Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
B5 Aku Mau Kita Tetap Menikah


__ADS_3

Ciuman itu akhirnya berakhir.


Violet tersadar. “Kak, aku minta maaf. Aku terbawa suasana.” Violet merasa malu. Ia adalah seorang wanita tetapi malah ia yang mencium Agus terlebih dahulu.


“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Bibirku akan selalu terbuka menerima ciuman darimu. Ayo pulang. Atau masih mau menciumku lagi?” Agus sengaja memonyongkan bibirnya seolah minta dicium.


Violet tersenyum simpul dan langsung beranjak berdiri dan berlari kecil menuju bapak supir. “Pak, kita pulang sekarang.”


Akhirnya mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap.


Di hotel.


Agus membawa Violet menuju kamar hotel yang lebih besar dari kamar mereka sebelumnya. Violet bingung. “Ini kamar siapa?”


“Ini kamar kita sekarang.”


“Ini pasti mahal, kan?” Violet melihat kamar hotel yang luasnya setara rumah itu. Belum lagi interiornya yang mewah. Kamar hotel itu juga terdiri dari beberapa ruang. Pokoknya tidak ada bedanya dengan rumah pada umumnya.


“Ini gratis.” Agus berkilah lagi.


“Tapi ini terlalu berlebihan.”


“Kata pihak hotel, hari ini kamarnya nggak kepake. Jadi nggak pa pa kita nginap di sini.”


Violet akhirnya menerima kamar itu. Kapan lagi bisa menginap di kamar sebesar dan semewah ini. Mungkin hanya sekali dalam seumur hidupnya. Begitu pikirnya.

__ADS_1


Violet menikmati semua fasilitas tersedia termasuk layanan room service. Ia memesan banyak makanan untuk mengurangi rasa stressnya ditinggal kekasihnya saat hari pernikahan mereka.


“Mas harus makan juga. Badan Mas harus gemukan dikit. Nanti dikira aku nggak pernah kasih makan.”


Agus ikut makan. Ia mengambil burger dan mulai memakannya.


Setelah menghabiskan tiga hari di kota A, merek kembali pulang ke kota asal.


Violet terkejut saat hendak masuk ke dalam rumah. Ada keluarga lain yang telah menghuni rumah tersebut.


Violet menghubungi pihak perantara yang menjual rumah tersebut. Ia mendapat fakta jika rumah yang ia sangka telah ia beli itu hanya rumah sewa.


Uang yang ia serahkan ke mantan calon suaminya untuk dipergunakan membayar rumah telah dibawa kabur.


Violet marah besar. Aku harusnya maki-maki dia di kota A. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Uangnya sudah hilang. Ia juga tidak punya rumah untuk ia tinggali.


“Tinggal denganku aja.”


“Mas, kan nggak punya rumah?"


Agus membawa Violet menuju ke gedung tinggi yang berisi unit-unit apartemen. Mereka menuju ke lantai lima belas. Agus membuka pintu unit apartemen yang biasa ia tinggali.


“Ini apartemen siapa, Mas?” Violet merasa tidak enak jika ia tidak mengetahui siapa pemilik apartemen yang luas ini.


“Ini apartemenku.”

__ADS_1


“Kata Mas, Mas nggak punya rumah.”


“Aku memang nggak punya rumah. Aku cuma punya apartemen.”


“Sewanya setahun berapa?” Violet hendak menghitung pengeluarannya.


“Apartemen ini milikku. Nggak perlu bayar sewa lagi. Cuma bayar biaya rutin apartemen aja. Aku sudah lunasin sampai akhir tahun.”


Agus menunjuk kamar tidur untuk mereka berdua. Ia membawa masuk koper milik mereka.


“Aku tidur sama-sama Mas?”


“Tentu saja. Kita kan sudah suami istri jadi wajar kalau sekamar.”


“Tapi ...” Kita menikah tanpa cinta. Kalau kami sekamar ... “Mas nggak akan ngapa-ngapain aku, kan?”


“Aku nggak kepikiran sampai situ. Kamu mau diapa-apain?” Agus tersenyum nakal.


“Baiklah kita sekamar sampai kita bercerai. Mas tentuin aja tanggal perceraian kita.” Violet akan mengakhiri sandiwara pernikahannya ini.


“Aku mau kita tetap menikah.”


“Eh? Mas nggak punya pacar atau calon istri?”


“Aku nggak punya. Lagipula proses perceraian itu ribet. Bikin habis waktu.”

__ADS_1


“Eh!?”


__ADS_2