
Mereka akhirnya tiba di tempat yang hendak dituju Violet. Violet melihat ada dinding atau mungkin lebih tepatnya pagar yang berisi banyak gembok. Seperti gembok cinta yang terdapat di Korea.
Salah satu keinginannya adalah memasang gembok berdua lalu membuang kunci supaya cinta mereka abadi. Walaupun hanya mitos dan sekedar rutinitas saja.
Tetapi yang berada di samping Violet bukan pria yang dimaksud. Agus tiba-tiba datang membawa gembok. Ia menuliskan nama Violet dan dirinya di gembok itu.
Ia membawa Violet atau lebih tepatnya agus menyeret Violet untuk memasang gembok bersama lalu membuang kunci di kotak yang telah disediakan.
Violet dan Agus berjalan-jalan dan menikmati pemandangan. Setelah beberapa lama, mereka menuju ke tempat lain yang berada dalam daftar Violet. Kali ini mereka ke taman bermain.
Walaupun di kota tempat Violet tinggal juga ada taman bermain tetapi sepertinya di kota A ini taman bermainnya lebih besar dan lengkap.
“Kamu nggak mau naik itu?” Agus menunjuk roller coaster.
“Aku bisa muntah kalau naik itu.” Violet merasa ngeri melihat wahana yang sedang berjungkir balik itu.
Violet tiba-tiba melihat mantan calon suaminya sedang berada di tempat yang sama dengan dirinya sambil bergandengan tangan dengan seorang wanita.
Violet ingin melabrak pria itu tetapi ia melihat banyak kerumunan dan ia tak mau menjadi viral karena adegan jambak-menjambak.
__ADS_1
Violet menggandeng tangan Agus dan membawanya pergi menjauh.
Violet memutuskan untuk menaiki wahana yang lebih aman dan berjalan tidak terlalu ekstrem. Ia bisa melihat berbagai hewan. Ada seekor monyet yang nakal, ia melempar kulit pisang ke wajah Agus.
Violet tertawa terbahak-bahak. Agus merasa kesal tapi kekesalannya menghilang saat melihat tawa di wajah Violet. Tawa yang akhirnya menjadi tangisan.
Violet mengingat adegan di mana mantan calon suaminya yang tak ada kabar itu terlihat bahagia dengan wanita lain.
Air mata Violet menetes. Agus memeluk Violet dengan erat. Violet menangis tersedu-sedu.
Wahana tersebut akhirnya sampai di akhir perjalanannya. Violet duduk di sebuah bangku sedangkan Agus tampak membeli makanan ringan dan minuman.
“Tadi pihak hotel kasih uang saku.”
“Mas, jangan boong, deh. Mana ada hotel sebaik ini. Bisa kasih uang saku ke tamu hotel.”
“Ketahuan, ya.” Agus Cuma terkekeh-kekeh.
“Jangan-jangan Mas yang punya hotel?” selidik Violet.
__ADS_1
“Apa aku kelihatan seperti orang kaya?”
Violet melihat Agus yang kurus kerempeng yang jika didorong sedikit saja mungkin bisa terbang entah ke mana.
Tidak. Mas Agus nggak mungkin orang kaya. Wajahnya aja kelihatan seperti wajah orang kere.
“Mau pulang atau lanjut ke tempat lain?” Agus mengalihkan pembicaraan.
“Apa di daerah sini ada pantai?”
“Ada.” Agus dengan cepat menjawab.
“Kok Mas bisa tahu?”
Agus menjawab dengan cepat. “Tadi aku lihat brosur di hotel.”
Mereka akhirnya menuju pantai yang diinginkan Violet. Matahari mulai terbenam. Menampakkan cahaya yang berwarna merah jingga. Cahayanya begitu indah dan membuat suasana menjadi romantis.
Kedua tangan Violet memegang kedua sisi wajah Agus. Ia mencium Agus begitu dalam. Salah satu impiannya adalah berciuman saat matahari terbenam.
__ADS_1
Sementara itu bapak supir yang tak jauh dari tempat Violet dan Agus berada, ia memiringkan wajahnya. Walaupun dalam hatinya ia ingin melihat tetapi ia masih ingin mempertahankan pekerjaannya.