
“Suka,” jawab Emi malu-malu.
Violet tersenyum cerah. Berarti ada awal yang baik untuk saat ini. Hanya saja kepribadian Steven dan Emi begitu berbeda. Steven sepertinya seorang Ekstrovert sedangkan Emi seorang Introvert.
Emi dan Steven kembali ke apartemen mereka. Emi menyiapkan kebutuhan Steven untuk besok. Steven mendekati Emi. Emi yang sadar perlahan menjauh dari Steven.
“Badanku bau?” Steven mencium pakaiannya. Ia mengira Emi menjauhi dirinya karena mencium bau tidak sedap.
Tidak bau. Badanku masih wangi.
Emi menggelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa kamu menjaga jarak denganku?” Steven mendekati Emi lagi. Lagi-lagi Emi menjauh.
Kata Kak Violet aku harus jujur. Kata Kak Violet, Kak Steven suka sama aku. Batin Emi.
“Aku jatuh cinta sama Kakak. Aku takut ditolak.” Emi memberanikan dirinya.
“Kenapa? Aku juga suka sama kamu. Aku tidak mungkin menolak dirimu.”
“Aku punya pengalaman pahit. Kekasihku ... Mantan kekasihku juga tinggal di apartemen ini. Hari saat kita bertemu di lift itu hari ketika aku putus dengannya karena ia berselingkuh. Aku takut karena Kak Stev punya banyak pacar.”
“Mereka itu cuma teman.” Steven menjelaskan.
__ADS_1
“Benarkah?”
“Benar.”
Emi merasa lega. Ia punya kesempatan.
“Malam ini jangan tidur di kamar tamu lagi. Tidur di kamarku. Aku kesepian.”
Emi menganggukkan kepalanya. Malam ini mereka tidur bersama. Hanya tidur bersama tanpa aktivitas lainnya. Steven sudah terlalu lelah karena pekerjaannya.
Keesokkan harinya.
Emi mengemudikan mobil untuk mengantar Steven ke lokasi syuting. Tapi sepertinya GPS menunjukkan arah yang salah. Mereka malah menuju ke tempat lain.
Emi bingung. Ia membangunkan Steven yang tertidur. “Kak ...Kak ...”
“Kak, sepertinya aku tersesat.”
Steven melihat keadaan sekitar. Ia mematikan dan menyalakan GPS lagi dan mengetik lokasi syuting. “Ikuti aja jalan yang diminta. Aku mau tidur lagi. Kalau ada apa-apa bangunkan aku.”
Emi menuruti arahan GPS. Akhirnya mereka bisa tiba di lokasi syuting tepat waktu. Steven dengan cepat dirias dan melakukan latihan kamera lalu mulai melakukan pengambilan gambar.
Tokoh yang diperankan Steven adalah peran antagonis. Ia ingin keluar dari zona nyamannya dengan mengambil peran yang berbeda dari yang biasa ia perankan.
__ADS_1
Emi merasa merinding saat melihat Steven menjadi orang jahat. Tetapi saat sutradara mengatakan “cut” Steven berubah lagi ke sifat aslinya.
“Bagaiman aktingku?” Steven bertanya ke Emi.
“Bagus.” Emi masih belum bisa mengeluarkan banyak kata.
“Bagus atau bagus sekali?”
“Bagus sekali.”
...***...
Hari-hari berlanjut. Emi semakin dekat dengan Steven. Emi juga mulai bisa mengungkapkan isi hatinya. Tetapi Emi masih tidak mau disentuh Steven.
“Kakak ipar kenapa Emi tidak mau aku sentuh? Aku juga mau punya anak seperti Jingga yang imut ini.” Steven curhat lagi.
“Mungkin ada sesuatu yang mengganjal di hati Emi. Tanyakan pada Emi apa yang menjadi masalahnya. Mungkin ia akan membuka hatinya untukmu,” saran Violet.
“Jangan lupa kasih hadiah ke Emi,” saran Agus.
Di apartemen Steven saat malam.
Steven mengalami penolakan lagi. “Em, cerita ke aku ada apa?”
__ADS_1
Emi melihat Steven. Ia tahu tugasnya sebagai istri adalah melayani suaminya tetapi ada hal yang membuatnya takut. Emi memberanikan diri bercerita. “Kak, aku sudah pernah tidur dengan pria lain.”
Jawaban Emi membuat Steven terdiam. Ia memutar otaknya untuk memberi jawaban yang tepat untuk Emi. “Aku juga sudah pernah tidur dengan wanita lain. Kita impas.”