
Julia membantu Alice mengerjakan PR.
Victor yang merasa dicuekkin akhirnya pulang. Ia merasa ada yang aneh dengan Irene. Chat mesranya tak pernah dibalas Irene. Ciuman yang biasa dibalas oleh Irene malah ditolak. Dia Irene tapi kenapa seperti bukan Irene? Victor cuma bisa bertanya-tanya dlam hati.
Julia membantu Alice mengerjakan PR.
“Mama, besok Alice ada ulangan. Alice harus hafal nama-nama ibukota negara.”
“Bawa sini bukunya. Mama bantu tanya.”
Alice mengambil buku dan tanpa sengaja menyenggol segelas air dan membuat air itu membasahi lantai.
Alice langsung menangis dan bertekuk lutut sambil menangkupkan kedua tangannya di depan Julia. “Maafkan Alice, Ma. Maafkan Alice.” Alice tahu ia akan kena marah oleh Irene.
“Kenapa Alice menangis seperti ini. Mama nggak marah. Lagi pula lantai yang basah bisa dilap dengan kain.” Julia mengusap air mata Alice. Ia kemudian mengambil sehelai kain dan mengelap lantai yang basah.
Alice terkejut melihat perilaku Julia. Irene yang ia kenal tidak akan mau mengelap lantai basah. Bagi Irene itu hal yang menjijikan. Irene pasti akan menyuruh pembantu.
“Ayo kita belajar lagi.” Julia mengambil buku dan menanyakan nama-nama ibukota negara. “Ibukota negara Indonesia?”
“Jakarta,” jawab Alice.
__ADS_1
“Betul. Sekarang ibukota negara Laos.”
“Laos ada di dapur, Ma.” Alice bercanda karena ia lupa nama ibukota negara Laos.
Julia tersenyum mendengar jawaban Alice. “Yang benar itu Vientiane. Ikuti Mama. Vientiane.”
“Vientiane.” Alice mengikuti Julia.
“Sekarang ibukota negara ...” Julia memberikan begitu banyak pertanyaan yang harus dijawab Alice.
“Mama. Alice capek.”
Alice terkejut. Irene tidak pernah mengajaknya mandi bersama. “Iya.” Alice juga ingin mandi bersama mamanya.
Mereka masuk ke dalam kamar mandi. Julia melepas pakaiannya dan melihat tubuh polos Irene. Betapa bagusnya tubuh ini. Julia iri melihat tubuh Irene. Tapi tubuh ini sekarang adalah milikku.
Julia membantu Alice membuka pakaiannya. Julia terkejut melihat bekas luka di punggung Alice. “Alice, siapa yang sudah bikin luka ini?”
Apa Bagas yang melukai Alice? Aku harus lapor polisi. Aku harus bawa Alice pergi dari sini.
“Mama yang pukul Alice.” Kesalahan kecil dari Alice akan membuat Irene naik darah. Itu dilakukan Irene setiap saat jika Bagas sedang bekerja. Seluruh pelayan juga mengetahuinya dan hanya bisa diam karena takut dipecat oleh Irene.
__ADS_1
Jawaban Alice membuat Julia tersambar petir. Irene yang melakukannya? Bagaimana bisa ia tega membuat anak sekecil Alice menderita seperti ini.
“Maafkan Mama, ya. Mama nggak akan pukul Alice lagi.” Julia memeluk erat Alice.
Mereka mandi bersama. Sesekali terdengar tawa dari dalam kamar mandi. Julia membantu Alice berpakaian sedangkan ia sendiri belum.
Bagas yang baru saja pulang bekerja masuk ke dalam kamar. Ia melihat tubuh polos Irene karena pintu kamar mandi yang terbuka. “Akh ...” Julia berteriak dan segera menutup pintu kamar mandi.
Astaga. Astaga. Julia menutup tubuhnya dengan handuk. Bagas hanya kebingungan. Mereka sudah pernah melihat tubuh polos masing-masing. Kenapa Irene berteriak dan terlihat malu.
“Kak, bisa ambilkan bajuku?” Julia memperlihatkan kepalanya saja dari balik pintu.
“Kenapa? Kamu bisa keluar dan ambil sendiri.” Bagas sudah lama tidak melihat tubuh polos Irene. Julia selalu menolak saat Bagas meminta untuk berhubungan badan.
“Alice, tolong ambilkan baju mama.” Julia meminta tolong ke Alice.
Alice dengan pakaian rapinya keluar dari kamar mandi dan hendak mengambilkan baju Irene.
“Biar Papa yang bantu Mama. Alice balik ke kamar, ya.”
Alice menuruti Bagas. Ia kembali ke kamarnya.
__ADS_1