
Adly ingin bersikap jahat dan membanting Kai. Supaya Arman tahu rasanya kehilangan orang yang disayanginya. Tiba-tiba Kai tersenyum manis untuk Adly. Membuat hati Adly meleleh. “Kai ...” Adly membatalkan niatnya untuk mencelakai Kai.
Kai, maafin Om yang tadi pengen bunuh Kai.
...***...
Persiapan pernikahan untuk Adly dan Sabrina berlangsung. Siska begitu sibuk mempersiapkan semua hal. Ia mengurus siapa saja yang akan ia undang sedangkan Adly dan Sabrina memilih gaun dan jas serta dekorasi untuk pesta.
Akhirnya tiba acara pernikahan Adly dan Sabrina. Banyak tamu yang datang mendoakan kebahagiaan Adly dan Sabrina. Ellen, Arman dan Kai juga hadir secara mereka juga bagian keluarga inti.
Sabrina terlihat begitu mempesona dalam balutan gaun pengantinnya. Adly juga tak kalah gagah.
Kak, ternyata jalan yang kita sangka sama sudah menjadi jalan yang berbeda tanpa kita sadari. Sudah takdir kita kita tak bisa bersama. Aku punya Arman dan di samping Kakak ada Sabrina.
Ellen melihat Adly dengan raut bahagianya mencium Sabrina. Mereka telah resmi menjadi sepasang suami dan istri.
Acara dilanjutkan dengan acara resepsi.
Acara berakhir. Ellen bersama keluarganya pulang ke rumah.
Di rumah.
Ellen langsung berebah di lantai. Ia tak mau mengotori kasurnya. Secara ia seharian berada di luar rumah. Arman hanya bisa geleng-geleng kepala. Kai ikut menirunya dengan menggeleng-gelengkan kepala mungilnya.
__ADS_1
Ellen jadi malas bergerak.
“Setidaknya cuci muka dan ganti baju kalau malas mandi.” Arman melihat make-up di wajah Ellen yang belum dibersihkan. “Nanti jerawatan, lho.”
“Mandiin aku.” Ellen mengangkat kedua tangannya. Arman mengambil kesempatan ini untuk mandi berdua dengan Ellen. Ia membuka gaun pesta Ellen sekaligus pakaian dalam Ellen. Arman sengaja tidak menutup pintu kamar mandi agar bisa mengawasi Kai.
Arman membaringkan Ellen di bath tub yang sudah berisi air hangat. Ia ingin mengatakan sesuatu tentang acara pesta tadi tapi Ellen sudah tertidur padahal Arman sudah bersiap untuk melakukannya.
Arman memandikan Ellen. Ia membersihkan tubuh Ellen dan memakaikan piyama ke Ellen. Perhatiannya tertuju ke perut buncit Ellen.
Apa Ellen hamil? Nggak mungkin. Mungkin karena Ellen makan terlalu banyak di pesta tadi. Mungkin. Tapi selama ini kami sering melakukannya.
Kai ... mungkin sudah ada adik di perut mama.
Arman meminta Ellen memakai test pack. Jika hasilnya positif, ia akan membawa Ellen ke dokter kandungan. Percobaan pertama gagal. Ellen mencoba meminum air putih banyak-banyak.
Akhirnya hasil sudah mulai nampak. Ada tulisan pregnant di test pack itu. Arman langsung memberitahu Kai. “Kai ... Di perut mama ada adik Kai.” Kai ikut tersenyum.
Arman langsung membawa Ellen ke dokter kandungan. Ellen berharap-harap cemas. Ia antara siap atau tidak siap perihal adik Kai karena Kai masih terlalu kecil.
“Nyonya Ellen tidak hamil.” Dokter memberitahu mereka.
Arman langsung kecewa.
__ADS_1
“Tidak apa-apa.” Ellen menghibur Arman.
Mereka pulang ke rumah. Arman berangkat bekerja.
Malam tiba.
Arman tak kunjung pulang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Ellen tidak bisa tidur memikirkan Arman. Ia berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Arman tapi gagal. Pikirannya jadi kacau dan berkeliaran kemana-mana.
Apa Arman kembali lagi ke klub?
Tak lama kemudian mobil Arman datang. Ellen pura-pura tidur. Arman mengisi daya ponselnya dan mendapati banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari Ellen. Ia membalasnya. Batreiku habis. Aku sudah di rumah sekarang.
Arman membersihkan dirinya lalu melihat Kai sebentar. Saat melihat Ellen, ia bisa melihat air mata di sana. Ia seharusnya menghubungi Ellen dan mengabarinya jika ia lembur di kantor dan pulang terlambat.
Arman melihat begitu banyak masakan yang tersimpan di kulkas dan juga kue ulang tahun. Arman tersadar saat melihat kalender. Hari ini hari ulang tahunnya. Ellen sudah menyiapkan begitu banyak makanan untuk merayakan hari ulang tahunnya.
Keesokkan harinya Arman meminta maaf.
“Maaf. Aku seharusnya memberi kabar semalam. Kemarin aku keasyikan lembur di kantor.”
Ellen diam.
“Kamu marah?”
__ADS_1
Ellen diam. Diamnya Ellen membuat Arman bingung.