
Di sebuah toko bunga. Saat tidak ada pelanggan yang datang.
“Apa kau bisa menitipkan Dodo ke panti asuhan?” tanya calon suami Santi.
“Maksud Kakak?” Santi sedikit banyak sudah menduga apa yang akan terjadi kemudian. Ia sudah sering mendengar hal ini.
“Aku ingin kita tinggal berdua saja saat kita sudah menikah,” ujar calon suami Santi.
Santi langsung melepas cincin tunangannya dan memberikannya ke calon suaminya. “Kak, kita batalkan saja pernikahan kita. Aku tidak bisa menitipkan Dodo ke panti asuhan.” Santi tidak bisa meninggalkan Dodo ke panti asuhan.
Calon suami Santi lalu pergi sambil membawa cincin pertunangannya. Santi batal menikah untuk kesekian kalinya karena para calon suaminya menginginkan Dodo ditaruh di panti asuhan. Mereka hanya menginginkan Santi.
Dodo kecil datang. “Maafin Dodo, Ma.” Ia penyebab Santi tidak bisa menikah sampai sekarang..
“Dodo nggak salah. Dodo nggak perlu minta maaf.” Santi menghapus air mata Dodo. “Jangan menangis. Mama masih muda. Mama masih bisa cari laki-laki yang mau rawat Dodo juga.
Nanti Mama cari papa yang lebih tampan dan lebih kaya dari om tadi.” Santi sudah memutuskan untuk tetap single seumur hidupnya. Ia bisa menghasilkan uang sendiri. Ia tidak perlu orang lain.
Seorang pria masuk ke toko bunga milik Santi. Ia ingin membelikan bunga untuk ulang tahun sang ibu.
“Ada yang bisa saya bantu?” Santi bertanya. Pria itu menoleh dan ia jatuh cinta dengan Santi.
“Ada yang bisa saya bantu?” Santi bertanya lagi karena tidak ada respon dari pria itu.
“E ... Saya mau membeli bunga untuk mama saya. Kira-kira bunga apa yang cocok untuknya?”
“Kepribadian mama Anda seperti apa?” Santi bertanya.
“Mama saya itu ...”
“Kalau seperti itu bunga carnation merah cocok untuk mama Anda.” Santi menyarankan.
“Saya akan membeli lima tangkai bunga carnation. Tolong dibungkus dengan cantik dan rapi,” kata pria itu.
“Baik. Mohon ditunggu.” Santi meletakkan bunga carnation di atas sebuah kertas pembungkus. Ia menberi pita di bagian bawah untuk mengikat pembungkus bunga.
“Semuanya ...”
__ADS_1
Pria itu membayar bunga yang ia beli.
Keesokkan harinya ia datang lagi. Ia hendak membeli bunga lagi.
Pelanggan yang kemarin. Santi mendekati pria itu. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin membeli bunga untuk kakak perempuan saya. Ia menyukai mawar kuning. Apakah ada?” Pria itu tidak melihat ada mawar kuning di toko.
“Saya akan melihatnya terlebih dahulu di kebun belakang. Berapa tangkai yang Anda perlukan?” tanya Santi.
“Tiga tangkai saja,” jawab pria itu.
“Baik. Mohon ditunggu sebentar. Saya akan mengeceknya terlebih dahulu.” Santi pergi ke kebun belakang. Ia melihat bunga mawar kuning. Ia memotong tiga tangkai seperti permintaan pelanggannya. Ia lalu membungkusnya dan menyerahkannya ke pria itu.
Keesokkan harinya pria itu datang lagi. Ia datang untuk melihat Santi. Tapi ia menyelubunginya dengan alasan membeli bunga untuk adik perempuannya. Aku sebenarnya anak bungsu. Aku tidak punya adik.
Santi mendekati pria itu. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin membeli bunga untuk adik saya. Bunga lily putih.”
“Berapa tangkai yang Anda butuhkan?”
