Bukan Pengganti

Bukan Pengganti
A29 Satu Anak Sudah Cukup


__ADS_3

Hana dan Joshua pulang ke rumah setelah selesai berbulan madu. Joshua harus bekerja kembali.


“Ciuman untukku?” Joshua ingin dicium sebelum berangkat kerja.


“Harganya seratus ribu.”


“Mahal amat.”


“Itu sudah murah karena ada bonus satu ciuman.”


Joshua mengetik sesuatu di ponselnya. Ia mentransfer uang ke rekening Hana. “Aku baru aja transfer sepuluh juta ke rekeningmu.” Joshua memperlihatkan bukti tansfer m-banking ke Hana. “Itu artinya aku dapat seratus ciuman plus seratus ciuman. Jadi, totalnya dua ratus ciuman.”


Hana menyentuh pipinya dengan kedua tangannya “Nanti pipiku kempes.”. Tetapi Joshua membuka telapak tangan yang menutupi pipi Hana. Joshua mencium Hana berulang kali.


“Kak, stop. Terlalu banyak.”


“Siapa yang menjualnya terlebih dahulu.”


“Stop, Kak. Aku merasa mual.” Hana melepaskan dirinya dari pelukan Joshua. Ia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan apa yang baru saja ia makan saat sarapan tadi.


“Uwekkk ... Uwekkk ...”


Joshua cemas. Tetapi ia akhirnya sadar, “Han, kita itu terus-terusan begadang tiap malam, kan? Padahal seharusnya kamu minggu lalu halangan.” Joshua juga merasakan perubahan mood Hana seperti wanita hamil yang ngidam sesuatu.

__ADS_1


Hana tersadar. “Kak, apa mungkin aku ...”


Joshua mengambil test pack di laci nakas dan berharap-harap cemas. Semoga garis dua. Semoga garis dua.


“Kakak yang lihat. Aku takut lihatnya.” Hana memberikan test pack ke Joshua.


“Han, garisnya ada dua.” Joshua bersorak. Hana ikutan senang. Ia menyentuh perutnya. Tetapi mereka tetap memeriksakannya ke dokter dan dokter menyatakan Hana positif hamil.


Joshua memberi kabar ke ayah dan ibu Hana juga mama Terius. Mereka turut senang. Mama Terius langsung membelikan pakaian dan perlengkapan bayi yang high class dan bermerk. Ia seperti mendapat cucu dari Hana.


Joshua juga semakin bersemangat bekerja.


Tetapi komentar buruk tetap muncul kali ini dari reporter yang mewawancarai Joshua. “Apa benar Anda bisa mendapatkan peran karena mertua Anda?”


“Jangan kesal begitu. Nanti anak kita mirip reporter itu.”


“Amit-amit jabang bayi.” Hana mengetuk-ngetuk meja pendek di depannya.


Dan hari persalinan tiba. Joshua menemani Hana di ruang persalinan. Audrey lahir dengan selamat.


Di kamar.


“Halo anak Papa.” Joshua menggendong Audrey dengan bangganya. Ibu dan ayah Hana juga tidak mau kalah. Mereka juga ingin menggendong Audrey.

__ADS_1


Hana kembali pulang ke rumah bersama Audrey. Audrey terlihat begitu lengket dengan Joshua. Ia hanya tidur jika Joshua menyanyikan lagu pengantar tidur untuknya.


Hari ini juga sama. Hana menelpon Joshua yang sedang syuting di luar kota. Jika saja saat ini tidak ada Audrey, Hana pasti ikut Joshua.


“Audrey nggak mau tidur?”


“Iya. Ia mau dengar suara papanya.”


Joshua mulai berbincang dengan Audrey. “Anak Papa nggak mau bobo, ya.”


Audrey mencari asal suara. Ia mengenali suara ayahnya tetapi ia tidak mencium aroma ayahnya. Joshua mulai bernyanyi. Audrey perlahan tertidur.


“Audrey sudah tidur, Kak.” Hana bersuara pelan. Ia takut membangunkan Audrey.


“Kamu juga harus tidur.” Joshua melihat Hana yang terlihat lelah.


“Ternyata punya anak itu capek, Kak.”


“Ini baru satu. Gimana kalau ada adik Audrey?” Joshua ingat jika Hana ingin punya banyak anak.


“Kita cukup punya Audrey ya, Kak.” Hana mulai menguap.


“Aku mau tambah satu lagi. Daniel.” Joshua melihat Hana yang terlelap.

__ADS_1


Joshua menatap Hana lekat-lekat. Ia tak ingin memutuskan panggilan telepon walau yang empunya ponsel sudah berada di dunia mimpinya.


__ADS_2