Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
C7 Aku Masih Lapar


__ADS_3

Malam itu mereka belum melakukannya. Tetapi perlahan hati Emi mulai terbuka untuk Steven. Begitu juga Steven. Mereka bercerita banyak hal tentang diri masing-masing.


Saat senggang Steven mengajak Emi jalan berdua. Terkadang ada fans yang meinta foto bersama, Steven dengan ramah melayani permintaan penggemarnya. Tetapi ketika kerumunan mulai nampak, Steven akan mengajak Emi pergi. Ia tahu Emi tidak menyukai sorotan.


“Maaf. Kencan kita jadi gagal.”


“Tidak apa-apa, Kak. Sudah resiko pekerjaan.” Mau tidak mau. Suka tidak suka Emi harus bisa menerima perhatian publik yang berlebih atas Steven.


Mobil Steven mogok di tengah jalan dan berhenti tepat di depan hotel. Hujan deras tiba-tiba datang. Steven ragu mengajak Emi masuk ke dalam hotel tapi ia memberanikan dirinya. Steven menyewa sebuah kamar.


Saat masuk ke dalam kamar hotel, Steven baru sadar jika hotel yang ia masuki bukan hotel biasa. Ada pernak-pernik yang membedakannya dari hotel pada umumnya. Cahaya lampunya juga berbeda, spreinya juga berbeda belum lagi hiasan dan alat kontrasepsi terpampang nyata.


Emi akhirnya menyadari jika hotel tempat mereka berada ini merupakan tempat pasangan untuk bercinta.


“Aku baru tahu sekarang ini hotel cinta.” Steven tidak mau Emi salah paham. Ia tak ada maksud untuk melakukannya. Ia hanya ingin berteduh dan beristirahat saja.


“Tidak apa-apa, Kak. Sudah waktunya untuk kita memberikan cucu ke ayah.” Emi perlahan mendekati Steven. Ia memberanikan diri mencium Steven terlebih dahulu.

__ADS_1


Perlahan Steven membuka pakaiannya dan pakaian Emi. Steven langsung menyerbu Emi. Ia sudah menantikan hal ini setiap malam. Dan sekarang saatnya pertempuran di ranjang tiba.


Terima kasih mobil yang mogok. Terima kasih hujan yang turun dengan deras.


Entah berapa kali mereka melakukannya sampai akhirnya pihak hotel menelpon kamar mereka apakah mereka mau memperpanjang sewa kamar.


Steven mengajak Emi pulang saat sewa kamar habis. Ia menelpon bengkel untuk mengangkut mobilnya yang rusak. Mereka naik mobil online.


Di kamar apartemen mereka melanjutkan apa yang terjadi sebelumnya. Panggilan telepon dari Violet yang mengajak mereka berdua untuk makan malam bersama tidak dihiraukan.


“Teleponnya nggak diangkat Stev, Mas.” Violet memberitahu Agus. “Aku telepon Emi.”


Violet dan Agus melanjutkan makan mereka.


Keesokkan paginya.


Karena kuatir Violet mengunjungi apartemen Steven. Akhirnya Violet tahu apa yang terjadi semalam. Ia tak perlu kuatir lagi. Hubungan Steven dan Emi sepertinya sudah tak membutuhkan bantuannya lagi.

__ADS_1


Violet bisa melihat tanda-tanda di leher Emi dan Steven. "Kakak bawa sarapan buat kalian. Dimakan sekarang mumpung masih hangat " Violet menaruh piring berisi makanan ke atas meja makan.


"Terima kasih, Kak."


Setelah Violet pergi. Mereka mulai makan.


"Kak Violet itu baik, ya. Dulu Kak Agus ketemu kak Violet di mana?" Emi bertanya.


Steven mengunyah lalu menelan makanan di mulutnya. "Kisah mereka mirip kisah kita. Kak Violet ditinggal calon suaminya waktu hari H. Kak Agus kebetulan waktu itu mau numpang makan dan menyalonkan dirinya untuk menjadi pengantin pria."


"Benarkah?" Emi terkejut. Ia mengira jika Violet dan Agus bertemu secara biasa. Menjadi dekat, berpacaran lalu menikah.


"Jangan-jangan Kakak boongin aku?" Emi tidak percaya.


"Bisa ditanyakan kebenarannya ke Kak Agus dan ke Kak Violet. Jawaban mereka pasti sama."


Mereka menghabiskan makanan yang dibawa oleh Violet.

__ADS_1


"Aku masih lapar." Steven menatap Emi. Ia menggendong Emi dan membaringkannya di ranjang.


End.


__ADS_2