Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
H2 Merasa Ditipu


__ADS_3

Seorang pelayan datang untuk memberitahukan Ariel apa saja yang harus ia kerjakan. “Semua barang harus diletakkan pada tempatnya. Tidak boleh dirubah. Persiapkan juga pakaian untuk Tuan. Mulai dari pakaian kerjanya dan pakaian tidurnya.”


“Apa kamu sudah paham?”


Ariel mengangguk walaupun ia merasa penjelasan pelayan itu terlalu cepat baginya.


“Saya tidur di mana?” Ariel tahu ia akan menjadi asisten yang menginap.


“Di sebelah Tuan.”


“Apa?” Ariel memang melihat ada satu ranjang terpisah di sebelah ranjang besar hanya berbeda ukuran.


“Kamu terkejut?”


“Tapi saya wanita dan tuan laki-laki.”


“Tenang saja. Tuan tidak akan ngapa-ngapain kamu. Ini kebijakan Tuan supaya asistennya bisa cepat datang. Kalau kamar kalian terpisah, ia yang susah. Tuan tidak suka menghabiskan waktunya dengan percuma.”


Ariel nyaris pingsan. Tidur satu kamar? Walaupun Tuan Vincent tidak bisa melihat tapi Vincent tetap laki-laki dan ia perempuan. 


“Kamu bisa berhenti sekarang jika tidak mau,” ucap Vincent.

__ADS_1


“Tidak Tuan. Saya mau bekerja.” Ariel sedang membutuhkan uang saat ini. Ia juga merasa tidak enak karena sudah dibelikan sepatu mahal.


“Ini ruang untuk menaruh barang-barangmu.” Pelayan itu menunjukkan satu ruang untuk Ariel. 


Pelayan lainnya datang. “Tuan, sudah waktunya makan siang.”


Vincent mengambil tongkatnya dan mulai berjalan. Sejak matanya tidak bisa melihat ia belajar untuk menghafal jalan menuju ke ruang makan dari kamarnya. Lurus kedepan sepuluh langkah lalu belok kanan dua puluh langkah.


Mereka tiba di meja makan. 


Vincent duduk. “Duduklah.”


Ariel yang berdiri di samping Vincent, duduk di samping Vincent. 


Aku boleh makan di sini? Semeja dengan Tuan Vincent. Tetapi pelayan lainnya makan di dapur. Ariel merasa tidak enak karena ia masih baru bekerja dan makan semeja dengan Tuan Vincent.


Tetapi Ariel teringat pesan kepala pelayan. “Jangan pernah merasa tidak enak dengan kami. Posisi asisten Tuan itu posisi yang sangat penting.”


Ariel makan makanan yang sama dengan Vincent. Raut wajah Ariel terlihat begitu bahagia. Dia baru saja memakan makanan paling enak sedunia. 


“Makanannya enak?”

__ADS_1


“Sangat enak. Baru kali ini saya makan makanan selezat ini.” Ariel merasa senang.


Selesai makan, mereka kembali ke kamar. 


Vincent mengambil sebuah buku dan meminta Ariel untuk membacakan buku yang ia pilih. Ariel terkejut saat melihat sampul depan buku itu.


Apalagi saat melihat judul bukunya. Buku itu berjudul “Beragam posisi untuk pasangan suami istri.” Dengan ilustrasi wanita dan pria dengan tubuh polos mereka.


Apa aku boleh membaca buku ini? Tapi ini perintah Tuan Vincent. Ariel membuka halaman pertama. Ia mulai membaca. “Pada jaman dahulu kala lahir seorang putri dengan kulit putih bersih dan bibir yang berwarna merah.”


Buku apa ini? Ariel melihat sampul dan judul buku yang tidak sesuai dengan isi cerita. Kenapa bukunya jadi cerita putri salju.


“Lanjutkan,” ucap Vincent sambil menahan geli. Ia mau tertawa. Ekspresi Ariel pasti sedang kebingungan.


Ariel membaca paragraf selanjutnya. “Raja dan Ratu mengundang para peri. Mereka mengadakan acara untuk kelahiran sang putri.” Betulkan ini cerita tentang putri salju.


“Ha ... Ha ... Ha ...” Vincent sudah tidak bisa menahan tawanya.


Kenapa Tuan Vincent tertawa begitu kencang. Apa aku salah bicara?


“Sudah. Jangan dilanjutkan. Aku mau istirahat. Kamu juga harus tidur. Nanti malam kita akan bergadang.”

__ADS_1


Bergadang? Untuk apa?


__ADS_2