Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
D6 Gara-Gara Kecoa


__ADS_3

Apa yang menyebabkan Ellen tertawa terbahak-bahak? Apa Ellen sudah membuka hatinya kepada Arman, ayah dari bayinya. Mungkin.


Ellen yang masih terbaring melihat Arman yang membuka pintu kamar mandi. Arman terlihat ragu untuk memasuki kamar mandi padahal ia sudah begitu kebelet.


Arman melihat makhluk kecil berwarna coklat tua sedang merayap di lantai kamar mandi.


Ini kamar paling mahal di rumah sakit kenapa ada kecoa segala.


Arman merasa merinding. Ia memang bertubuh besar tetapi ia katsaridaphobia (fobia kecoa). Kecoa yang berada di lantai itu terbang ke arah Arman. Arman langsung berlari dan meringkuk di sofa. Ia menutup matanya. 


Ellen yang melihatnya tertawa. Bagaimana tidak ia tidak tertawa. Badan Arman bisa dibilang termasuk besar tetapi ia seperti orang yang lemah saat menghadapi kecoa.


“Ha ... Ha ... Ha ...” Ellen tak berhenti tertawa. Arman menatap Ellen. Ia ingin marah karena Ellen mentertawainya. Tapi ia ikut tersenyum.


Kecoa, terima kasih. Kamu yang selalu aku benci tetapi aku sayang kamu sekarang.


Arman lalu menuju keluar kamar. Ia hendak membeli makanan di kantin. Ia melihat Siska dan Alan datang. “Ma, Pa. Masuk.” Arman mengambil rantang dari tangan Siska dan membuka pintu kamar rumah sakit.


Mereka lalu masuk. “Mama buatin bubur buat kamu, El.”

__ADS_1


“Terima kasih, Ma.”


“Ar, suapin El,” perintah Siska sambil mengedipkan matanya ke Arman. Ia tahu Ellen tidak akan menolak jika ia yang menyuruhnya. Arman sering memberi laporan ke Siska jika Ellen masih tidak menyukai dirinya.


Arman mengatur posisi ranjang Ellen melalui remote agar Ellen bisa duduk dan bersandar dengan nyaman. Ia lalu menyuapi Ellen.  Ellen tidak bisa menepisnya secara ada Siska dan Alan ada di depannya. Ellen mulai menyantap suapan dari Arman.


“Enak, Ma.”


“Bubur buatan Arman lebih enak lagi," ucap Siska.


Aku? Aku bisa bikin bubur? Arman bingung.


Nanti mama ajarin kamu. Begitu telepati dari mereka berdua.


Alana juga tidak mau kalah. Ia ikut memuji Arman di depan Ellen. Berharap Arman punya nilai positif di mata Ellen. “Ar, tadi manajer memujimu. Katanya idemu sangat bagus.”


“Terima kasih, Pa.” Arman tersenyum malu. 


“Dokter bilang apa dengan keadaan Ellen? Cucu Mama bagaimana?” Siska mengajukan berbagai pertanyaan.

__ADS_1


“Ellen sudah bisa pulang dua hari lagi. Tapi Ellen harus bed rest.”


“Mama akan menyewa pelayan untuk membantu membersihkan rumah." Siska menyarankan.


“Tidak perlu, Ma. Arman bisa kerjain perkerjaan rumah." Arman sudah terbiasa.


“Beneran?”


“Beneran. Selama ini Arman yang ...”


Ellen mencubit tangan Arman. 


“Ouch.” Arman melihat tatapan tajam dari Ellen. Kamu mau lapor ke mama kalau kamu yang cuci piring, cuci baju, lipat baju begitu? Kamu ingin aku terlihat buruk di depan mama dan papa?


Arman sadar. “Arman bisa kok, Ma ngerjain semuanya. Kan cuma ada kami berdua aja. Kerjaan rumah juga nggak banyak. Makanan juga bisa pesan online. Tapi Arman minta ijin untuk kerja dari rumah.”


“Mama bisa kirim makanan untuk kalian berdua.”


“Terima kasih banyak, Ma.”

__ADS_1


“Sama-sama. Yang penting sekarang itu kesehatan kamu dan cucu Mama. Mama sama Papa nggak sabar nunggu lahiran.”


__ADS_2