Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
A30 Banyak Anak, Banyak Cucu


__ADS_3

Selesai syuting di luar kota, Joshua pulang ke rumah. Ia membaca skenario yang ditujukan kepada dirinya. Ada dua skenario yang menarik perhatiannya. Ia bingung. Ia lalu mendekati Audrey.


“Audrey, papa harus pilih yang mana?” Ada dua skenario yang ia perlihatkan ke Audrey. Satu di tangan kanannya, satu lagi di tangan kirinya.


Audrey menunjuk skenario yang berada di tangan kanan Joshua. “Okay. Papa pilih yang ini.”


“Kakak dapat peran apa?”


“Aku dapat peran antagonis. Aku jadi ketua mafia.”


“Apa Kakak akan ditato?”


“Sepertinya iya. Tapi mungkin cuma tato sementara. Aku juga harus menumbuhkan kumis.”


Joshua menerima peran sebagai ketua mafia. Ia mulai berlatih cara menggunakan pistol, pisau dan senjata tajam lainnya. Ia juga menumbuhkan kumis.


Syuting dimulai.


Joshua dirias sedemikian rupa agar perannya sebagai ketua mafia benar-benar nyata dalam dirinya.


Hana mengajak Audrey melihat lokasi syuting.


“Audrey anak papa.” Joshua senang melihat Audrey. Tetapi Audrey malah menangis. Ia tidak mengenali pria di depannya yang sudah didandani sedemikian rupa sehingga terlihat bengis.


“Sepertinya Audrey takut lihat Kakak. Bukan cuma Audrey. Aku juga takut.” Perubahan Joshua terlalu ekstrem.


“Audrey. Ini papa. Nggak usah takut.” Joshua menyanyikan lagu pengantar tidur yang biasa ia nyanyikan untuk Audrey saat malam hari.


Audrey mengenali suara ayahnya. Tetapi ia bingung kenapa suara itu berasal dari pria yang berkumis dan berdandan ala preman itu.


Joshua mendekati audrey lagi. Audrey seketika langsung menjerit.


“Cup ... Cup ... Cup ...” Hana mengajak Audrey pergi menjauhi Joshua. Ia berusaha menenangkan Joshua. Joshua tidak mungkin melepas riasannya karena sebentar lagi ia akan syuting.


Tangis Audrey perlahan reda.


Selesai syuting, Joshua melepas semua atribut riasannya. Ia mendekati Audrey lagi. Audrey kali ini mengenali ayahnya. Audrey malah menaikkan kedua tangannya hendak memeluk ayahnya.


“Pa ...” Audrey mengucap satu suku kata.

__ADS_1


“Pa?” Joshua terkejut. Ia tidak menduganya.


“Papa.” Joshua ingin mendengar dua suku kata tapi Audrey hanya diam.


Joshua lalu mengajak Hana dan Audrey pulang.


Dalam perjalanan pulang.


“Kak, aku punya berita bagus.” Hana hendak mengatakan kabar baik ke Joshua.


“Kamu dapat lotre?”


“Tidak. Kak, sepertinya aku hamil Daniel.”


Joshua tiba-tiba mengerem mendadak.


“Kak. Jangan ngerem mendadak.” Hana memarahi Joshua.


“Benarkah?”


“Mungkin. Aku belum cek.” Hana terlalu dini mengatakan berita itu.


“Sepertinya nyonya Hana belum mengandung.”


Joshua terlihat kecewa.


“Tapi Anda masih bisa berusaha lagi.”


Joshua mengajak Hana dan Audrey pulang ke rumah.


...***...


Joshua hendak menjadi sutradara seperti ayah Hana. Ia sudah berakting di bawah arahan banyak sutradara. Ia banyak belajar dari setiap peran yang ia mainkan. Dan sekarang adalah debut Joshua menjadi sutradara.


Joshua duduk di kursi sutradara. Ia mulai mengarahkan para aktor. Joshua sering membantu para aktor yang kesulitan dalam perannya.


“Baiknya seperti ini.” Joshua memperagakan akting seperti apa yang ia mau. Ia sudah sering berperan di film maupun drama jadi ia sedikit banyak tahu tentang akting. Para aktor mengikutinya.


Suasana syuting berjalan lancar. Ada sedikit masalah di sana sini tetapi masih bisa ia atasi. Setelah proses syuting dilanjutkan lagi dengan proses editing, mixing suara. Sampai akhirnya film perdana Joshua jadi.

__ADS_1


Hana tak sabar melihatnya. Ia ikut menemani Joshua saat premiere film.


“Kak, filmnya bagus.” Hana memuji Joshua.


“Terima kasih.” Ia senang mendapat pujian. Ia sudah banyak bekerja keras untuk hari ini.


Selesai penayangan film, para penonton bertepuk tangan. Joshua bangkit berdiri dari kursinya. Ia melihat ke arah penonton dan membungkukan punggungnya sebagai ucapan terima kasih.


Acara dilanjutkan dengan acara makan bersama.


Selesai acara, Joshua dan Hana pulang ke rumah.


Di rumah.


“Terima kasih sudah menemani diriku selama ini.”


“Aku akan terus menemani Kakak sampai Kakak mati.”


“Setelah aku mati?"


“Aku akan menikah lagi.”


“Apa?” Joshua merasa gemas mendengar ucapan Hana.


“Makanya Kakak harus hidup lebih lama dari aku. Kakak nggak mau aku nikah lagi, kan? Kakak harus menjaga kesehatan Kakak. Aku juga akan menjaga kesehatanku supaya kita panjang umur dan bisa melihat cucu-cucu kita.”


“Kira-kira berapa banyak cucu kita nantinya?”


“Sepertinya akan banyak sekali. Rumah kita akan penuh dengan kehadiran mereka.” Hana membayangkan tahun-tahun jika dirinya sudah menjadi nenek-nenek.


Malam semakin larut seiring pembicaraan mereka berdua.


“Jika kamu ingin punya banyak cucu, maka kita juga harus punya banyak anak.” Joshua membaringkan Hana di ranjang.


“I love you, Kak.”


“I love you too.”


End.

__ADS_1


__ADS_2