
Melihat Himeka tak sadarkan diri, Andini pun panik. Dengan sigap salah seorang pelayat laki-laki pun menggendong tubuh lemah Himeka masuk ke dalam rumah. Kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu pun menjadi pilihan untuk membaringkan tubuh Himeka.
Setelah menyuruh orang yang menggendong Himeka keluar, Andini segera melapaskan hijab yang dikenakan Himeka. Ia mengedarkan pandangan, mencari botol yang bertulisan minyak kayu putih. Namun nihil. Di ruangan itu tidak ada benda yang ia maksud.
Ia pun melangkahkan kakinya ke lantai dua pergi ke kamarnya Navya yang bersebelahan. Pandangannya lamgsung tertuju pada kotak kecil di atas meja. Kotak tersebut berisi perawatan tubuh si kecil, seperti bedak, lotion, minyak kayu putih, minyak. telon dan parfum kids.
Setelah mendapatkan benda yang dicari, ia menuju kamar di mana Himeka berbaring.
"Himeka pingsan ya?" tanya Rianti. Mereka berpapasan di tangga.
"Iya, yuk kita ke tempat Himeka."
Dengan langkah terburu-buru mereka pun menuruni anak tangga.
Sesampainya di kamar tempat Himeka berbaring, mereka pun dengan sigap mengoleskan minyak kayu putih di bagian tubuh Himeka. Rianti mengoleskan minyak ke perut dan kaki Himeka. Sedangkan Andini meletakkan minyak kayu putih di depan hidung Himeka dengan maksud membangunkannya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Himeka pun siuman. Pusing yang ia rasakan. Tangannya memijit pelipis untuk membuatnya sedikit nyaman.
"Ti, Navya mana?" tanyanya ke Rianti dengan suara yang lemah, hampir tidak terdengar.
"Navya sama Mak Tum. Tadi minta makan jelly sama Mak Tum di dapur." jawab Rianti menjelaskan keberadaan Navya.
"Wajah kamu pucet banget, Meka." Rianti khawatir.
"An, coba kamu periksa Meka deh." Rianti memalingkan wajah menatap Andini dan menyuruhnya untuk memeriksa keadaan Himeka. Andini adalah seorang dokter anak di rumah sakit swasta terkenal di Surabaya.
"Iya, aq ambil tas medisku di mobil ya." Andini segera melangkahkan kakinya.
Beberapa saat kemudian, ia sudah menenteng tas medis berwarna abu-abu miliknya.
Setelah memeriksa keadaan Himeka, ia pun menyarankan agar Himeka bedrest. Keadaan Himeka yang tak baik-baik saja yang menyebabkan ia seperti saat ini.
***
Senja mulai malu-malu menampakkan wajahnya. Halaman rumah yang tadinya penuh orang takziah sekarang terlihat sepi. Tenda sudah dilepas. Kursi-kursi yang tadi pagi berjejer rapi sekarang terlihat disusun dan teronggrok di samping garasi.
Terlihat Mak Tum sedang duduk di teras rumah sambil memangku Navya.
"Ti, malam ini kamu tidur di sini, ya." pinta Himeka kepada Rianti.
Kini mereka sedang duduk berdua di ruang keluarga. Andini sudah pamit 1 jam yang lalu, karena ia ada jadwal praktik jam 5 sore.
"Iya, Meka. Aku akan menemanimu selama 3 hari ke depan. Mumpung Mas Fatih juga lagi dinas di luar kota." jawab Rianti sembari menggenggam tangan Himeka.
__ADS_1
Suara klakson nyaring terdengar di luar. Bergegas Kang Ipin membukakan pintu pagar, agar mobil tersebut bisa masuk ke halaman rumah.
Setelah pintu mobil terbuka, terlihat seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas berwarna hitam menuruni mobil.
"Kakek." teriak Navya. Navya langsung berlari menuju pria paruh baya tersebut. Ya, pria tersebut adalah kakeknya Navya, ayah dari Danadyaksa Jayandaru. Ia baru sempat datang karena baru pulang dari perjalanan bisnisnya di Singapura.
Namanya Dhirga Jayandaru, pemilik perusahaan Jayandaru Grup yang bergerak di bidang furniture. Pernah berselisih dengan putranya, Danadyaksa. Sang putra tidak mau ikut terjun menjadi pebisnis sepertinya malah memilih profesi sebagai pilot yang merupakan cita-citanya sejak kecil.
Namun, lambat laun akhirnya ia mengalah dengan keputusan putranya. Dan mengizinkan Danadyaksa untuk melanjutkan sekolahnya di penerbangan.
"Kakek, kakek datang mau menemui ayah, ya?" tanya Navya dengan wajah polosnya yang menggemaskan. Kini, ia sudah berada di gendongan kakeknya.
