Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
I2 Sekamar Dengan Calon Suami


__ADS_3

Kiran duduk di bangku kecil yang sudah terpasang di kakinya. Ia mulai memetik stroberi seperti suruhan Dafa. 


Kira-kira tiga jam mereka melakukannya lalu pulang ke rumah.


Di rumah.


Mama Dafa memarahi Dafa yang meinta Kiran untuk bekerja. “Dafa, kenapa kamu suruh Kiran bekerja? Kiran itu baru saja datang. Ia harus istirahat dulu.”


Ia lalu melihat Kiran. “Kiran, ayo kita makan. Mama sudah masak banyak buat kamu.”


Kiran yang lapar memakan masakan Mama Dafa. “Enak, Tante.”


“Jangan panggil Tante. Panggil Mama. Kalian, kan akan menikah tahun depan. Sebenarnya Mama ingin kalian menikah secepatnya. Tapi Dafa maunya tahun depan setelah kalian lulus SMA.”


“Hukh ... Hukh ...” Kiran tersedak. Ia tahu ia dijodohkan. Ia juga tahu jika ia pindah ke desa supaya dekat dengan calon suaminya. Tetapi tahun depan ia baru lulus SMA.


Dafa mengambilkan air putih untuk Kiran.


“Terima kasih.” Kiran meminum air.

__ADS_1


Apa maksudnya ini? Aku akan jadi mama muda? Masih banyak yang ingin aku lakukan setelah lulus SMA. Aku ingin kuliah. Aku ingin bekerja.


Kiran tidak hanya dikejutkan dengan rencana pernikahannya. Tetapi juga kamar tidurnya. Ia tidak tidur sendirian. Ia tidur sekamar dengan Dafa. Apa-apaan ini?


“Ayah, apa maksudnya ini?” Kiran protes saat sang Ayah menelpon. “Kenapa Kiran baru tahu kalau Kiran harus menikah tahun depan? Kenapa juga Kiran harus sekamar dengan Dafa?”


“Ayah lupa beritahu kamu.”


“Ayah sengaja, ya mau hancurin masa depan Kiran. Kiran itu anak Ayah.” Kiran protes-seprotesnya. “Kiran mau balik lagi ke kota.” 


Saat malam tiba. Kiran melihat Dafa yang sudah tertidur di sampingnya. Bagaimana ia bisa tidur jika ia merasa dimangsa seperti ini. Kiran diam-diam mengambil kopernya dan minggat dari rumah Dafa tetapi saat ia berada di luar ia mulai ketakutan. Jalanan desa terlalu gelap. Ia takut.


Dafa yang tertidur tiba-tiba terbangun. Ia melihat Kiran dan kopernya tidak ada di kamar. Ia buru-buru keluar rumah dan mencari Kiran. Ia menemukan Kiran yang sedang menangis. 


Di kamar.


“Apa kamu menyetujui perjodohan ini? Apa kamu tidak mempunyai orang yang kamu cintai?” Kalau Dafa juga tidak setuju mungkin Kiran bisa membatalkan perjodohan mereka.


“Sejak kecil papa selalu bilang jika aku akan menikah dengan anak dari temannya.”

__ADS_1


“Tapi aku baru tahu sekarang,” ujar Kiran. Ia belum siap.


“Aku tahu kamu masih bingung dengan semuanya. Tapi tinggal di sini itu menyenangkan. Orang-orangnya baik dan ramah. Kamu pasti betah.” Dafa menguap. “Aku mengantuk. Kamu juga harus tidur. Besok kita harus sekolah.”


Kiran yang kelelahan tertidur.


Keesokkan harinya.


Dafa memakai sepeda dan membonceng Kiran untuk pergi ke sekolah. “Cie ... cie ... Suami dan istri pergi sekolah bareng,” ledek teman-teman Dafa. 


Sebagai murid baru, Kiran memperkenalkan dirinya di hadapan murid yang lain. “Nama saya Kiran.”


“Kiran, kamu bisa duduk di bangku yang kosong sebelah Dafa. Dafa, bantu calon istrimu.” Ibu guru juga ikut menyematkan label calon istri ke Dafa.


“Apa semua orang di sini tahu kita akan menikah?” Kiran merasa canggung. Ia ingin merahasiakannya.


“Semuanya tahu.”


Percuma menutup-nutupi perjodohan ini.

__ADS_1


Begitulah hari-hari Kiran. Pagi pergi ke sekolah, pulang dari sekolah membantu di kebun. Sore hari beristirahat.  


Tapi hari ini hari istimewa, mereka akan mengantar hasil kebun ke supermarket. Kiran ikut karena iming-iming es krim. Sudah lama ia tidak mencicipi es krim sundae strawberry kesukaannya itu.


__ADS_2