
Eva sudh pasrah. Toh, mereka juga sepasang suami istri. Tidak apa-apa berbuat sejauh ini.
Eva melanjutkan tidurnya.
Keesokkan harinya.
Para sepupu sudah standby di depan pintu. Mereka ingin mencuri dengar apa yang terjadi di dalam kamr ppengantin.
“Kamu dengar sesuatu?” Sepupu A menempelkan telinganya.
“Aku tidak mendengar apa-apa,” ucap sepupu B.
James keluar kamar. “Apa yang kalian lakukan?”
Para sepupu menggerakkan badan mereka. “Kami berolah raga.” Alasan mereka.
“Kalian sudah ...” Para sepupu penasaran.
“Eva kemarin sudah kelelahan. Hari ini kami ... Kalian tidak perlu tahu.” James menuju ke taman untuk menjemur dirinya untuk mendapatkan vitamin D gratis.
Para sepupu pulang ke rumah mereka masing-masing.
James masuk kembali ke kamar. “Ev, kamu masih hidup?”
“Masih.” Eva benar-benar capek. Tenaganya terkuras walaupun tidak melakukan banyak hal. Sepertinya sorotan kamera tidak cocok untuk dirinya.
“Kamu mau ke mana?” Eva melihat James yang sudah rapi.
“Aku harus bekerja. Aku harus dapetin uang buat kamu. Buat anak kita. Aku pergi dulu.” James mengecup pelipis Eva yang masih berminyak.
__ADS_1
Eva melanjutkan tidurnya sampai tengah hari. Ia sendirian di kamar. Ia mulai berberes. James menelpon Eva. “ev, apa kamu bisa ke sini?”
“Pak Pri yang antar kamu.”
“Apa ada yang mau aku bawa?”
“Tidak ada. Kamu datang aja.”
Eva menuju ke lokasi syuting. James tiba-tiba bersikap mesra padanya. Ia berbisik ke telinga Eva. “Semua orang mengira pernikahan kita hanya sandiwara.” James mencium Eva tepat di depan semua orang. Lalu membawa masuk Eva ke dalam caravan pribadinya.
James sengaja meloncat-loncat di karavan itu untuk membuat orang menduga jika mereka melakukannya. Mereka itu masih pengantin baru.
“Ev, sory. Aku harus lakukan ini.” James membuat kissmark di beberapa titik di leher Eva.
“Apa aku harus membuatnya juga di lehermu?”
“Jangan. Akan tersorot kamera. Kasihan tukang make-up harus bekerja ekstra menutupi kissmark.”
James sudah selesai syuting. ”Kamu nggak pulang?”
“Aku ada adegan waktu matahari terbit. Aku harus ada di sini pagi-pagi. Jadi lebih baik aku tidur di sini.”
“Mau aku temani?”
“Mau. Di sini nggak ada guling. Kalau ada kamu aku bisa peluk kamu lalu tidur,” kata James dengan kedua tangannya dalam posisi memeluk.
Malam itu Eva menginap di karavan James.
“James ... “
__ADS_1
“Hmm ...”
“Aku mau membuat Orion denganmu.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Kamu sudah siap?” tanya James.
“Sudah waktunya bagi aku untuk siap kan? Kamu sudah menunggu lama. Papa juga.”
“Jangan pikirkan omongan papa. Kalau kamu belum siap, aku akan menunggu.”
“Aku tidak apa-apa.”
James mulai mencium Eva. Malam itu malam persatuan mereka untuk pertama kalinya. Malam yang indah bagi mereka berdua di caravan yang bergoyang karena gerakan mereka.
“Ev, I love you ...” James mencium tubuh Eva.
“I love you too ...” Eva mengerang.
James merebahkan dirinya di smping Eva. Eva lalu mengganjal pinggulnya dengan bantal.
“Apa pinggangmu terasa capek?” James bertanya. Ia tadi sedikit bertindak berlebihan di malam pertama mereka ini.
Eva menggelengkan kepalanya. “Tidak. Katanya kalau aku seperti ini setelah kita melakukannya, aku bisa cepat hamil.”
“Apa kamu yakin mau jadi mama muda?” tanya James.
__ADS_1
“Apa kamu masih mau jadi papa muda?” Eva tanya balik.