"Ayah tadi pergi, Kek. Diantar sama bunda perginya. Ayah belum pulang lagi, Kek, " lanjut Navya
"Bunda ada di dalam ya, Vya? Ayo antar kakek menemui bunda." tanya Pak Dhirga mencoba mengalihkan
Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Sebelumnya, Mak Tum sudah memberi tahu majikannya kalau Pak Dhirga sudah datang. Tiba di ruang tamu, Pak Dhirga disambut oleh menantu satu-satunya.
"Ayo, sini Navya sama Mak Tum dulu, ya. Kita kasih makan ikan di belakang dulu ya. Kasian lho ikannya dari tadi nyariin Vya." ajak Mak Tum mengambil alih Navya ke gendongannya.
"Kek, Vya ngasih makan ikan dulu, ya."
" Iya, Vya sayang." jawab kakek seraya mencubit pipi Navya, gemas.
Pandangan mereka tertuju pada Navya yang berjalan menjauh.
"Sabar, nduk. Maafkan papa baru bisa datang sekarang." Pak Dhirga mencoba menenangkan Himeka seraya memeluknya. Ia sudah menganggap Himeka seperti putri kandungnya sendiri.
Himeka hanya mengangguk. Ia terus menangis di bahu ayah mertuanya.
"Menangislah jika menangis akan membuatmu lega. Jangan ditahan, karena akan membuatmu sesak, nduk."
Lagi-lagi Himeka hanya menjawab dengan anggukan.
Setelah merasa agak lega, Himeka mendongakkan kepala menatap mertuanya.
"Pa, jika selama hidup Mas Dana banyak salah sama Papa, maafkan Mas Dana ya, Pa." kata Himeka seraya menghapus sisa air matanya
"Papa sudah memaafkannya jauh sebelum ada kata maaf." jawab Pak Dhirga sambil melepas kacamata dan membersihkan air di sudut matanya. Jelas nampak bahwa beliau pun juga menangisi kepergian putra satu-satunya.
"Jika saat itu Mas Dana nurut sama Papa untuk kerja di perusahaan Papa dan tidak menjadi pilot. Mungkin Mas Dana sekarang masih hidup, Pa."
"Istighfar, nduk. Kamu tidak boleh menyalahkan takdir. Ini semua sudah kehendak yang Maha Kuasa."
__ADS_1
"Astaghfirullahalazim, astaghfirullahalazim, astaghfirullahalazim" Himeka mengucap istighfar berkali-kali
"Walaupun berat, kita harus mencoba untuk mengikhlaskan kepergiannya." Pak Dhirga menasihati menantunya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dengan dibantu anaknya, Rina, Mak Tum menyiapkan makan malam. Menu makan malam hari ini tergolong sederhana. Hanya ayam goreng tepung, sambal goreng ati, tumis kangkung dan oseng tempe.
Di depan TV terlihat Navya masih menonton kartun dengan ditemani Rianti. Sedangkan Himeka dan Pak Dhirga berada di kamar masing-masing.
Setelah semua makanan sudah siap diatas meja, Mak Tum segera memberi tahu si nyonya rumah.
Himeka segera menuruni anak tangga, mengajak semuanya untuk bersiap makan malam.
Kini mereka duduk mengelilingi meja makan. Kursi yang biasanya ditempati suaminya, kini mertuanya yang duduk di sana.
"Navya mau makan sama ayam goreng, ya?" tanya Rianti
"Iya, Tante. Vya mau ayam goreng ipin upin." jawab Navya
"Mbak Rina, tolong suapin Navya ya." perintah Rianti kepada Rina, anak dari Mak Tum, asisten rumah tangga
Segera Rina mengajak Navya ke ruang belakang untuk disuapi.
Suasana di meja makan kembali hening. Himeka, Rianti dan Pak Dhirga pun tidak ada yang memulai aktivitas makan. Entah karena belum terasa lapar atau tidak enak makan, mereka kompak untuk diam.
Sampai akhirnya Rianti pun membuka suara.
"Meka, kamu harus makan, ya. Tadi saja kamu habis pingsan lho. Kamu harus jaga kesehatan." pinta Rianti. Himeka hanya menggelengkan kepala.
"Kasian Navya kalau kamu sakit, nduk." Kini giliran Pak Dhirga yang menasihati. Namun, tetep gelengan kepala yang diberikan Himeka sebagai jawaban ia tidak ingin makan.
"Maaf, Pa, Rianti. Meka mau ke kamar dulu ya." kata Meka setelah meneguk susu yang disiapkan Mak Tum untuknya.
Setelah Himeka meninggalkan meja makan, Pak Dhirga pun juga pamit untuk kembali ke kamar. Sehingga meninggalkan Rianti sendiri di meja makan. Akhirnya Rianti memerintahkan Mak Tum untuk membereskan meja makan dan ia pergi menyusul Himeka ke kamarnya.
.
.
.
Terimakasih yang sudah mampir memberikan like, rate, favorit dan komentarnya ya.
__ADS_1
Maafkan jika kemarin tidak bisa up karena saya ada kesibukan d RL 🙏🏻
Salam ketjup basah untuk para reader tercinta💋