
Mentari sudah bersembunyi di ufuk barat tiga jam yang lalu. Berganti malam dengan hiasan sedikit bintang.
Malam ini jalanan tidak begitu padat. Bahkan di beberapa titik yang biasanya jadi pusat keramaian pun terlihat lengang.
Navya tertidur di kursi depan samping kemudi. Sandaran kursi agak direbahkan membuat Navya duduk berbaring lebih nyaman.
Wajah Navya terlihat tenang dan beberapa kali mengulas senyum dalam tidurnya. Mungkin dia merasa bahagia setelah ketemu Bhre yang begitu mirip dengan almarhum ayahnya.
Beberapa waktu yang lalu, Ia melihat putri kecilnya merengek untuk memaksa supaya Bhre ikut pulang bersamanya. Seolah ia tidak ingin orang yang ia yakini ayahnya itu pergi lagi.
Beruntung ada telepon masuk dari gawai Bhre sehingga sekaligus untuk menjadi alasan kepada Navya bahwa Bhre untuk segera menemui orang yang berada di balik telepon tersebut.
“Janji ya, Ayah! Ayah harus segera pulang. Jangan lama-lama perginya.” pinta Navya beberapa waktu yang lalu sambil bergelayut manja pada tangan kanan Bhre.
Bhre tidak mengiyakan dan tidak menolaknya. Ia hanya tersenyum sebagai tanggapan atas permintaan Navya.
Himeka tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya. Tangannya terulur membelai rambut Navya.
Jalanan yang lancar membuat Himeka kembali ke rumah lebih cepat. Ia segera memarkirkan mobilnya di garasi rumah setelah Pak Ipin membukakan pintu gerbang rumahnya. Terlihat Mak Tum dan Mbak Rina sudah menyambut kedatangan kedua majikannya di teras rumah.
__ADS_1
Himeka turun dari mobilnya dan mengisyaratkan kalau Navya sedang tertidur di bangku mobil.
"Biar saya aja, Bu, yang menggendong non Navya." Mbak Rina menawarkan diri untuk menggendong majikan kecilnya.
Mbak Rina berjalan ke sisi kiri mobil. Perlahan membuka pintu mobil agar Navya tidak terbangun. Dengan gerakan tangan yang halus, Mbak Rina menyelipkan tangannya di belakang tengkuk dan di belakang lutut Navya untuk bersiap menggendong. Belum sampai badan Navya terangkat, Navya sudah membuka matanya.
"Eh Non Vya kok bangun. Tidur lagi saja Nonton biar Mbak Rina gendong masuk ke dalam."
Navya mengucek matanya seiringi dengan mulutnya yang terbuka karena menguap.
Navya mengulurkan tangannya ke arah Mbak Rina dengan maksud mau menerima tawaran Mbak Rina untuk menggendongnya.
"Bunda." Navya berlari ke arah Himeka.
"Ini Bu tehnya." Mak Tum memberikan secangkir teh hijau tawar kesukaan Himeka
"Maturnuwun nggih, Mak"
"Dan ini minumnya untuk tuan putri kecil." gantian Mbak Rina yang membawakan segelas susu putih kental untuk Navya.
__ADS_1
"Makasih Mbak Rina." jawab Navya dengan ceria. Ia segera meminum susu miliknya hingga tandas.
"Mak Tum, Mbak Rina, Navya mau cerita, dengerin ya!"
"Mau cerita apa, nduk ayu?" Mak Tum segera duduk dan bersiap mendengar cerita Navya, begitu pun dengan Mbak Rina.
"Hari ini Navya seneng banget. Tau nggak karena apa?" Navya terlihat berbinar saat mengucapkan setiap kata yang keluar dari bibir mungilnya.
Mbak Rina dan Mak Tum kompak menggelengkan kepala.
"Hari ini Navya bertemu sama ayah."
Wajah Mbak Rina dan Mak Tum seketika dibuat kaget oleh pernyataan Navya.
"Ayah sudah pulang. Tadi ayah pergi ke butik bunda. Tadi ayah juga membelikan es krim Navya." Senyum tak pernah lepas dari raut wajah Navya.
Mbak Rina dan Mak Tum memandang ke arah Himeka, seolah mencari penjelasan dari maksud perkataan Navya. Himeka hanya tersenyum kecut.
"Nanti Meka ceritakan, Mak."
__ADS_1