Santi mengambil tiga tangkai bunga lily dan membungkusnya dengan cantik.
Pria itu membayarnya.
Keesokkan harinya pria itu datang lagi. Ia akan menyatakan cintanya ke Santi. Ia menunggu sampai toko agak sepi. Saat ia hendak berbicara, datang bocah kecil yang bernama Dodo itu yang langsung berlari memeluk Santi. “Mama ...”
Pria itu langsung down. Ternyata sudah menikah. Ia hendak pulang. Tetapi ia seperti mendengar sebuah bisikan.
Bocah kecil itu bukan anaknya.
Benarkah? Lalu kenapa bocah kecil itu memanggil Mama?
Pria itu seperti mendapat kekuatan dari bisikan itu. Ia memberanikan diri berkenalan dengan Santi.
“Ada yang bisa saya bantu?” Santi mendekati pria itu.
__ADS_1
“Saya ingin berkenalan dengan Anda. Nama saya Jaka. Tapi saya sudah tidak perjaka.” Jaka memberikan informasi yang tidak perlu.
Santi tersenyum kecil. Ia merasa pria di depannya ini orang baik. Jika hanya berkenalan saja tidak apa-apa. Santi memberi batasan. “Saya Santi.”
Begitulah dari perkenalan itu Jaka datang setiap hari untuk bertemu Santi dan Dodo. Akhirnya Jaka tahu jika Dodo bukan anak kandung Santi. Dodo adalah anak dari kakak perempuan Santi yang tewas bersama suaminya karena kecelakaan. Hanya Dodo yang selamat dari kecelakaan itu. Santi yang merawat Dodo sejak itu.
Tetapi saat Jaka menyatakan cintanya ke Santi, Santi menolaknya secara halus. “Saya ingin hubungan kita cukup sampai di pertemanan saja. Tidak lebih.”
“Kenapa?”
“Anda tidak perlu tahu alasannya.”
Terdengar suara lagi. Santi takut jika pria yang menyukainya tidak mau tinggal bersama Dodo.
“Apa karena Dodo? Aku mau tinggal bersama Dodo.” Jaka tidak mempersalahkan keberadaan Dodo.
“Bagaimana dengan orang tua Anda? Apa mereka akan setuju? Bagaimana dengan kakak dan adik Anda?”
“Orang tua saya sudah meninggal. Saya rasa kakak perempuan saya tidak akan keberatan dengan keberadaan Dodo.”
“Adik perempuan Anda?”
“Aku tidak punya adik perempuan. Saya berbohong karena mau bertemu denganmu.” Jaka membuka kebohongannya.
“Baiklah. Saya akan menerima perasaan Anda.” Santi ingin memberikan kesempatan untuk Jaka. Dodo juga terlihat akrab dengan Jaka.
Kadang Jaka akan membawa mereka jalan-jalan. Orang yang melihat mereka mungkin mengira jika mereka adalah keluarga kecil yang bahagia. Terutama saat melihat Dodo yang terlihat senang saat digendong di atas pundak Jaka.
Saat dirasa tepat, Jaka membawa Santi dan Dodo menemui kakak perempuannya. Kakak perempuan Jaka tidak mempersalahkan keberadaan Dodo. Ia juga menyetujui jika Jaka dan Santi berumah tangga.
Jaka hendak membeli bunga lagi. Ia memesan 100 mawar merah ke Santi. Alasannya adalah untuk klien. Jaka memegang buket 100 tangkai bunga mawar dan memberikannya ke Santi. “Bunga ini untukmu. Juga cincin ini. Maukah kamu menikah denganku?” Jaka melamar Santi.
“Aku mau.” Santi menjulurkan tangannya. Ia tidak menyangka Jaka akan melamarnya secepat ini.
Tak lama kemudian mereka menikah. Jaka tinggal bersama Santi dan Dodo sambil menyambut kelahiran bayi mereka.
End.
__ADS_1