
“Victor, bantu aku mendapatkan Bagas.”
“Itu tidak mungkin. Tubuhmu yang sekarang terlalu jelek.” Victor mendengus.
“Kasih aku uang untuk operasi plastik. Aku pasti bisa jadi cantik melebihi yang Irene yang asli.”
“Berapa yang kau butuhkan?”
“Satu milyar.” Irene akan terbang ke negara K yang terkenal dengan operasi plastiknya.
“Aku akan memberikan uangnya asalkan aku ikut denganmu ke sana.” Victor ingin mencicipi tubuh Julia lagi.
“Tentu saja boleh.”
Victor membawa Irene terbang ke negara K. Setiap ada kesempatan, Victor akan meminta jatah dari Irene. Ia tak mau membuang uangnya jika tidak ada timbal baliknya.
Irene memutuskan untuk pergi ke klinik yang pernah mengoperasi hidungnya dulu. Ia ingin merubah total wajah dan tubuhnya. Operasi mulai dilakukan. Mulai dari mata, hidung, tulang pipi, rahang, dan dada.
Wajah Irene terbalutkan perban. Tapi tetap saja Victor tidak peduli.
“Ingat jangan menyentuh wajahku.” Irene mengingatkan.
__ADS_1
Victor hanya bermain di bawah.
Victor dan Irene kembali ke negara asal mereka. Penampilan Julia berubah seratus delapan puluh derajat. Ia bahkan mengubah namanya menjadi Sabrina. Ia tidak menyukai nama Julia.
Victor membawa Sabrina ke acara formal. Mengenalkannya sebagai kekasihnya. Mereka bertemu dengan Bagas. Victor mengenalkan Sabrina ke Bagas dan Julia.
“Sabrina.” Sabrina menjulurkan tangannya.
Julia tercekat. Ia bisa mendengar suaranya dari tubuh Sabrina.
“Irene,” ucap Julia.
Julia melihat Sabrina. Ia tahu suara Sabrina adalah suaranya sendiri tetapi tubuh itu bukan tubuhnya.
“Hai, Alice.” Sabrina menyapa Alice. Alice melihat tatapan Sabrina yang terasa tak asing baginya. Tatapan Irene yang jahat. Alice langsung bersembunyi di belakang Julia.
“Tidak biasanya Alice pemalu di depan orang asing,” ucap Bagas. Bagas mengulurkan tangannya. “Bagas.”
Sabrina menjabat tangan Bagas lama. Bagas yang merasa risih langsung melepas genggamannya.
Aku akan membuatmu bertekuk lutut seperti dulu. Aku akan bisa membuatmu jatuh cinta padaku seperti dulu kau mencintaiku. Batin Irene.
__ADS_1
Sabrina menjalankan rencananya. Ia mendatangi kantor Bagas dengan alasan pekerjaan dan investasi. Ia meminta bantuan Bagas. Awalnya Bagas tidak curiga.
Tetapi semakin ke sini pakaian yang dikenakan Sabrina semakin kekurangan bahan. Sabrina memang sengaja mengenakan jaket panjang tertutup tetapi ia akan membukanya dan memperlihatkan belahan dada palsu miliknya.
Sabrina bahkan duduk semakin dekat dengan Bagas dan berani menyentuh paha Bagas.
“Maaf.” Bagas langsung berdiri. “Saya sedang sibuk,” alasan Bagas. Ia tak mau bertemu Sabrina lagi yang sudah menunjukkan ketertarikan pada dirinya. Mengingatkan dirinya pada sosok Irene yang dulu. Ia tak mau jatuh lagi pada perangkap yang sama.
Waktu itu Bagas masuk dalam perangkap Irene dan terlibat cinta satu malam. Irene mengaku hamil. Bagas percaya karena saat melakukannya dengan Irene ia melihat noda merah. Mereka akhirnya menikah. Tetapi Irene keguguran. Hamil palsu. Keguguran palsu. Bagas sudah tahu semuanya.
“Jika Sabrina datang, jangan biarkan ia masuk.” Bagas menghindar dari Sabrina. Telepon atau pesan Sabrina tidak ia gubris. Membuat Sabrina frustasi. “Bagas, awas kau, ya.”
“Ada apa?” Victor mendekati Sabrina. Ia memeluk Sabrina dari belakang. Tangannya mulai bermain ke atas. Victor mengecup leher Sabrina.
“Bagas tidak menjawab telepon atau membalas pesanku,” kesal Sabrina.
“Ia sekarang sudah bucin dengan Irene.”
“Irene itu aku. Bukan wanita palsu itu.”
“Jangan kesal seperti itu. Nanti keriputmu tambah banyak.” Victor membuka pakaian Sabrina. “Lupakan Bagas. Aku akan menghiburmu malam ini sampai kamu tak akan ingat siapa Bagas itu.”
__ADS_1