
Selesai pertunjukan, seluruh penonton berdiri bertepuk tangan untuk menghargai Vincent, tidak sia-sia membeli tiket dengan harga mahal. Harga tiket setara dengan pertunjukkan Vincent.
Ariel mengagumi Vincent. “Tuan hebat sekali. Pemainan piano Tuan sangat bagus. Saya sampai meneteskan air mata.”
Vincent merasa senang mendengar pujian Ariel. Abu bisa melihat senyuman kecil Vincent. Sepertinya berita hoax yang aku sebar akan menjadi kenyataan dan aku tidak akan dituduh pembohong.
Keesokkan harinya mereka terbang ke kota W untuk mempersiapkan pertunjukkan. Kali ini bukan pertunjukan piano tunggal. Tetapi Vincent akan bermain bersama okestra. Ada dirigen yang akan mengarahkan para pemain musik.
Ariel melihat ada beberapa pemain biola, cello, flute dan pemain musik lainnya. Panggung yang digunakan juga cukup besar karena pemain musiknya yang banyak.
Vincent mulai berlatih bersama. Konduktor memberi arahan dan masukan kepada pemain musik padahal menurut Ariel permainan mereka itu cukup bagus.
Selesai berlatih Vincent menuju ke suatu tempat. Ariel bisa mencium bau makanan di dalam mobil. Ini bau ayam goreng, kan ya. Perutku jadi lapar.
Mereka tiba di sebuah panti asuhan. Anak-anak panti menyerbu Vincent. “Om Vincent.” Mereka mengerubungi Vincent. Lalu perhatian mereka teralih ke perut Ariel. “Di sini ada adik bayi?”
“Bukan. Ini lemak perut.”
“Kalian mau lihat adik bayi?” tanya Vincent.
__ADS_1
“IYA ...” Semua anak panti menjawab serempak.
“Tahun depan Om bawa Mozart ke sini.”
“YEAY ...”
Abu dan supir membawakan kantong plastik besar berisi nasi kotak yang berisi ayam goreng untuk anak panti dan pengurus panti. “Jangan berebut. Masih ada banyak di mobil.”
Mereka makan bersama. Ariel memberitahu Vincent di mana letak nasi dan lauk. Ia menyentuh tangan Vincent dan menunjukkannya. “Ini nasi. Di sebelah kanannya ada ayam goreng. Di sebelah kiri ada sup.” Vincent mulai makan.
Ariel melihat bulir nasi di pipi Vincent. Ia mengambilnya dan hendak membuangnya. Tetapi Vincent dengan sigap menyentuh tangan Ariel dan menyantapnya.
“Tidak ada apa-apa, Om Abu.” Abu merasa malu. Ia salah sangka. Ia pikir Vincent mau mencium Ariel.
Ariel jadi salah tingkah. Ia buru-buru memakan makanannya dan tersedak. “Hukh ... Hukh ...”
Vincent mengambilkan air minum untuk Ariel. Ariel meminumnya. Setelah merasa lebih baik, Ariel baru sadar. Reflek Vincent begitu bagus. Tidak seperti orang buta yang meraba-raba terlebih dahulu. Ariel menjadi curiga lagi.
Saat ini Vincent sedang bermain bersama anak-anak di depan piano.
__ADS_1
“Om, ini do ye mi ya?” Salah satu anak memencet tuts piano.
“Betul.”
“Yeay.” Anak itu merasa senang.
Anak yang lain bernyanyi dengan fals, “Do Re Mi Fa Sol La Si Do.”
Anak lainnya menutup telinganya. “Kakak jangan nyanyi lagi. Suaya Kakak jeyek.”
Anak itu malah semakin mengeraskan suara falsnya. “Do Re Mi Fa Sol La Si Do.”
Ariel tersenyum kecil.
Karena penasaran, Ariel bertanya ke Abu. “Kak Abu, entah mengapa. Ini cuma perasaanku aja. Aku merasa Tuan Vincent itu tidak buta. Aku merasa Tuan Vincent itu terkadang bisa melihat.”
“Tuan Vincent terkadang bisa melihat. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ia menjadi buta setelahnya. Jadi, ia butuh bantuan kita."
APA!? Apa malam itu Tuan Vincent melihat tubuh polosku?
__ADS_1