
Arman begitu menyayangi Kai, putranya. Ia membelikan banyak mainan. Ia juga sering menghabiskan waktunya bersama Kai.
Arman meletakkan telinganya ke Kai. “Kai mau adik? Nanti malam papa bikin sama mama.”
“Aku belum boleh melakukannya. Nanti setelah aku bersih, kita bisa melakukannya,” ujar Ellen.
Kalimat yang tidak disangka-sangka Arman. Ia hanya bergurau. Ia sudah menyerah dengan menerima jika kejadian Kai adalah pertama dan terakhir kalinya ia berhubungan badan dengan Ellen.
Arman bersorak dalam hatinya. Kai, papa berhasil dapetin hati mama. Arman tersenyum lebar dan Kai menirunya. “Senyum Kai bisa bikin papa hidup seratus tahun lagi.”
...***...
Ellen sudah bersih. Ia menyiapkan dirinya untuk Arman. “Malam ini kita sudah bisa melakukannya.” Ellen memberitahu Arman yang masih bekerja di kantor melalui pesan WhatsApp
Arman langsung bersorak di dalam hati mendengar berita yang ia nanti-nantikan itu. Hore ... Malam ini aku dan Ellen bisa ...
Setelah pulang kerja Arman mampir ke toko camilan untuk Ellen. Ia membeli beberapa roti. Ia lalu pulang ke rumah.
__ADS_1
Malam tiba.
Ellen mematikan lampu yang terang di kamar tidur. Ia hanya menyalakan lampu yang redup. Arman tahu itu tanda dari Ellen. Ia bersiap.
Arman membaringkan Ellen. Ia mulai mengecup Ellen mulai dari bibir turun ke leher dan turun ke bawah dan semakin ke bawah.
Setelah Arman merasa tubuh Ellen sudah siap, ia mulai bermain. Baru saja Arman hendak ... Kai tiba-tiba menangis. Permainan dengan terpaksa berhenti sejenak.
Arman mendekati Kai. Ia menggendong Kai. “Kai mimpi buruk? Tenang. Ada papa dan mama yang jagain Kai.” Perlahan Kai tertidur kembali.
Arman memulai permainan kembali. Ia mulai mengecup Ellen di mana-mana. Lidah bermain. Saatnya tiba ...
Keesokkan harinya.
Siska datang membawa sarapan dan melihat kissmark di leher Arman dan Ellen. Ia turut senang untuk Arman. “Mama tadi bikin bubur buat Ellen.”
“Terima kasih, Ma. Bubur buatan Mama itu bubur paling enak sedunia,” puji Ellen.
__ADS_1
“Kamu ini bisa aja. Mama jadi tersanjung.” Siska lalu melihat Kai. “Kai ... Hai ... oma datang.” Siska menggendong Kai. Tiba-tiba ekspresi Kai berubah. “Kai pup?”
Setelah beberapa saat Siska hendak mengganti popok Kai. “Biar Ellen aja, Ma.”
“Kamu makan aja. Mama sudah pengalaman gantiin popok.” Siska dengan lihai mengganti popok Kai. “Oh, iya El. Besok datang ke rumah sama Arman. Adly mau kenalin calon istrinya. Calon istrinya itu orang bule.”
Ellen terdiam. Jauh di dalam hatinya ia masih mencintai Adly tetapi memiliki Adly sudah tidak mungkin untuknya.
Keesokkan harinya.
Ellen bersama Arman dan Kai mengunjungi rumah utama. Adly membawa Sabrina, calon istrinya. Mereka bertemu di luar negri. Adly memang menggunakan Sabrina untuk mengatasi rasa kecewa dan sakit hatinya. Tetapi ia akhirnya bisa jatuh cinta lagi.
Ellen melihat kemesraan Adly dan Sabrina. Ia merasa cemburu. Tangan Arman menggenggam tangan Ellen. Seolah mengingatkannya jika ia sudah punya Arman di sisinya.
Ellen berkenalan dengan Sabrina, calon kakak iparnya. Ellen bisa tahu kenapa Adly memilih Sabrina sebagai istrunya. Sabrina mempunyai kepribadian yang begitu menarik. Ia tahu cara membuat orang lain merasa nyaman saat berada di dekatnya.
Kak Adly sekarang sudah berbahagia. Aku juga sudah berbahagia.
__ADS_1
Adly menggendong Kai untuk pertama kalinya. Bayi penyebab putusnya hubungan dirinya dengan Ellen.