
Selesai pertunjukkan mereka kembali ke kamar hotel.
Ariel melepas cincin dari Vincent dan meletakkannya ke tangan Vincent. Ia merasa lamaran Vincent itu hanya sandiwara untuk menaikkan pamor pertunjukkan dan Vincent.
Vincent meraba dan ia menyadari itu adalah cincin yang baru ia pasangkan ke jari Ariel.
“Kalau kamu nggak suka cincinnya bisa aku ganti yang baru.”
“Tuan tidak perlu membeli cincin yang baru. Bukankah tadi itu hanya pertunjukkan belaka?”
“Maksudnya?” Vincent gagal paham.
“Bukannya tadi itu lamaran palsu?”
“Tadi itu bukan lamaran palsu. Tadi itu lamaran sungguhan! Aku melamarmu untuk menjadi istriku.”
“Eh?” Ariel terkejut. “Apa Tuan mencintaiku? Apa Tuan bersungguh-sungguh untuk menikahiku?” Ariel tahu Vincent itu baik tapi ia tak merasakan cinta Vincent.
“Aku bukan hanya mencintaimu. Tapi sangat mencintaimu. Apa melamarmu di depan orang banyak tidak bisa menjadi bukti?”
Bagaimana ini? Aku pikir tadi itu cuma sandiwara.
“Kau tidak menyukaiku?” Vincent takut ditolak dan Ariel pergi menjauh.
“Saya menyukai Tuan.” Ariel menjawab secepat kilat. “Tolong pasang cincinnya lagi.” Ariel menjulurkan tangan kirinya. Vincent hanya diam.
Ariel menyentuh tangan Vincent. Vincent memasang lagi cincin pertunangannya. “Jangan dicopot lagi. Tadi jantungku rasanya mau lepas. Aku kira aku ditolak.” Vincent menyentuh jantungnya.
“Tuan ... Ada sesuatu yang mau saya tanyakan.”
__ADS_1
“Bertanyalah ...”
“Kapan Tuan mulai mencintai saya?”
“Sejak pertama kali aku mendengar suaramu.”
“Eh?”
“Saat kamu memperkenalkan dirimu waktu wawancara kerja. Kalau kamu kapan?”
“Entahlah. Saya tidak mengingatnya. Satu hal lagi ... Apa Anda sesekali bisa melihat?”
“Bisa. Sesekali aku bisa melihat.”
“Apa malam saat kita tak sengaja berciuman itu, Anda bisa melihat?”
“Bisa.”
“Aku melihatnya. Maafkan aku. Aku salah. Aku harusnya memberitahumu fakta itu.”
“Tidak apa-apa. Tuan akan menjadi suami saya. Tuan juga akan melihat tubuh saya. Saya memaafkan Tuan karena Tuan sudah bertanggung jawab dengan menikahi saya.”
“Jangan panggil aku dengan sebutan Tuan lagi. Panggil aku Kakak.”
“Satu hal lagi. Apa Tu ... Kakak akan menamakan anak kita Mozarella?”
“Mozart. Bukan keju mozzarella.”
“Mozart?”
__ADS_1
“Nama panjangnya Wolfgang Amadeus Mozart. Dia itu pemusik jenius. Aku mengagumi karyanya.” Vincent meraba untuk mengambil ponselnya. Ia mengucapkan kata Mozart. Ia lalu menujukkannya ke Ariel.
“Tanggal lahirnya 27 Januari. Kalau kita bikin sekarang mungkin tanggal lahirnya bisa sama," ucap Vincent.
Pipi Ariel memerah.
“Aku janji tidak akan menyentuhmu sampai kita menikah.”
“Tapi jika Kakak ingin Mozart lahir di 27 Januari. Kita harus secepatnya menikah.”
“Kita akan menikah besok.” Vincent menghubungi Abu. “Abu, cari penghulu sekarang. Besok aku dan Ariel mau menikah.”
“Baik Tuan.” Abu langsung mencari penghulu di kota W.
Keesokkan harinya datang penghulu yang bernama Prince.
*Prince adalah salah satu karekter yang muncul di cerita Gadis Sepuluh Milyar (bagian E). Ia juga menikahkan dua tokoh utama di sana. Silahkan dibaca.
Prince menikahkan Ariel dan Vincent. “Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri. Silahkan meniduri ... mencium istri Anda.”
Vincent mencium Ariel.
Ariel menuntun Vincent menuju ke kamar hotel. Mereka menghabiskan malam panas mereka di sana.
Vincent meraba perut Ariel. “Apa di sini sudah ada Mozart?”
“Belum Papa. Benih Papa masih berusaha menembus sel telur Mama.” Vincent menjawab pertanyaannya sendiri.
“Sel telur, jangan jual mahal. Ingat! Mozart harus lahir tanggal 27 Januari.”
__ADS_1
“Baik Papa.”
Ariel hanya tertawa kecil mendengar drama dari Vincent.