawab Himeka dengan pandangannya menatap lurus ke depan.
"Sabar ya, Me."
***
Setelah selesai makan siang bersama. Himeka mengantar Devano ke apartemennya. Devano meminta Himeka untuk mampir, namun Himeka menolak. Ia berdalih untuk segera menjemput Navya ke rumah Andini. Akhirnya Devano pun hanya bisa mengangguk pasrah.
"Bener ini gak mau aku antar menjemput Navya?"
"Iya, Dev. Gak apa-apa aku jemput sendiri saja."
Ya sudah. Hati-hati ya, Me."
"Iya, Dev."
Himeka segera melajukan mobilnya perlahan. Ia memencet klakson mobil sebagai tanda pamit kepada Devano. Devano melambaikan tangan kepada Himeka. Ia masih berdiri menatap mobil Himeka yang kian menjauh.
***
Himeka mampir ke sebuah toko kue sebelum ia sampai ke rumah Andini. Ia membeli kue brownies kesukaan Andini dan Amelia. Ia memilih sekotak brownies kukus pandan dan brownies kukus keju.
Setelahnya, ia segera melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah Andini untuk menjemput Navya.
Mobil Himeka memasuki kawasan perumahan elit. Himeka membuka jendela kaca mobil ketika melewati pos satpam. Satpam di perumahan tersebut sudah mengenal Himeka. Pasalnya Himeka sering berkunjung ke rumah dua sahabatnya Andini dan Rianti. Ya, rumah Rianti berada di perumahan yang sama dengan Andini.
__ADS_1
Mobil Himeka masuk ke halaman rumah Andini. Tampak Navya dan Amelia bermain d gazebo depan dengan ditemani mbok Sum.
"Mbok, wonten pundi Mbak Andini?" (Mbok, dimana Mbak Andini). Himeka bertanya kepada Mbok Sum. Beliau tidak begitu mahir berbahasa Indonesia, sehingga Himeka harus menggunakan Bahasa Jawa untuk mengajaknya berbicara.
"*Mbak Andini wonten mlebet, s*ekedap Mbak kula timbalane." (Mbak Andini ada di dalam, sebentar Mbak saya panggilkan). Mbok Sum segera pergi memanggilkan majikannya.
"Bunda... " panggil Navya seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan bundanya dan diikuti oleh Amel yang ikut bersalaman dengan Himeka.
"Amel, nih tante bawa apa." kata Himeka seraya memberikan dua kotak brownies kepada Amel.
"Wah, brownies kesukaanku dan mama. Makasih ya, Tante." ucap Amelia
"Meka, kenapa repot-repot segala sih pake bawa brownies," kata Andini yang sudah tiba di belakang Himeka
"Gak repot, tadi kan sekalian lewat."
"Makasih ya. Ini mau sekalian jemput Navya?"
"Iya, An. Udah sore juga. Kan kamu juga mau berangkat ke rumah sakit kan?"
"Iya, Ka. Sebenarnya tadi Navya mau sekalian aku anterin, eh keduluan kamu yang jemput."
"Ya, sudah kami pamit dulu ya. Makasih ya, An udah bantu jagain Vya seharian ini."
"Santai aja kali, Ka."
"Amel, Navya dan Tante pulang dulu ya. Kapan-kapan main lagi."
"Iya, Tante."
"Tante Andini, Amel, Vya pulang dulu ya. Besok ganti Amel yang main ke rumahku." pamit Navya.
Mereka berpamitan untuk pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan pulang Navya bercerita tentang apa yang dilakukan selama di rumah Amel. Ia terlihat sangat senang.
To be continue
.
.
.
Seperti biasa tinggalkan jejak ya gengs.
Makasih yang telah setia berkunjung di novelku.
Makasih juga like, komen, vote rate dan giftnya.
Lope Lope Lope full sekotak martabak.....
__ADS_1
Salam ketjup basah💋