
Ellen memanaskan makanan dengan microwave untuk sarapan. Segala pertanyaan yang diajukan untuknya oleh Arman, tidak ia jawab.
Arman bingung harus bersikap bagaimana saat seperti ini. Ia tahu ia salah. Tapi ia juga sudah meminta maaf. Ia bingung harus meminta maaf seperti apa.
Ia berpamitan untuk kerja. Ellen masih saja diam.
“Kai ... bye ... bye ...” Arman mengecup Ellen dan Kai.
Sore harinya.
Arman bertanya lagi ke Ellen. “El, kenapa kamu hanya diam?” Arman harus meluruskan semua kesalahpahaman.
“Aku cuma capek. Aku ingin menghemat tenagaku.”
“Kita bisa mempekerjakan baby sitter untuk Kai.”
Ellen ingin merawat putranya sendiri. Tetapi jika memang kewalahan ada baiknya ia mendapatkan bantuan. Mereka memutuskan untuk mempekerjakan baby sitter.
Keesokkan harinya datang baby sitter untuk membantu Ellen merawat Kai. Gadis itu bernama Mawar. Ia masih terlihat begitu muda.
“Usiamu berapa?” tanya Ellen.
“Sembilan belas tahun,” jawab Mawar.
Mawar yang memang menyukai anak-anak langsung akrab dengan Kai. Ellen bisa mengistirahatkan dirinya. Tetapi setelah beberapa lama Mawar tidak datang dan tidak memberi kabar.
__ADS_1
Ellen sendirian lagi menjaga Kai. Tetapi ia sudah cukup kuat untuk menjaga Kai.
“Kai ...” Arman memanggil Kai yang sudah mulai belajar merangkak. Ia mencontohkan bagaimana seharusnya Kai merangkak. Kai hanya tertawa melihat ayahnya yang sedang menungging.
Ellen langsung menelungkupkan dirinya ke punggung Arman. Kai tertawa lagi.
“Senyum Kai itu manis.” Ellen melihat Kai yang tersenyum lebar.
“Siapa dulu papanya.” Arman memuji dirinya. Sepertinya DNA Arman begitu kuat di diri Kai.
“El, kamu berat.” Arman mulai merasa lelah menahan bobot tubuh Ellen. Ellen bangkit dan duduk di lantai.
“Apa ada berita tentang Mawar?” Ellen mengkhawatirkan Mawar.
“Mawar sepertinya menjadi TKW di luar negri.”
Satpam yang berada di depan rumah membawa makanan yang dipesan Ellen via online. Ellen memberikan satu box nasi dan lauk untuk satpam itu.
“Terima kasih, Nyonya.”
“Sama-sama. Dimakan langsung, Pak. Mumpung masih anget.”
“Baik Nyonya. Saya permisi.”
Arman duduk di kursi meja makan setelah mendudukan Arman di kursi anak. “Kamu beli apa?”
__ADS_1
“Aku beli pizza.” Aroma pizza menyeruak.
Arman mengambil satu potong. Kai tampak tertarik dengan pizza. “Kai mau? Kai belum boleh makan ini.” Tetapi Arman tetap menyuapi Kai satu potong kecil pinggiran roti yang empuk.
“Kai mau lagi?” Arman melihat Kai yang menjulurkan tangannya meminta roti. Arman menyuapi Kai lagi. Ellen datang membawa makanan MPASI untuk Kai yang sudah mulai mencoba makanan lembut.
“Ini lebih enak Kai.” Ellen menyuapi Kai. Kai yang suka makan langsung menghabiskan makanannya. Karena kekenyangan ia tertidur.
Ellen melihat Kai yang sedang dibaringkan oleh Arman di box bayinya. “Jadi bayi itu enak, ya. Makan, tidur, main. Seperti nggak ada beban. Apalagi kalau lihat mereka tidur, rasanya itu damai.”
Arman berbaring di sebelah Ellen. “Kadang aku iri sama Kai.”
“Kenapa?”
“Kai sepanjang waktu selalu bersamamu. Sedangkan aku harus berada di kantor.”
“Itu namanya ayah yang bertanggung jawab. Tapi saat malam, aku itu milikmu.” Ellen mencium Arman. Ciuman itu menjadi semakin panas.
“Arman ...”
“El ...”
Mereka melakukannya.
Arman memeluk Ellen. “Sudah waktunya bagi kita untuk tidur juga.”
__ADS_1
Ellen terlelap dalam pelukan Arman.
End.