
Julia sedang berjalan santai di sekitar rumahnya untuk mencari udara segar. Ia baru saja selesai berbelanja di mini market terdekat.
Entah dari mana tiba-tiba ada pengendara motor menabrak dirinya. Julia pingsan dan berlumuran darah. Masyarakat sekitar langsung melihat keadaan Julia dan menelpon ambulan.
Ambulan datang dan membawa Julia ke rumah sakit.
Julia tersadar. Ia membuka matanya.
Terdengar suara gadis kecil berbicara, “Papa ... Papa ... mama sudah bangun.” Gadis kecil itu membangunkan ayahnya yang sedang tertidur. Sang ayah langsung bangun dan melihat istrinya. Ia segera memberitahu suster jika istrinya telah sadar.
Dokter datang untuk mengecek kondisi istrinya. “Kondisi Nyonya Irene akan kami pantau terus untuk saat ini. Kami permisi dulu.”
Dokter dan suster pergi meninggalkan kamar.
“Mama ...” Gadis kecil itu melihat mamanya lagi.
“Irene ...”
Julia bingung. Kenapa ia dipanggil Irene. Ia bukan Irene. Ia Julia. Apa aku hilang ingatan? Apa yang terjadi? Kenapa aku sudah punya suami dan anak?
“Jangan berpikir keras. Istirahatlah.”
Betul. Aku harus beristirahat.
“Mama ... Mama mau minum? Atau Mama mau makan?” tanya Alice yang tingginya sedikit lebih tinggi ranjang rumah sakit.
__ADS_1
“Alice jangan ganggu Mama. Mama baru saja sadar. Tubuh Mama belum bisa banyak makan.” Bagas memberitahu.
Julia menutup matanya. Jika ini mimpi, ketika aku membuka mata aku akan kembali jadi Julia bukan Irene. Julia tertidur.
Keesokkan harinya.
Julia bangun. Alice langsung mendekatinya. “Selamat pagi, Mama.” Alice mengecup Julia. Julia melihat sekelilingnya. Ia masih berada di kamar rumah sakit.
Aku ternyata masih punya anak. Bagaimana ini bisa terjadi. Kenapa aku bisa menjadi Irene.
Saat Julia duduk dan mengambil cermin, ia melihat wajah orang lain di cermin.
Bagaimana aku bisa secantik ini? Julia terkejut melihat wajahnya sendiri. Di cermin itu nampak bulu mata yang lentik ditambah mata yang belo. Belum lagi hidung yang mancung dan bibir yang penuh.
Bagas masuk ke dalam kamar. Ia membawa makanan untuk dirinya dan Alice.
“Mama mau makan?” Alice membawa piringnya ke dekat Julia. Julia membuka mulutnya. Alice menyuapi Julia.
“Enak, kan Ma. Ini buatan bibi Siti di rumah.”
Julia mengangguk. Sudah lama ia rasanya ia tidak menyantap makanan rumahan seperti ini.
“Mama, akh ...” Alice ingin menyuapi Julia lagi.
Siapa nama anak ini, ya? Oh, iya Alice.
__ADS_1
“Alice juga harus makan,” ucap Julia.
“Alice sudah kenyang. Alice takut jadi gemuk kalau makan banyak.”
“Alice masih kecil. Harus banyak makan supaya bisa tinggi,” kata Julia.
“Alice banyak minum susu.” Alice meletakkan piringnya dan mengambil tas mungilnya yang berisi banyak susu kotak. Ada beragam merk susu kotak di sana. Ada merk D, merk M, merk B dan beberapa merk lagi. “Mama mau yang mana?”
Julia memilih merk D yang mempunyai rasa strawberry. Alice membantu Julia menusukkan sedotan. Lalu memberikannya ke Julia.
“Enak ya Ma.” Alice juga meminum satu kotak susu.
Julia yang masih tidak percaya jika ia adalah Irene bertanya ke Bagas. “Apa yang terjadi denganku?”
“Kamu mengalami kecelakaan dan koma. Tapi aku bersyukur kamu selamat.”
Aku juga bersyukur aku selamat tapi aku bukan Irene. Di mana Irene dan di mana tubuhku? Apa selamanya aku akan terjebak di tubuh ini? Tapi bukannya ini hal baik. Aku tidak perlu operasi plastik untuk memperbaiki wajahku.
Untuk sementara Julia akan hidup menjadi Irene.
Julia diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Bagas menggendong Julia yang masih lemah. Julia masih menggunakan kursi roda untuk mobilitasnya.
Julia memandang dengan takjub rumah mewah milik Bagas. Ia tak bisa berkata-kata lagi. Ukurannya ini berapa kali rumahku?
Saat masuk ke dalam rumah, Julia terkejut lagi. Interior rumah itu didominasi warna gold. Belum lagi pernak-pernik mewah. Rumah yang benar-benar rumah orang kaya.
__ADS_1