
“Ketemu!” Steven mengalihkan arah pembicaraan.
“Ternyata Kakak ipar itu imut dulunya.” Steven menemukan sepotong adegan dari film Single Daddy/Be Happy. “Pantes aja Kak Agus suka sama Kakak ipar. Aku ralat. Kak Agus nggak cuma suka tapi cinta.”
Violet melihat Agus yang daun telinganya sudah memerah.
Apa yang dikatakan Steven itu sebuah kebenaran atau hanya omongan iseng? Kami bertemu sekali lalu menikah dalam waktu kurang dari satu jam. Tinggal bersama juga kurang dari dua minggu. Violet belum merasakan cinta di hatinya untuk Agus.
“Kakak ipar, audisinya besok, kan?”
“Iya.”
“Semangat, Kak. Aku pulang dulu. Silahkan kalian menikmati malam berdua.” Steven pulang setelah makan.
Sebelum pulang, ia mengucapkan, “Aku pengen cepat-cepat gendong ponakan.” Yang langsung dilempar sepatu oleh Agus. Tetapi Steven dengan cepat menutup pintu.
Violet mengambil sepatu yang dilempar Agus. “Apa kalian memang sering bertengkar?”
“Ia sering membuatku emosi.”
__ADS_1
“Justru karena Mas sering emosi, Steven malah senang menggoda Mas. Reaksi Mas itu bikin gemes.”
Di kamar tidur.
Violet masih gelisah. Ia ingin berhasil di audisi pertamanya. Ia sudah terlalu lama meninggalkan dunia akting.
“Jangan kuatir. Kamu pasti bisa. Kalaupun gagal ... Tidak ... Kamu pasti berhasil.” Agus menyemangati Violet yang terlihat cemas.
Agus menepuk bagian ranjang yang kosong. “Tidur. Tidur akan membuat tubuh kita releks. Begadang tidak bagus untuk tubuh kita. Atau kamu mau begadang?” Agus tersenyum nakal.
Violet segera berbaring ke sebelah Agus. Tetapi pikirannya masih terlalu aktif. Perintah otak untuk segera tidur tidak bisa membuat tubuhnya tertidur. Violet hendak mengambil ponsel miliknya tetapi dicegah oleh Agus.
Awalnya Violet terkejut tetapi entah kenapa ia mulai merasa rileks dan akhirnya tertidur.
Pagi harinya.
Violet bangun terlebih dahulu dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Agus. Ia sebuah menulis pesan.
Mas, walaupun sarapan buatanku tak seenak buatanmu tapi rasanya tidak begitu buruk. Jangan dibuang kalau Mas nggak suka biar aku makan waktu pulang nanti. Violet.
__ADS_1
Violet membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian casual. Ia hendak berangkat ke tempat audisi. Agus yang bangun saat Violet mandi menawarkan untuk mengantarkan Violet.
Suasana di dalam mobil sedikit terasa canggung. Violet menyalakan radio di mobil. Saat itu terdengar lagu yang sedang diputar atas permintaan pendengar. Ia memperbesar volume speaker. Lagu selesai diputar.
“Kamu suka lagunya?”
“Aku suka dengerin lagu-lagu ciptaannya August (nama samaran dari pencipta lagu yang baru saja didengar Violet).”
Agus merasa bangga. Sebenarnya dialah yang bernama August. Tetapi untuk saat ini ia merahasiakannya dari Violet.
Mereka tiba di tempat audisi.
“Semangat.” Agus menyemangati Violet. “Aku tunggu diparkiran.” Agus kemudian memarkirkan mobilnya ke tempat parkir. Sedangkan Violet berjalan menuju ruang audisi.
Ada begitu banyak pendaftar. Violet termasuk salah satu dari lima ratus orang yang telah tersaring dari seribu orang.
Satu persatu aktor dipanggil dan masuk ke ruang audisi. Mereka memperagakan adegan yang diminta oleh penata peran. Jika karakter bertubuh besar maka penata peran akan memilih aktor yang berbadan besar juga.
Atau jika perlu sang aktor akan menaikkan atau menurunkan berat badan mereka. Suatu dedikasi untuk sebuah peran.
__ADS_1