
Malam ini terasa dingin. Mungkin karena hujan sejak sore mengubah hawa Kota Surabaya yang biasanya sangat panas dan gerah menjadi sedingin ini. Bagi sebagian insan, cuaca hujan gerimis seperti saat ini menambah kedamaian malam. Tidur pun menjadi lebih nyenyak.
Namun berbeda dengan Himeka, saat ini ia masih terjaga. Padahal jarum jam dinding sudah menunjukkan jam 1 dini hari. Berulang kali ia mencari posisi ternyaman untuk tidur dan membenarkan letak selimut yang menutupi tubuhnya.
Hingga ia pun akhirnya menyerah. Di raihlah obat di dalam laci sebelah tempat tidurnya untuk membantunya lebih cepat terpejam. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa hari terakhir ini ia selalu mengkonsumsi obat tidur. Himeka terlalu pandai menutupi lukanya sehingga tak seorang pun mengetahui bahwa sebenarnya ia rapuh.
Sepuluh semenit setelah ia meminum obatnya, ia pun terlelap sambil memeluk sebuah foto berbingkai silver. Foto seorang pilot yang terlihat gagah dengan seragam kebesarannya tersenyum manis menunjukkan deretan gigi putihnya.
***
Setelah diguyur hujan semalaman, pagi ini terasa sejuk. Tetasan embun pagi terlihat membasahi daun-daun nan hijau di taman rumah nuansa minimalis modern ini.
Perempuan dengan baju dress rumahan bercorak bunga krisan itu sedang duduk di teras rumah. Secangkir teh hangat dan headset di telinga menemani paginya saat ini.
Alunan merdu suara penyanyi pop Indonesia melantunkan dengan apik lirik lagu bertajuk Dear Diary
Dear diary ku ingin bercerita
Semalam aku bermimpi
Bermimpi bertemu dengannya
Kan ku tulis semua cerita ini
Begitu senangnya hariku
Tenang saat kutatap matanya
Oh bahagia aku saat engkau
Menggenggam kedua tanganku
Berdetak deras jantungku tak berdaya
Lemah semua syaraf nadiku
Dear diary ini hanyalah mimpi
Dan ku buka mata pagi menyapaku
Ini hanya sebuah mimpi
Oh bahagia aku saat engkau
Menggenggam kedua tanganku
Berdetak deras jantungku tak berdaya
Lemah semua syaraf nadiku
Oh bahagia aku saat engkau
Menggenggam kedua tanganku
__ADS_1
Berdetak deras jantungku tak berdaya
Lemah semua syaraf nadiku
Dear diary ini hanyalah mimpi
Dan ku buka mata pagi menyapaku
Ini hanya sebuah mimpi
Ini hanya sebatas mimpi
Lirik lagu tersebut persis menggambarkan keadaan ia semalam. Ingin ia turut mengambil buku catatan harian dan menceritakan kejadian apa semalam. Ya, suaminya hadir di mimpinya. Rasa kangen yang begitu mendalam kepada almarhum suami, menjadikan ia larut dalam mimpi. Walau hanya sekedar berjumpa di mimpi namun sudah sedikit mengobati rasa rindu di dada.
"Selamat pagi, Bunda cantik." sapa Navya yang tiba-tiba datang di hadapannya mencium pipi kiri Himeka.
"Pagi juga anak Bunda yang cantik. Eh sudah mandi ya, sudah harum dong." jawab Himeka seraya membalas mencium kedua pipi Navya
"Sudah dong, Bunda." kata Navya dengan senyum manisnya
"Ya, sudah yuk Sayang kita sarapan dulu." ajak Himeka seraya menggandeng tangan Navya
Mereka masuk ke dalam rumah dan menuju meja makan. Himeka mengajak Mak Tum dan Mbak Rina untuk sarapan bersama satu meja di meja makan. Awalnya Mak Tum dan Mbak Rina menolak karena mereka merasa sungkan. Namun akhirnya mereka bisa pasrah saat Navya yang merengek dan meminta mereka untuk duduk bersama.
***
Siang ini Devano sudah berada di perusahaan Bramanthy Group memimpin rapat direksi. Banyak laporan yang harus segera diurus sebelum pemimpin tertinggi pada perusahaan tersebut tiba di tanah air.
Sebenarnya ia ingin mengajak Himeka untuk makan siang, namun banyak pekerjaan yang mendesak harus segera ia selesaikan. Akhirnya ia pun berkeinginan untuk mengajak Himeka makan malam.
Pesan singkat itu tertuju pada nomor whatsapp seorang wanita yang namanya masih tertanam d hati. Sepuluh menit tidak ada jawaban dari Himeka, ada perasaan tidak nyaman pada hati Devano. Ia pun berinisiatif untuk menelponnya. Belum sampai memencet tombol dial pada layar handphone sebuah pesan dari yang ditunggu-tunggu pun masuk.
Iya, Dev. InsyaAllah.
Walaupun hanya sekedar jawaban singkat, namun bisa langsung merubah mood seorang Devano Abisatya. Ada seulas senyum mengembang di bibirnya saat ia membaca pesan singkat dari Himeka tersebut. Ingin rasanya ia segera menyelesaikan pekerjaannya dan pergi menemui Himeka.
***
Tidak seperti kemarin yang diguyur hujan. Sore ini langit terlihat cerah. Semburat jingga menghiasi langit sebelah barat, menambah kesan cantik sang cakrawala.
