
Ariel melangkah cepat menuju ke suatu tempat. Aku tidak boleh terlambat. Ariel hendak melamar pekerjaan menjadi asisten pribadi seseorang.
Siapa dia? Ariel juga tidak tahu. Yang ia tahu, ia harus bisa mendapatkan pekerjaan itu.
Sesampainya di tempat wawancara, Ariel bisa melihat tidak hanya dirinya yang melamar untuk pekerjaan ini tetapi banyak pelamar lainnya.
Satu persatu para pelamar dipanggil.
Sekarang giliran Ariel. Ariel memperkenalkan dirinya. “Nama saya Ariel.”
Sementara itu di sebelah ruangan wawancara, ada yang mengawasi para pelamar.
“Pelamar kali ini cantik-cantik.”
“Ini bukan ajang pemilihan putri.”
“Pelamar yang masuk sekarang menarik. Tubuhnya bagus.”
“Aku butuh asisten. Bukan model.”
“Sudah banyak pelamar, tetapi kenapa tidak ada yang cocok? Sebenarnya apa persyaratanmu?”
“Cuma satu. Manusia.”
Orang yang mendengarnya hanya mendengus kesal. Sudah ratusan pelamar yang diwawancarai tetapi tidak ada yang cocok.
__ADS_1
Tetapi saat Ariel masuk dan memperkenalkan dirinya.
“Itu dia. Ia yang akan menjadi asistenku. Suruh dia bekerja mulai sekarang.” Pria itu mengeluarkan tongkat dan memanjangkannya. Ia mulai berjalan sambil menggerakkan tongkat itu di depannya.
Abu menghubungi pewawancara dan memberitahu jika Ariel yang terpilih.
“Ariel. Selamat. Kamu diterima bekerja mulai detik ini. Silahkan menuju ke ruang sebelah. Untuk pelamar lainnya diperbolehkan pulang,” ucap pewawancara yang mulai membereskan barang-barang di depannya.
Ariel segera menuju ke ruangan sebelah. Ia melihat seorang buta yang sedang berjalan.
“Sekarang kamu yang akan membantunya,” ucap Abu.
Ariel bingung dengan tugasnya. Tetapi Ariel tetap berjalan di samping pria yang bernama Vincent itu. Pria yang menjadi bosnya.
“Hati-hati. Ada tangga di depan,” ucap Ariel.
Supir membukakan pintu untuk Vincent. Ariel berjalan mendampingi Vincent.
“Selamat datang di toko kami Tuan Vincent.” Pegawai toko menyambut Vincent dengan baik dan ramah.
“Ambilkan sepatu untuk ... Siapa namamu?”
“Nama saya Ariel, Tuan.”
“Ambilkan sepatu untuk Ariel.”
__ADS_1
“Baik. Silahkan Tuan Vincent duduk sebentar. Kami akan segera membawa sepatu untuk nona Ariel.” Pelayan itu pergi mencari sepatu dan pelayan lainnya mendampingi mereka untuk masuk ke ruang tunggu VVIP.
Ariel yang seumur-umur belum pernah masuk ke toko sepatu branded dibuat kagum. Biasanya ia kan membeli sepatu di pasar atau melalui online yang harganya paling mahal 50 ribu. Belum lagi ruang tunggu yang eksklusif untuk tamu penting mereka.
Pelayan membawakan berbagai sepatu untuk Ariel. Ariel melihat harganya. Wow. Sepuluh juta. Di pasar bisa dapat 200 pasang sepatu. Seumur hidup juga tidak habis dipakai.
“Tuan, saya tidak punya uang sebanyak ini. Harga sepatunya terlalu mahal.” Ariel sedang bokek.
“Aku yang membelinya untukmu. Heel sepatu kananmu copot, kan? Pilih yang kamu suka.”
Bagaimana tuan Vincent tahu? Dia kan tidak bisa melihat. Dalam perjalanannya menuju tempat wawancara, heel sepatu Ariel copot. Ariel yang terdesak waktu memutuskan untuk tetap memakai sepatunya yang rusak.
“Terima kasih, Tuan.” Ariel mencoba dan memilih satu pasang yang cocok di kakinya.
Pelayan itu membungkus sepatu lama Ariel. Sekali lagi Ariel mengucapkan terima kasih. “Terima kasih, Tuan.”
Mereka lalu tiba di rumah tuan Vincent. Ariel melihat rumah yang bergaya Amerika itu. Rumah terbesar yang pernah ia lihat.
“Ariel ...” Supir itu mengagetkan Ariel. Ariel buru-buru turun dari mobil dan mendampingi Vincent yang sudah berjalan beberapa langkah.
Saat memasuki bagian dalam rumah, Ariel juga terkagum-kagum. Berbagai lukisan terpampang di dinding.
Ariel menemani Vincent sampai di depan kamarnya. Ia bingung apakah ia boleh masuk atau tidak.
“Masuklah.”
__ADS_1
Ariel masuk ke dalam kamar.