Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
B10 Uang Yang Unlimited


__ADS_3

Violet menunggu gilirannya sambil melatih dialog yang baru saja diberikan. Perannya tidak besar. Mungkin hanya akan ada tiga kalimat yang ia akan ucapkan di keseluruhan film.


“Anda menjatuhkan dompet Anda.” Violet mengulang-ulang empat kata itu sampai ia hafal. Ia juga mengingat ajaran dari Steven untuk memperlihatkan ekspresi yang sesuai dengan kalimat yang ia ucapkan.


Violet melihat di cermin. Apa ekspresi ini sudah cukup bagus? Apa ada ekspresi yang lebih baik lagi? Dalam satu kalimat dialog bisa digambarkan dengan banyak ekspresi.


“Nomor 151, 152, 153, 154,155.” panggil salah satu staff. Violet yang mendapat nomor 155 langsung berdiri bersama empat peserta lainnya. Ia memasuki sebuah ruangan.


Satu persatu peserta memperkenalkan dirinya dan memperagakan adegan yang sudah mereka latih. Tiba giliran Violet. Ia melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.


Berbeda dari peserta lainnya, Violet diminta untuk memperagakan adegan lainnya. Violet membaca sebentar dan memperagakannya.


Tak cukup itu saja. Violet diminta untuk memperagakan adegan yang dilakukan oleh pemeran utama wanita. Kemudian ia diperbolehkan untuk meninggalkan ruang audisi.


Violet menuju ke tempat parkir tetapi tidak nampak mobil yang dikendarai Agus. Ia menelpon Agus.


“Mas, aku sudah selesai audisi.”


“Aku ada di cafe sebrang tempat audisi. Cafe Flower.”

__ADS_1


Violet berjalan menuju ke cafe yang dimaksud Agus. Mereka bertemu di sana. Agus menyodorkan menu untuk Violet. Violet melihat harga yang tercantum.


Lima puluh ribu untuk seporsi nasi goreng? Apa uangku cukup?


“Aku yang traktir.” Agus tadi melihat Violet yang ragu untuk memesan makanan.


“Mas, kan pengangguran. Aku juga pengangguran. Kita harus menghemat uang kita.”


“Jangan memikirkan uang. Makan apa yang mau kamu makan.”


“Iya, Kakak ipar. Jangan pusing soal uang. Uangnya Kak Agus itu selalu ada. Uangnya Kak Agus itu unlimited. Tidak seperti kita yang harus kerja banting tulang.” Steven tiba-tiba nongol.


“Saya mau fish n chip dan jus alpukat. Kakak ipar mau apa?”


“Aku ...” Violet masih belum bisa memutuskan. “Nasi goreng ...” Violet menyebut menu yang paling murah harganya.


“Kakak ipar jangan pesan nasi goreng di sini. Lebih enak nasi goreng buatan Kak Agus. Satu chicken cordon blue dan minumannya Kakak ipar mau apa?”


“Lemon tea.” Sekali lagi Violet menyebut minuman yang harganya paling murah.

__ADS_1


“Jangan lemon tea. Lemon tea buatanku lebih enak. Jus buah raspberry. Biar Kakak ipar cepat hamil.”


Sekali lagi daun telinga Agus memerah. Pipi Violet ikut berwarna merah muda.


“Jangan bilang kalian belum ...” Steven melihat Violet dan Agus yang bersamaan meminum air putih.


“Jadi, benar kalian belum ... Kak Agus! Jangan malu-malu. Serang aja Kakak ipar.”


Violet terlihat mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya.


“Kak Agus harus belajar dari aku,” ucap Steven.


“Aku tidak mau belajar darimu. Kamu juga tidak punya pengalaman.”


“Kita bisa tanya ayah.” Steven hendak menelpon ayahnya. Tetapi dicegah oleh Agus. Ia tak ingin ayahnya mengetahui berita pernikahannya dari Steven tetapi ayahnya harus mendengar dari mulutnya sendiri.


“Kakak masih belum baikan dengan ayah?” Pertanyaan yang Steven juga tahu jawabannya.


Makanan tiba. Mereka memakan makanan mereka. Seperti biasa Steven makan begitu cepat dan pergi meninggalkan mereka karena jadwal syutingnya.

__ADS_1


__ADS_2