Himeka tampak cantik sore ini. Ia terlihat ingin pergi ke suatu tempat sebelum ia ada janji makan malam dengan Devano. Ia segera mendekati mobil merah kesayangannya dan menaikinya. Sengaja ia tidak mengajak Kang Ipin untuk menemaninya.
Mobil yang hanya berpenumpang 4-5 orang itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Himeka menepikan mobilnya ke sebuah toko "Love Florist". Segera ia masuk ke toko bunga tersebut dan memilih bunga apa yang ia suka dan dirasa cocok.
Bunga anyelir dan sedap malam menjadi pilihannya. Himeka meminta pegawai toko tersebut untuk membentuk sebuah bucket yang cantik.
Setelah mendapatkan bunga yang ia inginkan, ia melajukan kembali mobilnya ke sebuah tempat. Tempat dimana setiap manusia akan berpulang.
Dengan berjalan perlahan ia menapaki jalan kecil di antara batu nisan untuk mendatangi tempat peristirahatan terakhir almarhum suaminya. Sampailah ia di depan batu nisan marmer bertuliskan Danadyaksa Jayandaru.
Sekuat tenaga Himeka menguatkan hati agar air matanya tidak jatuh dan ia tidak luruh. Himejo duduk berjongkok, melekatkan bucket bunga yang ia bawa.
"Mas, aku datang." Hanya tiga kata namun kenapa begitu berat ia katanya di tengah hati yang masih diselimuti duka.
__ADS_1
Tangan Himeka terulur mengusap batu nisan. Seakan melukiskan kerinduan yang mendalam. Berulang kali ia menarik nafas panjang, berharap pasokan oksigen dapat mensuplai otaknya. Agar ia bisa menguatkan diri agar tidak rapuh.
Dua puluh menit, ia berdiam diri di depan batu nisan almarhum suaminya. Merasa hari sudah semakin sore, segera ia bangkit. Ia regangkan otot kaki yang sempat kram. Setelah merasa cukup enakan ia melangkahkan kaki untuk menjauh dan mendekati mobil merah yang terparkir tak jauh dari makam.
***
Himeka melajukan mobilnya perlahan. Lagu One Last Time milik Ariana Grande mengalun merdu di pemutar musik pada mobil Himeka. Ia butuh lagu yang easy listening agar moodnya segera membaik.
Ponsel Himeka bergetar tanda ada panggilan masuk.Nama Devano memenuhi layar. Segera ia memasang headset di telinga sebelum menekan tombol hijau di layar.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Dev." Himeka menjawab salam Devano
"Iya, Dev. Tidak usah dijemput, karena ini aku juga sudah di jalan kok."
Devano menawarkan diri untuk menjemput Himeka namun ditolak oleh Himeka.
"Iya, bener. Ini aku langsung ke tempat yang kamu maksud, ya. Sampai ketemu di sana, Dev. Assalamu'alaikum."
Himeka menutup telepon setelah Devano menjawab salamnya.
Setelah lima belas menit perjalanan, ia sudah sampai di Restoran Jepang tempat ia dan Devano berjanji untuk makan malam. Baru saja Himeka turun dari mobil, ada mobil hitam metalic mendekat, parkir tepat di sebelah mobil Himeka. Mobil dengan plat akhir HK, siapa lagi kalau bukan miliknya Devano Abistya.
"Kok bisa barengan ya, Me." kata Devano yang hanya dijawab oleh anggukan dan senyuman dari Himeka.
"Ya, udah yuk, Me, kita masuk."
Mareka jalan beriringan memasuki Restoran Jepang. Masakan Jepang adalah salah satu makanan favorit Himeka. Dan ternyata Devano masih ingat itu.
Setelah memilih tempat duduk, mereka memilih menu makanan dan minuman pada buku menu yang disuguhkan oleh waiters. Sembari menunggu makanan yang dipesan datang mereka mengobrol ringan.
"Kamu cantik malam ini, Me." puji Devano yang seketika membuat pipi Himeka merona
"Terimakasih pujiannya, Dev. Kamu masih sama seperti dulu, suka ngegombal." jawab Himeka yang disambut gelak tawa Devano
"Oh ya, besok jam 10 pagi ya kita survey lokasi. Aku jemput ya, Me." kata Devano
" Tidak usah, Dev. Besok sekalian pagi aku juga mau keluar kok. Mau daftarin Navya sekolah." jawab Himeka
"Oh ya sudah kalau begitu, Me. Kita janjian ketemu saja di lokasi gitu ya." kata Devano dan diangguki oleh Himeka.
Setelah makanan datang mereka pun menyantap makanan sambil sesekali diselingi obrolan. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Himeka mengajak untuk pulang karena dari sore ia meninggalkan Navya di rumah. Devano pun menyetujuinya.
Mereka pulang ke tujuan masing-masing. Himeka pulang ke rumahnya dan Devano pulang ke apartemennya. Himeka menyempatkan untuk mampir ke penjaja makanan untuk membelikan martabak kesukaan putrinya.
.
.
.
Seperti biasa gaes,, jangan lupa jempolnya untuk menekan tombol, like dan juga kasih komentar ya.
Jangan lupa rate 5 dan masukin ke daftar favorit biar tidak ketinggalan update dari novel ku.
__ADS_1
Terimakasih 🥳🥳
Dalam Ketjup Basah💋