
“Tidak. kita lompati aja fase pacarannya. Kalian langsung menikah. Biar langsung bisa buat anak. Biar aku bisa gendong ponakan.” Prince mengutarakan pendapatnya.
“Kamu itu ...” King kesal disuruh-suruh.
“Mawar keberatan?” Prince bertanya.
“Tidak,” jawab Mawar.
“King, Mawar tidak keberatan menikah denganmu. Besok aku bawa penghulu ke sini. Hari ini jadwal penghulu sudah padat,” ucap Prince.
Kepala pelayan langsung menghubungi butik mewah yang menyediakan gaun pengantin. Mawar diminta untuk mencoba gaun pengantin yang ia kenakan besok. Pelayan yang lain bertugas mendekorasi taman tempat mereka menikah.
Sedangkan para koki mulai mempersiapkan hidangan yang akan disuguhkan besok.
Keesokkan harinya. Penghulu itu benar-benar datang. Mawar tidak menyangka siapa sosok penghulu itu. Ia ternyata Prince. Prince yang akan menikahkan mereka.
King tak ingin punya banyak tamu. Ia tak suka memperlihatkan wajahnya. Akan ada orang yang akan bergosip tentang wajahnya. Ia tak mau dikasihani.
Hanya para pelayan yang menjadi saksi pernikahan Mawar dengan King.
“Hari ini aku menikahkan kalian. Kalian sekarang resmi menjadi sepasang suami istri. Silahkan pengantin pria mencium pengantin wanita.”
King mencium Mawar. Para pelayan bersorak.
Hidangan disajikan. Mereka memakannya.
__ADS_1
Malam pertama mereka.
Mawar dan King berada di kamar pengantin mereka yang sudah dihias sedemikian rupa oleh pelayan. Hiasan yang norak. King tidak suka banyak barang di kamarnya.
Mawar menunggu di ujung ranjang. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. King juga tidak berbuat apa-apa padahal ini malam pertama keduanya.
Prince mengetuk pintu kamar pengantin mereka. “Kenapa tidak ada suaranya? Kalian masih hidup, kan?”
“Berisik ...” King menyahut dari dalam.
“King, buka baju Mawar. Buka bajumu juga. Selanjutnya tidak perlu aku jelaskan lagi, kan? Atau mau aku ajari dari sini?” ujar Prince lagi.
“BERISIK ...” King mulai marah dengan Prince. Ia melempar sepatunya.
“BERISIK ... PERGI atau aku akan meminta pelayan memenggal kepalamu.”
“Sadis. Aku ini yang sudah menyatukan kalian. Kamu juga tidak bisa memenggal kepalaku. Lagipula aku harus pergi sekarang untuk menikahkan pasangan yang lain. Bye.”
Prince pergi untuk melakukan tugasnya sebagai penghulu.
Di dalam kamar. King melihat Mawar. Mawar melihat King.
King melihat Mawar yang sedang kesulitan melepas gaun pengantinnya. “Sini aku bantu.”
Insting King mulai bergerak. Dimulai dari situ mereka berlanjut ke langkah selanjutnya.
__ADS_1
Prince ternyata masih menguping di depan pintu. Bagus. Suara ini yang ingin aku dengar. Tugasku sudah selesai.
...***...
Kehidupan pernikahan Mawar dan King baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran yang berarti.
Seperti saat ini di mana King sedang asyik dengan ponselnya. Mawar merasa tidak diperhatikan. “Kak, jangan lama-lama menggunakan ponsel. Mata Kakak itu tinggal satu. Maaf, aku sudah menyinggung Kakak.”
“Kakak harus menerapkan pola 20-20-20.,” saran Mawar.
*20-20-20 20 menit di layar, 20 kaki, 20 detik. Setelah dua puluh menit menatap layar disarankan untuk melihat objek sejauh 20 kaki selama 20 detik.
“20-20-20 itu artinya 20 kali, 20 posisi, 20 ...” King berkata hal yang lain.
“Malu aku malu pada semut merah ...” Nyanyi Mawar yang nggak nyambung. “Kakak, ada semut.”
“Nggak ada semutnya. Eh, ada.”
King mengambil kertas dan mengeluarkan semut itu. “Semut, jangan kembali lagi nanti matamu jadi berdosa.”
“Berdosa karena apa?”
“Karena melihat kita begini.” King mencium Mawar dan ...
End.
__ADS_1