Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
A23 Sang Dewi


__ADS_3

Bambi muncul di panggung. Ia berjalan layaknya wanita. Banyak penonton yang bersorak untuknya. Terdengar siulan di mana-mana.


“Selamat malam semuanya.” Bambi memberikan senyum manisnya. “Nama saya Bambi. Bisa juga dipanggil ...” Bambi mengeluarkan suara prianya. “Bambang.”


Semua penonton tertawa. Bambi melanjutkan dengan suara perempuannya. “Saya akan membawakan lagu dari seorang Diva yang terkenal yaitu Titi DJ. Lagunya yang berjudul Sang Dewi. Semoga Anda sekalian bisa menikmatinya.”


Penonton bertepuk tangan.


Bambi memegang standing mic dan mulai bernyanyi.


“Walaupun jiwaku penah terluka. Hingga nyaris bunuh diri.” Bambi mengeluarkan suara prianya. “Pria ...” berlanjut dengan suara wanitanya. “... mana yang sanggup hidup sendiri di dunia ini.”


Lagu berakhir dengan tepuk tangan penonton. “Encore. Encore.” Penonton meminta Bambi menyanyi lagi.


“Saya akan bernyanyi satu lagi karena masih ada yang akan perform di panggung ini. Tepuk tangannya mana?”


Penonton bertepuk tangan.


Bambi bernyanyi satu lagi. Pertunjukkannya telah selesai dan diikuti oleh pertunjukkan dari orang berikutnya.


Bambi memasuki ruang ganti dan melihat putrinya yang sudah tertidur pulas. Ia membersihkan make-up di wajahnya dan mengganti pakaiannya lalu menggendong putri untuk pulang ke rumah.


“Cut.”


Syuting selesai.


Lokasi syuting berpindah cepat ke area sekolah di mana Violet bersekolah. Karena filmnya low budget jadi semua dilakukan dengan cepat.


Di sekolah.

__ADS_1


Syuting dimulai dengan aba-aba dari sutradara. “Ready. Action.”


Teman sekelas Violet berkumpul dan mengejek Violet. “Papa Violet bencong. Papa Violet bencong.”


“Papa Violet nggak bencong.” Violet membela ayahnya. Tetapi suasana semakin panas. Teman sekelas Violet tetap mengejek ayahnya.


Violet naik pitam dan memukul temannya. Temannya menangis dan akhirnya dipanggilah orang tua murid.


Bambang datang. Ia memonta maaf atas kelakuan putrinya. Sedangkan orang tua lainnya berkata, “Pasti karena Violet nggak punya mama jadi kelakuannya bar-bar begini."


“Maafkan kelakuan Violet. Saya akan mendidiknya lebih keras lagi.”


“Papa jangan minta maaf. Violet nggak salah. Mereka yang hina Papa.” Violet tak ingin ayahnya meminta maaf.


“Sekali lagi saya minta maaf.” Bambang membawa Violet pulang. Ia tak ingin memperpanjang urusannya karena sebentar lagi ia harus bersiap untuk show.


Bambang menggendong Violet di atas kepalanya.


“Papa kenapa tadi minta maaf? Violet nggak salah.”


“Tetapi memukul orang itu sudah salah.”


“Itu karena mereka ejek papa ben ...” Violet tak ingin mengucapkan kata bencong karena ia tak ingin menyakiti hati ayahnya.


“Violet itu pukulnya seperti apa?” Bambang mendongakkan kepalanya ke atas untuk melihat Violet.


“Seperti ini ...” Violet memperagakan tinjunya.


“Harusnya seperti ini biar mereka pingsan.” Bambang menunjukkan kepalan tangannya ke arah atas dagu Violet.

__ADS_1


“Nanti gigi mereka pasti rontok.”


Bambang dan Violet tertawa bersama membayangkan gigi ompong temannya.


Syuting hari pertama selesai dan akan dilanjutkan besok.


Hana dan Joshua pulang ke rumah.


“Mereka gerak cepat, Kak. Habis selesai syuting langsung berberes dan syuting di tempat lain.”


“Mereka nggak ada dana. Bahkan ada aktor yang nggak dibayar.”


“Benarkah?”


“Benar. Honorku juga separo dari biasanya.”


“Tapi aku punya feeling kalau filmnya bakal sukses besar.”


“Karena ada aku?”


“Karena ada Kakak. Juga karena cerita dan pemeran lainnya yang juga bagus.”


“Tapi bagaimana dengan aktingku?”


“Akting Kakak semakin bagus. Aku rasa ini akting Kakak yang terbaik selama ini.”


“Aku cuma punya satu kekuatiran. Bagaimana kalau Audrey besar nanti ia melihat aku berperan sebagai wanita.”


“Audrey pasti mengerti karena ini salah satu cara papanya menghidupi dirinya dan mamanya.”

__ADS_1


__ADS_2