Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
H3 Pianis Genius


__ADS_3

Bergadang? Apa maksud Tuan Vincent?


Sekali lagi Ariel ingat pesan dari kepala pelayan. “Jika Tuan Vincent bilang kamu harus istirahat, kamu harus istirahat. Jam kerja asisten itu tidak menentu. Tergantung dari jadwal Tuan Vincent.”


Ariel lalu berbaring di kasur di sebelah kasur Vincent. Ia tertidur. 


Malam tiba. 


Terdengar suara di kamar. Ariel terbangun. Ia melihat Vincent sudah berada di depan pintu kamar. Ariel segera bangun dan berjalan di samping Vincent.


Jam berapa ini? Ariel masih mengantuk. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya. Mereka tiba di taman dan duduk di bangku.


“Bisa kamu jelaskan keadaan bulan sekarang,” pinta Vincent.


Ariel melihat ke langit yang penuh bintang. “Hari ini bulannya berbentuk bulan sabit.”


Vincent juga menengadah ke langit malam. Ia tidak bisa melihat. Ia hanya bisa membayangkannya. Ia lalu menyerahkan sisir untuk Ariel. “Sisir rambutmu. Tadi kamu buru-buru bangun dan tidak sempat menyisir rambutmu, kan?’

__ADS_1


“Terima kasih, Tuan.” Ariel menyisir rambutnya.


Mereka lalu kembali ke dalam rumah dan memasuki ruang musik, tempat Vincent melatih jari-jarinya dan menciptakan musik.


Vincent duduk di kursi. Ia membuka tutup tuts piano dan mulai bermain. Ariel yang mendengarnya tersentuh. Ia bertepuk tangan saat Vincent menyelesaikan satu lagu. 


Vincent memainkan musik lainnya. Kali ini karya Chopin. Ariel yang tidak tahu apa-apa tentang musik klasik merasa musik klasik itu juga enak didengar.


Vincent berlatih dan berlatih lagi. Ia akan mengadakan pertunjukkan bersama orkestra di beberapa kota di luar negri. Akan ada suara biola, celo, flute dan alat musik lain juga.


Mendengar musik yang tenang membuat Ariel tertidur dalam posisi berdiri.


Mereka lalu kembali ke kamar dan beristirahat.


Siang harinya. 


Ariel bangun kesiangan. Jam berapa ini? Jam 11 siang! Ariel melihat ke arah Vincent. Fiuh! Ariel merasa lega. Syukurlah. Tuan Vincent belum bangun. Ariel buru-buru membersihkan dirinya dan menyiapkan pakaian untuk Vincent.

__ADS_1


Tak lama kemudian Vincent bangun. Ia menuju ke kamar mandi. Sedangkan Ariel memberi tahu chef jika Vincent telah bangun. “Tuan Vincent sudah bangun. Tolong buatkan makan siang untuk Tuan.”


Ariel kembali lagi ke kamar tidur. Ia membantu Vincent merapikan pakaiannya.


Makanan telah jadi saat Vincent turun ke bawah.


Selesai makan mereka langsung pergi ke sebuah gedung pertunjukan. Vincent mengadakan gladi kotor untuk pertunjukkannya dua hari lagi.


“Tuan, hati-hati. Ada tangga di depan Anda.” Ariel menuntun Vincent.


Vincent tiba di atas panggung yang sudah tersedia gand piano. Ia mulai menggerakkan jari-jarinya untuk pemanasan lalu memainkan lagu yang akan ia tampilkan dua hari lagi.


Satu lagu yang dimainkan Vincent tidak hanya berdurasi tiga atau lima menit seperti lagu pada umumnya. Tetapi dua puluh tiga menit. Dan Vincent bisa memainkannya dengan baik tanpa melihat partitur di depannya.


Ariel jadi mengagumi Vincent. Tuan Vincent hebat.


Vincent lalu mengakhiri sesi latihannya. Mereka lalu menuju ke stasiun radio karena Vincent akan menjadi bintang tamu.

__ADS_1


Di stasiun radio. Vincent dipandu Ariel untuk menuju meja siaran. Sudah ada dj radio yang akan memandu acara. Pertama-tama musik rekaman dari piano diperdengarkan. Musik yang dimainkan oleh Vincent.


“Selamat siang untuk pendengar A FM. Saat ini di studio telah kedatangan tamu istimewa. Siapa dia? Dia adalah pianis kebanggaan kita semua yaitu Saudara Vincent.”


__ADS_2