
Ellen masuk ke dalam kamar. Ia teringat kembali kenangan buruknya dengan Arman. Kamar utama adalah tempat Arman menodainya. Ellen saat itu masih ingat. Arman membantunya menyusun perabotan karena Adly masih sibuk dengan pekerjaannya.
Arman kalap dan memaksa Ellen untuk ...
Ellen duduk di pinggir ranjang. Ia menangis lagi. Trauma itu datang lagi. Tangan Arman menyentuh pundak kanan Ellen.
“Jangan sentuh aku.” Tangan Ellen menepis tangan Arman. Ia tak mau disentuh oleh suaminya itu.
Ellen membenci Arman. Sangat benci. Tetapi ia mencoba bertahan demi bayinya. Pernikahan mereka sudah retak di hari pertama mereka menikah.
Arman menuju keluar dan mengambil makanan yang diantar oleh kurir. Ia membuka kemasan dan membawanya ke Ellen. “Makanlah. Dari tadi kamu belum makan.”
“Aku tidak mau makan.”
“Nanti kamu bisa sakit. Ibu hamil harus makan banyak untuk bayinya juga.” Arman hendak menyuapi Ellen. Ellen menepisnya. Satu sendok berisi makanan jatuh ke lantai.
“Walaupun kamu tidak mau makan tetapi jangan membuang makanan. Banyak orang di luar sana yang tidak bisa makan.”
__ADS_1
“Jadi sekarang kamu menggurui aku, Pemerko**. Kamu bisa masuk penjara jika aku mengadukanmu ke polisi.” Ellen tidak melapor karena akan berimbas ke keluarga besar Adly juga.
“Aku hanya bisa meminta maaf. Aku tahu perbuatanku salah.” Arman merasa berdosa. Ia bersalah kepada Adly. Ia bersalah kepada Ellen. Terutama kepada darah dagingnya.
“Apa perbuatanmu bisa dimaafkan hanya dengan meminta maaf?” Sarkas Ellen.
Arman terdiam. Ia tak bisa membantah. Saat itu ia hanya dikuasai hawa nafsu. Perbuatan yang ia sesali atau mungkin tidak karena ia juga menaruh hati terhadap Ellen. Ia juga jatuh cinta dengan Ellen. Mungkin melebihi Adly mencintai Ellen.
Tetapi Arman hanya memendamnya dalam hati. Ia tak pernah mengutarakan isi hatinya karena ia tahu Ellen milik kakaknya.
Arman mengambil tisu dan membersihkan makanan yang jatuh ke lantai.
Mama bilang aku harus bisa memahami Ellen. Mama bilang Ellen itu wanita baik. Jadi, masih ada harapan buatku untuk mendapatkan hati Ellen.
Tetapi ma, saat ini saja ia sudah menolakku. Hatinya sudah tertutup untukku.
Arman keluar dari kamar. Ellen dengan cepat memakan makanan yang berada di atas nakas. Ia sudah kelaparan. Sebagai bumil nafsu makannya mulai naik.
__ADS_1
Saat Arman hendak masuk ke dalam kamar, ia sengaja tidak masuk ke dalam kamar. Ia melihat Ellen yang sedang memakan dengan lahap apa yang tadi ia tolak dengan kasar.
Arman hanya tersenyum melihat Ellen. Ellen menyadari dan menoleh. Arman buru-buru pergi agar tidak terlihat oleh Ellen. Ia tak ingin merusak nafsu makan Ellen. Ellen harus makan untuk bayi mereka juga. Ia tak mau bayi mereka kekurangan gizi.
Setelah agak lama, Arman masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya. Setelahnya Ellen juga membersihkan dirinya mengganti pakaiannya. Ia menatap lingerie seksi yang ia beli untuk malam pertamanya dengan Adly. Ia mengambilnya dan menyimpannya.
Ini sudah tidak berguna lagi karena pria brengs** itu.
Ellen menuju ke kamar lain. Ia tak mau tidur satu kamar apalagi berada dalam satu ruangan dengan Arman.
Ellen berdoa. Tetapi pikirannya melantur ke mana-mana. Ia mengucapkan doa yang sudah lama tidak ia ucapkan.
“Dan ampunilah kesalahan kami seperti kami juga mengampuni yang bersalah kepada kami.”
Ellen terdiam.
Aku harus mengampuni Arman?
__ADS_1