
“Steven, kita harus bisa memperdamaikan mas Agus dan ayah,” usul Violet. Ia tidak ingin berada di posisi harus membela salah satu.
“Tapi bagaimana caranya Kakak ipar? Sampai sekarang hati keduanya masih keras kepala. Mereka sama-sama kepala batu.” Steven juga sudah mencoba berbagai cara dan belum ada yang berhasil.
“Bagaimana jika ...” Violet memberitahukan rencananya ke Steven.
“Baik Kakak ipar. Kita coba. Aku akan membujuk ayah.” Steven tidak pernah patah semangat untuk membuat keluarganya bersatu kembali.
Hari minggu yang cerah.
Violet mengajak Agus untuk piknik. Ia sudah merencanakan dengan Steven akan mempertemukan Agus dan ayahnya di taman. Berbagai persiapan Violet lakukan agar tampak alami. Ia yang sudah belajar berakting bisa menipu Agus.
Sedangkan Steven mengajak ayahnya ke taman dengan alasan untuk mencari udara segar dan sudah lama tidak pergi ke taman. Mumpung jadwalnya kosong hari ini, alasan Steven.
Violet dan Agus tiba di taman. Violet menggelar tikar dan mengeluarkan makanan yang ia bawa. Tampak dari kejauhan datang sang ayah. Agus dan ayahnya saling bertatap muka tetapi tidak ada tegur sapa di antara mereka. Suasana begitu canggung di antara mereka.
Violet dan Steven beranjak pergi untuk memberi Agus dan ayahnya ruang untuk berbicara.
“Jadi, dia istrimu?” Sang ayah memulai pembicaraan.
__ADS_1
“Iya, Ayah,” jawab Agus. Suasana masih terlihat canggung diantara mereka.
“Lain kali bawa dia ke rumah.” Sang Ayah sudah memaafkan Agus yang pergi dari rumah untuk mengejar impiannya di bidang musik. Sesuatu yang menjadi ia benci karena perilaku sang istri. “Ayah sudah mendengar semua lagumu. Yang paling baru yang terbaik.” Ayah Agus memuji Agus untuk pertama kalinya.
Agus meneteskan air matanya. Butuh waktu lama agar sang ayah memberi restunya. Sang ayah memeluk Agus dengan erat. Mereka berpisah dalam damai.
Agus masih menangis saat Violet mendekat. Violet memeluk erat Agus.
...***...
Di kemudian hari.
Agus membawa Violet untuk bertemu ayahnya.
“Ayah orang yang baik. Ia tidak akan menggigit.”
“Emangnya ayah itu anjing.”
Mereka tertawa bersama.
__ADS_1
Di rumah ayah Agus dan Steven.
Violet memandang takjub rumah mewah yang menyerupai kastil istana itu. “Apa ini rumah ayah?” Violet masih tidak percaya.
Penampilan Agus dan ayahnya biasa-biasa saja. Berbeda dengan Steven yang memang mengharuskannya untuk tampil stylist.
“Ini rumah ayah.” Agus menyadari sikap gugup Violet. Ia menggenggam erat tangan Violet.
“Halo Kakak ipar.” Steven menyambut mereka di depan pintu masuk.
Ayah Agus juga menyambut kedatangan putra dan menantunya itu. Mereka mengobrol sejenak dan menyantap hidangan yang disediakan.
Violet mencoba berbagai hidangan yang belum pernah ia coba sebelumnya. Semuanya berkualitas tinggi dan enak di lidah karena chef di rumah ayah Agus hanya menggunakan sayur dan bahan masak organik yang bebas dari pestisida kimia.
“Ambilkan wiski merk Y,” pinta ayah Agus ke pelayan yang berada di samping kanannya.
“Baik, Tuan.”
Pelayan mengambil botol wiski yang harganya sangat mahal itu. Ia menyajikan wiski itu untuk ayah Agus, Agus dan Steven.
__ADS_1
Violet yang sudah ingin ikut menikmati wiski itu merasa kecewa. Pelayan tidak menyajikan wiski untuk dirinya.
Apa aku nggak layak jadi menantu di keluarga ini?