Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
A27 Will You Marry Me?


__ADS_3

Mereka saling menatap. Joshua tidak bisa membenci Hana. Joshua memeluk Hana. “Terima kasih.”


“Sama-sama, Kak. Aku melakukannya karena Kakak menyukai peran ini. Maaf. Aku seharusnya bicara ke Kakak terlebih dahulu.”


“Lain kali jangan ada hal tersembunyi di antara kita. Bicara ke aku. Aku juga akan bicara ke kamu tentang apapun.”


“Baik, Kak.”


“Dan satu hal lagi ...” Joshua mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah muda dari saku celananya.


“Maukah kamu menikah denganku?” Joshua melamar Hana.


“Aku mau.” Hana menjulurkan tangan kirinya. Ia sudah menunggu lama untuk hal ini.


Joshua memasangkan cincin pertunangan ke jari manis Hana. Mereka lalu berpelukan. Ayah dan ibu Hana yang melihat dari jauh juga turut berbahagia.


“Aku punya hadiah lain. Tutup matamu.” Joshua menggandeng tangan Hana.


“Hati-hati ada tangga di depan.” Joshua menuntun Hana.


Hana merasa penasaran. Ia membuka matanya.


“Tutup lagi matamu.”


“Apa kita masih jauh?”


“Sebentar lagi kita sampai.”

__ADS_1


Mereka tiba di tempat yang dituju Joshua. “Kamu boleh membuka matamu.”


Hana melihat rumah di sebelah rumah mereka. Hana bingung. Ia melihat sekitarnya. Tidak ada apa-apa.


“Ini rumah unuk kita tinggal nanti setelah menikah.” Joshua baru saja membeli rumah di sebelah rumah Hana yang dijual pemiliknya. Joshua melihat ekspresi Hana yang datar. “Kamu nggak suka?”


“Aku berterima kasih Kakak sudah membeli rumah untuk kita tinggal. Tapi aku ingin tetap tinggal bersama ayah dan ibu.”


“Rumah mereka cuma bersebelahan dengan kita. Kamu bisa mengunjungi ayah dan ibu setiap hari. Mereka juga bisa berkunjung ke rumah kita.”


“Apa sebaiknya kita sewakan aja rumah ini?”


“Tidak. Aku ingin kita tinggal di sini.” Joshua ingin pisah rumah dari mertuanya.


“Tapi aku nggak mau.”


“Sampai kapan kamu akan terus kekanak-kanakan begini.”


“Hana. Hana,” panggil Joshua.


Hana tidak mendengarkan Joshua. Sesampainya di kamar Hana merasa menyesal. Ia melihat jari manisnya yang sudah tidak terpasang cincin. Apa aku memang kekanak-kanakan?


“Hana ...” Joshua mengetuk pintu kamar Hana. Ia merasa keterlaluan telah menyebut Hana kekanak-kanakan. Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. “Aku minta maaf. Tidak seharusnya aku mengucapkan kata itu.”


Hana membuka pintu kamarnya. Ia menjulurkan tangannya. Joshua gagal paham.


“Kakak nggak mau pasang cincinnya?”

__ADS_1


Oh, iya. Cincinnya. Joshua menyentuh saku kaosnya. Eh? Ke mana cincinnya? Joshua lupa mengambil cincin yang dilempar Hana karena hanya memikirkan pertengkaran mereka.


Mereka bersama-sama keluar rumah menuju tempat Hana membuang cincinnya. Hana sibuk mencari. Tetapi tidak ketemu.


“Kakak ketemu cincinnya?”


“Tidak.” Joshua tidak menemukan cincin.


“Maafkan aku, Kak. Cincinnya jadi hilang. Harganya berapa? Nanti aku ganti.” Hana merasa bersalah. “Aku memang kekanak-kanakan, ya?” Hana merasa menyesal.


Joshua melihat ke tanah. Ada cahaya kerlip di sana. Ia berjongkok. “Ketemu.” Joshua hendak memakaikan cincin itu ke jari Hana tetapi ditolak oleh Hana.


“Cincinnya sudah kotor. Kakak harus mencucinya terlebih dahulu. Jangan lupa pakai air panas.”


Joshua menurut. Ia mencuci dan mensterilkan cincin kemudian memasangkannya ke jari Hana.


“Cincin ini asli?”


“Asli. Ada kuitansinya kalau nggak percaya.” Joshua hendak mengambil kuitansi sebagai bukti.


“Aku percaya karena kulitku nggak gatal karena biasanya kalau aku pakai yang imitasi kulitku bakal gatal-gatal. Jadi, kapan kita menikah, Kak?”


“Secepatnya.”


“Aku sudah menunggu terlalu lama. Aku nanti jadi perawan tua. Nanti keriputku tambah banyak. Kakak lihat di sini dan di sini." Hana menunjuk bagian wajahnya.


"Aku mau suntik botox biar kelihatan kencang.”

__ADS_1


“Aku lebih suka kamu yang alami.” Joshua mendekati Hana. Bibir mereka hendak bertemu.


“Ehm ...” Kali ini giliran ayah Hana yang mengingatkan.


__ADS_2