Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
B16 Lagi Dan Lagi


__ADS_3

Agus, Steven dan ayah mereka menenggak wiski yang aromanya masih bisa tercium di ruang makan. Wiski yang segelas kecil saja harganya setara rumah.


“Jadi kapan cucu ayah lahir?” Ayah Agus memulai pembicaraan.


“Maksud Ayah?” Agus tidak paham.


Steven buru-buru menjawab, “Lima bulan lagi, Yah.”


Violet dan Agus sama-sama terkejut. Violet malah tidak tahu ia hamil karena bagaimana ia bisa hamil jika mereka belum pernah melakukannya.


Violet dan Agus sama-sama sadar jika perihal kehamilan ini adalah sebuah kebohongan dari Steven. Violet juga sadar jika ia tidak bisa meminum wiski karena ia disangka sedang hamil.


“Kalian sudah siapkan namanya?” Ayah Agus bertanya lagi.


“Belum, Yah,” jawab Violet.


“Agus sudah siapkan nama. Kalau perempuan Jingga. Kalau laki-laki Bimo.”


“Bemo?”


“Bukan bemo, Yah tapi Bimo dari Bimoli.”


“Kak Agus kalau kasih nama anak yang keren dikit gitu. Rata-rata jaman sekarang semua nama anak pakai nama Barat,” protes Steven.

__ADS_1


“Walaupun namanya nama lokal tapi tetap bagus,” kata ayah Agus.


Selesai acara makan-makan ayah Agus menunjukkan foto masa kecil Agus dan Steven. Terlihat Agus yang imut dan lucu. Steven yang menggemaskan saat bayi.


Ada foto Agus kecil memegang ukulele. “Ayah sudah tahu sejak dulu jika Agus menyukai musik seperti ibunya.”


Ayah Agus meminta Violet dan Agus untuk menginap begitu juga dengan Steven. Mau tidak mau Violet dan Agus menginap.


“Mas, kita harus ngomong jujur ke Ayah kalau aku tidak hamil. Lima bulan itu terlalu singkat untuk membuat dan melahirkan anak kecuali jika bayinya prematur.” Violet tak ingin membohongi ayah mertuanya.


Salah satu alasan ayah Agus memaafkan Agus juga karena kehadiran sang cucu. Sang ayah sangat ingin melihat cucunya sebelum ia meninggal.


“Besok aku bilang ke ayah.” Agus juga tak ingin berlama-lama membohongi sang ayah.


“Aku juga mencintaimu. Maaf. Aku terlalu lambat mengatakannya. Aku takut ditolak.”


Mereka akhirnya mengungkapkan perasaan mereka. Violet mendekati Agus. Ia mencium Agus yang diterima oleh Agus. Berawal dari ciuman, mereka mulai melakukan hal yang lebih.


******* demi ******* keluar dari mulut mereka berdua. Keringat mulai bercucuran. Malam yang berakhir indah untuk mereka berdua.


Pagi hari.


Violet dan Agus bersiap untuk pulang. “Ayah, kami pulang dulu.”

__ADS_1


“Sering-sering datang kemari. Kabari Ayah tentang cucu Ayah.”


“Iya, Yah.”


Steven melihat Violet dan Agus yang menjadi semakin erat dibandingkan malam kemarin. Tanda-tanda kepemilikan di leher menjadi bukti perbuatan mereka semalam. “Kak Agus dan Kakak ipar sudah ... Yes! Bentar lagi aku punya ponakan.”


Steven merasa senang. Sedangkan Violet dan Agus berjalan malu-malu menuju ke mobil mereka.


Di rumah.


Violet dan Agus melanjutkan apa yang terjadi semalam setelah pengakuan cinta mereka. Mereka tak lagi malu-malu saat mereka saling menatap tubuh polos mereka. Baju yang mereka kenakan sudah berserakan di lantai.


Steven yang berada di depan pintu apartemen Agus membatalkan niatnya untuk masuk ke dalam. Ia tahu sang kakak dan kakak iparnya tidak boleh diganggu.


Sementara itu di dalam kamar.


Selesai melakukannya, Agus berebah di samping Violet. Ia menyentuh lembut perut Violet. “Sepertinya impian ayah untuk menggendong cucu akan terlaksana tahun depan.”


“Semoga.”


Dan mereka melanjutkannya lagi dan lagi.


End.

__ADS_1


__ADS_2