
Violet menunggu dan menunggu untuk hasil audisinya. Ia berharap bisa ikut berperan dalam film. “Sepertinya aku tidak berbakat.”
“Kakak ipar jangan patah semangat. Orang yang patah semangat tidak akan bisa mencapai tujuannya. Kakak ipar sudah ikut audisi saja itu sudah merupakan langkah pertama.”
“Langkah kedua?”
“Kakak ipar harus ikut audisi lagi. Jangan menyerah. Wajah Kakak itu sudah bisa jadi modal di dunia perfilman. Kakak ipar juga harus berlatih akting setiap hari. Kakak ipar harus menonton banyak film.”
Steven lalu berteriak, “Kak Agus harus bawa Kakak ipar nonton bioskop. Kalau Kakak nggak mau ajak Kakak ipar, biar aku aja yang bawa Kakak ipar ke bioskop.”
“Di sini juga bisa menonton banyak film.” Violet mengganti channel TV ke channel N.
“Kakak ipar nggak boleh di rumah terus. Kakak ipar juga harus memperhatikan bagaimana orang-orang di luar. Tapi jangan terus-terusan pandangin orang nanti mereka takut.”
“Steven, terima kasih.” Violet merasa terbantu.
Steven lalu bergerak menuju ruang makan. “Chef Agus hari ini masak apa?”
“Spageti carbonara.” Agus meletakkan spageti ke piring saji. Seperti biasa Steven menyantapnya dengan lahap.
__ADS_1
Selesai makan Steven mengambil sebuah botol wiski. Ia membuka tutup botol dan aroma harum dan manis wiski menyeruak ke seluruh ruangan. Ia lalu menaruhnya di tiga sloki.
Violet yang penasaran langsung meminumnya habis. “Aku mau lagi.”
“Kakak ipar, wiski ini harus diminum pelan-pelan. Satu sloki harganya 30.000 dollar.”
“30.000 dolar?” Violet mengkalkulasi nilainya.
“APA!? Satu gelas kecil ini harganya setara rumah?” Violet terkejut. Ia menyangka itu hanya minuman biasa yang harganya terjangkau.
“Ini wiski yang berusia 50 tahun. Jadi harganya sangat mahal. Ini aja aku curi dari rumah ayah. Aku belum sanggup beli wiski semahal ini.”
Steven berbisik, “Kak, ini kesempatan. Pergunakan dengan baik.”
Agus mengetuk kepala adiknya dengan keras.
Steven mengusap-usap kepalanya. “Aku tak akan mengganggu Kakak dan Kakak ipar. Aku pulang sekarang.” Steven kembali ke apartemennya sendiri.
Sedangkan Agus menuntun Violet masuk ke dalam kamar. Seperti yang Steven bilang ini adalah kesempatan Agus. Tetapi Agus ingin menunggu waktu sampai mereka berdua memang benar-benar menginginkannya dan tidak hanya satu pihak saja.
__ADS_1
Agus menutupi tubuh Violet dengan selimut. Ia lalu berbaring di samping Violet sambil memandangi Violet.
Pagi hari tiba.
Violet yang tersadar langsung melihat tubuhnya. Ia merasa lega karena masih berpakaian lengkap. Ia juga melihat jika Agus juga berpakaian lengkap.
Untunglah tidak terjadi apa-apa semalam.
Violet menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ia berencana membuat sandwich dan teh hangat untuk dirinya dan kopi hangat untuk Agus.
Sambil sarapan ia melihat ponselnya dan mengetik #casting. Ia menemukan pemberitahuan open casting. Violet membaca syarat-syarat audisi. Wanita dan pria usia 15-50 tahun. Mengirimkan foto close up dan full body juga video perkenalan.
Agus terbangun.
“Mas, aku tadi ada bikin sandwich sama kopi buat mas.” Violet tadi sengaja meletakkan gelas kopi di penghangat gelas agar kopi tetap hangat.
“Terima kasih.”
“Mas, nanti bantu aku foto lagi. Aku mau kirim lamaran audisi. Tapi sekarang aku mau mandi dulu.” Violet masuk ke dalam kamar mandi. Setelahnya ia memulaskan make-up natural ke wajahnya lalu meminta bantuan Agus.
__ADS_1