Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
B8 Tampan, Tinggi, Berkharisma


__ADS_3

“Tapi aku lebih suka Mas.” Ada sedikit kebohongan di perkataan Violet.


Agus mulai tersenyum. Sudah cukup sering orang-orang membanding-bandingkannya dengan sang adik yang memang jauh lebih tampan dari dirinya itu.


“Apa yang kamu suka dari aku?”


Violet belum bisa menjawab. Membuat suasana menjadi kikuk lagi di antara mereka.


Telepon masuk ke ponsel Violet. Dari nomor tidak dikenal. Violet mengangkatnya dan mengaktifkan mode speaker. “Halo ...”


“Kakak ipar. Aku kangen.” Suara Steven terdengar di ujung telepon.


Violet tidak tahu bagaimana Steven bisa tahu nomor ponselnya. Dirinya bahkan tidak memberikan nomor ponselnya ke Steven.


Agus langsung mematikan panggilan telepon itu. Tetapi Steven tidak menyerah. Ia menghubungi Violet lagi. “Kak Agus jangan dimatikan. Aku lagi bosan ini. Syutingnya belum mulai.”


“Main aja sama kru di sana. Jahilin mereka sampai kamu puas.”


“Aku harus jaga imej, Kak. Jadi aktor itu susah. Nggak boleh salah. Nggak boleh ini itu.” Steven curhat. Kehidupannya memang terekspos oleh media. Salah sedikit saja, karirnya taruhannya.


“Salah kamu sendiri mau jadi aktor.”


“Kak, aku dipanggil staf. Bye.” Steven memutuskan panggilan teleponnya karena hendak syuting.


“Aku tidak memberitahukan nomor ponselku ke Steven.” Violet tak ingin Agus salah paham.


“Tak perlu diberitahu. Ia bisa tahu sendiri.”


“Bagaimana caranya?”

__ADS_1


Agus menaikkan kedua bahunya. “Aku juga nggak tahu.”


...***...


Violet tak ingin menganggur dan berada di rumah saja. Ia ingin bekerja dan menghasilkan uang. Ia melihat tawaran casting. Ia meminta ijin ke Agus. “Mas, aku boleh ikut ini?” Violet menunjukkan pengumuman audisi untuk sebuah film.


“Boleh.”


Violet mulai menyiapkan dirinya. Ia sudah lama melupakan dunia akting karena lebih mengutamakan pendidikannya dan karirnya. Violet mulai berlatih lagi berbagai macam ekspresi.


Steven ikut membantu Violet.


“Kakak ipar seperti ini.” Steven membuat ekpresi marah di wajahnya. Walaupun tanpa dialog tetapi semua orang bisa tahu apa emosi Steven.


“Dulu Kakak ipar pernah main film?”


“Aku nggak tahu film itu.” Steven mencoba mencari info tentang Violet melalui media online tapi tidak ada kabar tentang Violet.


“Trus kenapa Kakak ipar nggak lanjut akting?”


“Aku lebih memilih pendidikan dan karir di perusahaan.” Violet memilih jalan yang lebih aman. Aktor tidak mempunyai penghasilan yang tetap.


“Aku akan latih Kakak mulai sekarang tapi aku nggak akan segan-segan marahin Kakak ipar kalau salah.”


“Baik Pak Guru.”


“Muridku sekarang kita harus makan. Chef Agus sudah memasak untuk kita. Tidak belajar dalam kondisi perut lapar.”


Di ruang makan.

__ADS_1


“Harga apartemen ini berapa?” Violet bertanya.


“Satu unit apartemen ini harganya 5 M.”


“5 milyar!?”


“Betul. Tapi aku boleh tinggal cuma-cuma di sebelah. Padahal aku maunya tinggal sama Kak Agus. Kakak ipar aku boleh tinggal di sini? Di sebelah aku kesepian.”


“Cari pacar sana.” Agus menjawab. Ia ingin membuat Steven lebih mandiri. Sifatnya masih terlalu kekanak-kanakan saat ini.


“Kakak ipar sudah memilih agensi apa?” Steven bertanya.


“Belum.”


“Kalau masuk agensi bisa dapat job lebih banyak,” kata Steven. Sebuah agensi biasanya mempunyai koneksi ke rumah produksi.


“Benarkah?”


“Gabung ke agensiku aja. Pimpinannya orang baik.”


“Pimpinannya seperti apa?” Violet penasaran.


“Dia itu tampan, tinggi, berkharisma.” Steven memuji dirinya sendiri.


“Sejak kapan kamu jadi pimpinan agensi?” Agus ikut nimbrung. Tampan, tinggi dan berkharisma adalah ciri khas Steven.


“Sejak detik ini.”


“Tidak semudah itu. Para petinggi akan keberatan.”

__ADS_1


__ADS_2