Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
D5 Bubur Hangat


__ADS_3

Ellen terus membaca dan membaca.


Di halaman berikutnya.


Ellen memakan makanan buatanku. Itu pertanda baik. 


Nama apa yang bagus untuk bayi kami, ya? Ellen ngefans sama Kai dari EXO. Setiap hari aku mendengar suara nyanyian Kai dari kamar Ellen.


Baiklah jika seperti itu. Kalau laki-laki aku akan menamainya Kai. Kalau perempuan aku akan menamainya Kairina. Bisa aku panggil Kai juga atau Rin atau Rina.


Ellen menutup diary itu. Dia hanya tersenyum. Ia memang pernah membicarakan nama-nama anak-anaknya dengan Adly tetapi Adly tidak pernah setuju dengan nama Kai. Kata Adly ia tidak terlalu suka dengan nama Kai. Ia merasa tersaingi dengan Kai.


Ellen berjalan dan menyadari ada yang menetes dari kakinya. Darah merah segar mengalir. Ini?


Ellen pingsan.


...***...


Sementara itu di gedung perusahaan Adinata, tempat Arman bekerja. Ia mempunyai firasat untuk segera pulang. Betul. Ellen sudah tergeletak di lantai.


"Ellen ... Ellen ..." Dengan cepat Arman menggendong Ellen dan membawanya ke rumah sakit.  Ia terlihat sangat khawatir.


Dokter segera memberikan pertolongan. Arman merasa lega saat dokter berkata jika Ellen sudah melewati masa krisisnya. Ellen sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap biasa.

__ADS_1


Arman duduk di sebelah Ellen yang sedang terbaring dengan infus di lengannya. Seorang dokter yang juga merupakan teman dari Arman berbicara dengan Arman. 


“Jika kau disuruh memilih antara Ellen dan bayi kalian. Siapa yang akan kalian pilih?” tanya dokter itu.


Arman menjawab dengan cepat. “Ellen.”


“Kamu benar-benar menyayangi Ellen, ya?”


“Aku mencintainya. Sangat mencintainya.”


Ellen sebenarnya sudah sadar. Tetapi ia hanya menutup mata dan malas membukanya. Ia mendengarkan percakapan Arman dan temannya itu. 


Telepon masuk di ponsel teman Arman. Ia mengangkatnya.


“Ada emergency. Aku harus pergi. Bye ...” Dokter itu bergegas keluar. 


Arman menyentuh pelan perut rata Ellen. Ia mengira Ellen belum sadar. Ellen juga tidak bisa menepisnya karena ia masih berpura-pura tidur.


“Kai ... Bantu Papa dapetin hati mama. Papa sangat mencintai mama. Kai juga mau Papa sama mama sama-sama, kan?”


Ellen merasa pergerakan di perutnya. Entah karena Kai bergerak tapi itu tidak mungkin karena Kai masih mini atau karena lapar. 


Ellen membuka matanya. Arman merasa bersyukur. “Syukurlah kamu sudah sadar.” Arman mulai menitikkan air matanya. Ia sudah takut jika kehilangan bayi mereka terutama Ellen. 

__ADS_1


Dokter datang. Ia memberitahu jika Ellen harus bed rest hingga persalinan tiba.


Arman menemani Ellen di rumah sakit. Ia bekerja dari rumah sakit. Sesekali mengikuti meeting di kantor via zoom.


Siska datang menjenguk. Seperti biasa ia membawa bubur hangat untuk mantu dan anakknya itu. Ia tidak masuk ke dalam kamar.


Alan berkata, “ Mama kenapa nggak masuk?”


Mata Siska berkaca-kaca. “Papa dengar itu.” Alan mendengar suara tawa Ellen. 


“Ini pertanda baik, Pa.” 


Alan mengangguk tanda setuju. “Kita biarkan mereka untuk sementara waktu.”


Arman keluar dari kamar untuk menuju ke kantin. Ia mengira Siska sibuk dan tidak membawa makanan. Ia terkejut melihat kedua orang tuanya sudah berada di depan kamar. 


“Mama bawa makanan untuk kalian. Bubur Ayam Kampung.”


Arman membantu membawakan rantang berisi makanan. 


Ellen menyambut baik kedua mertuanya itu. “Terima kasih, Ma. Terima kasih. Pa.”


“Sama-sama.”

__ADS_1


__ADS_2